Selasa, 18 September 2018

 Headline

Warga Jerman Rakit Bom di Kamp Taliban

Diposting pada 03/03/2018, 15:04 WIT
Ilustrasi
Ilustrasi

KABUL – Jika hanya mendengar namanya, publik tidak akan menyangka bahwa Abdul Wadood bukan warga Afghanistan atau anggota Taliban. Tapi, begitu berjumpa dengannya, orang langsung mengidentifikasi Wadood sebagai orang asing. Senin malam (26/2) dia tertangkap basah meracik bom bersama tiga temannya sesama milisi Taliban. Kini lelaki asal Jerman itu ditahan di Kandahar.

’’Warga Jerman tersebut menyebut namanya sebagai Abdul Wadood. Dia tidak menyebutkan nama Jerman-nya,’’ kata Mayor Abdul Qadir Bahdurzai sebagaimana dilansir BBC kemarin (2/2). Wadood ditangkap di sisi selatan Provinsi Helmand, persisnya di Distrik Gereshk. Militer Afghanistan menyatakan, dia sudah delapan tahun menjadi milisi Taliban.

Tidak ada perlawanan berarti dari Wadood saat aparat membekuknya malam itu. Tapi, dia hanya bisa berbicara dalam bahasa Jerman. Maka, militer Afghanistan membawanya ke ibu kota Provinsi Kandahar untuk menjalani interogasi pada Rabu (28/2). Jarak Helmand dan Kandahar berkisar 197,7 kilometer.

Kehadiran milisi asing dalam tubuh Taliban bukan fenomena baru. Namun, baru kali ini aparat menangkap milisi asing asal Jerman. VOA melaporkan, negara Eropa yang menyumbangkan milisi terbanyak di Afghanistan adalah Rusia dan Prancis.

Kepada Reuters, militer Afghanistan menyebut penangkapan Wadood tersebut sebagai fenomena langka. ’’Milisi asing itu memiliki jenggot yang panjang. Dia juga memakai jubah ala Taliban dan sorban di kepalanya,’’ kata Bahdurzai, petinggi militer Afghanistan dari Korps 215. Dia menduga, Wadood berusia 30–40 tahun.

Kepala Polisi Gereshk Ismail Khplwak menyebut Wadood sebagai penasihat militer Mullah Nasir. Nasir adalah komandan pasukan elite Taliban di Helmand yang dikenal dengan nama Red Unit. ’’Jarang ada milisi asing yang punya jabatan penting dalam tubuh Taliban,’’ katanya.

Sejauh ini milisi asing Taliban yang paling tenar adalah John Walker Lindh alias American Taliban. Pria Amerika Serikat (AS) tersebut dibekuk pada 2002 dan diganjar hukuman 20 tahun penjara.

Bersamaan dengan tertangkapnya Wadood, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menawarkan perdamaian kepada kelompok radikal yang terbentuk pada 1994 di wilayah selatan Kandahar itu. Pria 68 tahun tersebut kembali mengajak Taliban untuk menjadi partai politik agar punya kesempatan berkiprah dalam pemerintahan. Syaratnya hanya satu, Taliban mau meninggalkan jalur radikal.

Namun, Taliban menolak. Bahkan, kelompok itu diyakini berada di balik ledakan bom bunuh diri yang menewaskan satu orang di Kota Kabul kemarin. ’’Belum ada kelompok yang mengklaim serangan tersebut. Tapi, ada dugaan ke sana (Taliban, Red),’’ kata Bismillah Tabaan, salah seorang pejabat kepolisian setempat. Selain menewaskan satu orang, ledakan itu mengakibatkan 14 orang terluka.

Selasa malam lalu (27/2) dua serangan Taliban menyasar bus di Provinsi Kunduz dan pos polisi di Kandahar. Akibatnya, enam polisi tewas. Dalam dua aksi terpisah tersebut, Taliban juga menculik 30 orang. Sebanyak 19 di antaranya adalah polisi. (JPG/fai)

Share
Berita Terkait

Rakyat Cabut Mandat BN

11/05/2018, 13:04 WIT

Pedrosa Terancam Absen Di Austin

12/04/2018, 12:40 WIT

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,99%)       :       (16,01%)

Dahlan Iskan