Senin, 19 Agustus 2019

 Headline
MALUT POST / / Oknum PNS Cabuli 3 Siswa SMP

Oknum PNS Cabuli 3 Siswa SMP

Diposting pada 24/02/2018, 09:57 WIT
Ilustrasi
Ilustrasi

DARUBA – Sungguh malang nasib EY (15), M (11), dan A (12). Tiga siswa salah satu SMP swasta di Pulau Morotai ini diduga menjadi korban pencabulan oknum aparatur sipil negara (ASN). Hingga kini, ketiganya masih mengalami trauma mendalam akibat pelecehan seksual tersebut.
Peristiwa tak menyenangkan itu terjadi Sabtu (17/2) lalu sekira pukul 10.30 pagi. Saat itu, EY, A, dan M bersama ketiga rekannya tengah bermain bola di halaman kantor Dinas Perpustakaan Daerah Morotai yang tak jauh dari sekolah mereka. Salah satu  dari mereka lalu menendang bola yang lantas mengenai dinding kantor.
Mendengar bunyi bola memantul di dinding, MD alias Bayu (27) yang merupakan Bendahara Pembantu di Dinas Perpustakaan lalu keluar dari kantor dan menyita bola tersebut. Para siswa lantas melarikan diri balik ke sekolah lantaran takut dimarahi Bayu. Sesampainya di sekolah, EY, M, dan A memutuskan kembali ke kantor untuk mengambil bola mereka.
Setibanya di kantor, ketiga korban langsung menemui Bayu. Pria lajang itu lalu mengancam akan melaporkan tindakan ketiganya ke kepala sekolah, guru, polisi, dan orangtua. ”Jadi Bayu sampaikan kepada ketiga korban, mau dapat hukuman atau dia laporkan perbuatan ketiga korban kepada kepsek, guru, polisi dan orangtua. Mendengar penyampaian Bayu, ketiga korban meminta untuk dihukum saja," ungkap guru Bahasa Indonesia yang juga wali kelas IX Jacklyn Syh mengutip pengakuan korban kemarin (23/2).
Begitu para korban bersedia dihukum, Bayu lantas menyuruh M kembali ke sekolah untuk memanggil tiga teman lainnya. Saat M pergi, pelaku menyuruh A menunggu di depan kantor, sementara EY diminta masuk ke kantor.
Di dalam ruangannya, Bayu menyuruh siswa kelas IX itu menonton film porno di laptopnya. EY yang takut dimarahi guru meminta Bayu mematikan laptopnya. Bayu menurutinya, namun sebagai gantinya ia lalu membuka celana korban dan memainkan (maaf) kemaluan korban. "Setelah EY, Bayu kemudian memanggil A dan melakukan hal yang sama yang dia lakukan ke EY," tutur Jacklyn.
Usai mencabuli EY dan A, Bayu gantian mencabuli M yang sudah kembali setelah gagal memanggil tiga teman lainnya. Sebelum melakukan perbuatan asusila terhadap M, pelaku terlebih dulu memberikan uang Rp 10 ribu kepada EY dan A dan meminta keduanya pergi membeli air mineral di warung. Ketika EY dan A pergi ke warung, Bayu menarik M masuk ke dalam ruangan, melucuti semua pakaiannya, lalu mengisap (maaf) kemaluan korban. ”Akibat kejadian tersebut, M yang usianya baru 11 tahun mengalami trauma yang cukup berat, sehingga sampai saat ini belum bisa masuk sekolah," jelas Jacklyn.
Trauma yang dialami membuat ketiga korban menceritakan kejadian tersebut kepada orangtua dan guru mereka. Pihak sekolah lalu mendampingi korban untuk membuat laporan polisi Senin (19/2) lalu. Saat ini, Bayu telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan untuk penyidikan lebih lanjut.
Jacklyn yang juga sebagai pelapor mengaku masalah tersebut juga telah dilaporkan ke Dinas Sosial, Dinas Pendidikan dan Komisi Perlindungan Anak. Dia berharap, dengan keterlibatan banyak pihak kasus tersebut dapat dikawal hingga tuntas. "Kami berharap agar kasus ini diproses sesuai hukum yang berlaku. Karena kalau dibiarkan maka dikhawatirkan ada anak lain yang bakal menjadi korban," tegasnya.
Sementara tersangka Bayu saat diinterogasi polisi mengaku menghukum para korban atas permintaan mereka sendiri. Pasalnya, ketiganya takut diadukan ke sekolah maupun orangtua. ”Saya suruh mereka menghafal. Lalu saya tanya kalian sudah sunat belum? Mereka jawab sudah. Terus saya bilang sudah sunat kok tidak bisa baca larangan bermain bola di kantor sini? Lalu saya bilang coba saya lihat (sunatannya, red),” tuturnya.
Pernyataan Bayu ini dibantah korban A. A mengaku, tersangka menyuruh korban membuka celana lalu memegang-megang kemaluan korban. Atas perbuatannya, Bayu langsung dijebloskan ke penjara untuk diproses lebih lanjut.
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Morotai AKP Dwi Yanuar Mukti, SIK ketika dikonfirmasi membenarkan laporan kasus tersebut telah diterima sejak Senin lalu. Saat ini pelakunya tengah ditahan di sel Polres. "Iya, kita sudah proses laporan kasus dugaan pencabulan dan pelakunya sudah kita tahan. Untuk perkembangan selanjutnya, besok (hari ini, red) kita ekspos," katanya.(din/kai)

PENCABULAN JADI "HUKUMAN"

* Sabtu (17/2), enam siswa SMP swasta di Morotai, yakni EY (15), M (11), A (12) dan ketiga rekannya bermain bola di halaman kantor Dinas Perpustakaan Daerah
* Bola mereka mengenai dinding kantor
* Anak-anak sempat melarikan diri lalu kembali mengambil bola yang ditahan pelaku MD alias Bayu (27)
* Pelaku yang juga pegawai di kantor tersebut memanfaatkan kesalahan itu untuk menghukum EY, M, dan A
* Ketiganya dimasukkan ke dalam kantor lalu dicabuli sebagai bentuk “hukuman”
* Ketiga korban mengalami trauma dan melaporkan pada guru
* Pelaku saat ini sudah ditahan untuk proses lebih lanjut

 

Share
Berita Terkait

Warga Antusias ke TPS

18/04/2019, 12:43 WIT

Oknum PNS Cabuli 3 Siswa SMP

24/02/2018, 09:57 WIT

Diduga Selingkuh, Guru Dianiaya

09/02/2018, 14:08 WIT

Bantuan untuk Nelayan Disalurkan

13/02/2018, 15:04 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan