Selasa, 18 September 2018

 Headline

Samsudin Adam, PTT Paling Rajin di Pemerintah Provinsi Maluku Utara

Diposting pada 13/03/2018, 10:56 WIT
DEDIKASI: Samsudin Adam saat ditemui di ruang kerjanya yang juga tempat penyimpanan peralatan elektronik milik Pemprov Malut, Senin (12/3). RUSDI ABDURRAHMAN/MALUT POST
DEDIKASI: Samsudin Adam saat ditemui di ruang kerjanya yang juga tempat penyimpanan peralatan elektronik milik Pemprov Malut, Senin (12/3). RUSDI ABDURRAHMAN/MALUT POST

Sampai Hafal Tingkat Kehadiran Para Kadis

Delapan tahun Samsudin Adam mengabdikan diri sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT). Meski gaji pas-pasan dan didapat tak tentu waktu, ia tak pernah berpikir untuk berganti profesi. Tak sekadar pakai seragam, Samsudin boleh dibilang sebagai pegawai paling rajin di Pemerintah Provinsi Maluku Utara.

Rusdi Abdurrahman, Sofifi

Keringat di badan Samsudin Adam belum kering. Ia bahkan harus melepas seragam Satpol PP-nya agar tak basah dan bau, menyisakan kaos oblong Satpol di badan. Wajahnya kelelahan, maklum baru saja tuntas membereskan fasilitas untuk upacara Senin (12/3) kemarin.
Samsudin merupakan satu dari 300 Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Pemerintah Provinsi Malut. Bayarannya tak berbeda dengan PTT lain, yakni Rp 1,5 juta per bulan. Meski begitu, Samsudin boleh disebut sebagai tenaga honorer paling rajin. Ia tak pernah absen masuk kantor. ”Kalaupun sakit atau ada halangan lain, baru minta izin,” katanya saat berbincang dengan Malut Post kemarin.
Pemprov Malut terkenal dengan jam kantornya yang hanya empat hari dalam seminggu. Yakni Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Pada hari Jumat dipastikan tak ada lagi aktivitas perkantoran lantaran sebagian besar pegawai dan pimpinan SKPD berdomisili di Ternate.
Namun berbeda halnya dengan Samsudin. Suami Nurhayati Ikram ini selalu datang ke kantor, bahkan hingga Jumat. Pada Jumat, ia datang untuk memastikan keamanan Kantor Gubernur. Reputasi Samsudin tersebut sudah dikenal para pegawai.
Menariknya, Samsudin selalu menjadi orang pertama yang tiba di kantor dan orang terakhir yang meninggalkan kantor. Sebelum pukul 7.30 WIT ia sudah berada di kantornya. Pada jam-jam normal, di atas pukul 16.30 barulah ia meninggalkan kantor. ”Tapi kalau masih ada Pak Gub atau Pak Wagub di kantor, sampai malam saya belum bisa pulang. Kadang selesai Magrib, bahkan sampai Isya, kalau mereka sudah pulang baru saya pulang. Makanya siapa saja pimpinan SKPD yang berkantor atau tidak, saya tahu setiap hari. Tapi itu bukan tugas saya untuk mengabsen," tuturnya sambil tertawa.
Tempat kerja Samsudin adalah ruang berukuran 3x3 di bagian paling depan Kantor Gubernur Malut di Sofifi. Yang ada di dalam ruangan tersebut hanyalah tumpukan alat dan perkakas elektronik. Sebagai anggota Satpol PP, pria berusia 36 tahun ini diperbantukan di Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah. Hampir semua pegawai yang berkantor di ibukota Sofifi tahu dimana harus menemukan ayah dua anak ini.
Samsudin menjadi PTT sejak 2010, semenjak aktivitas Pemprov resmi dipindahkan dari Ternate ke Sofifi. Di tahun pertamanya mengabdi, ia hanya dibayar dengan ucapan terima kasih selama setahun. ”Saat itu banyak teman-teman PTT yang undur diri karena tidak dapat upah. Saya salah satu yang bertahan,” ujarnya.
Pada tahun kedua, Samsudin mulai diberi honor Rp 1 juta per bulan. Bayaran ini berjalan hingga kurang lebih tiga tahun, kemudian naik menjadi Rp 1,5 juta hingga kini. Namun sebagai PTT, ia dan rekan-rekannya baru mendapat bayaran dua bulan sekali, bahkan tiga bulan sekali.
Diperbantukan di Biro Umum dan Perlengkapan, tugas Samsudin adalah menyiapkan fasilitas sound system untuk tiap kegiatan Pemprov. Ia juga diberi tanggung jawab memperbaiki jaringan listrik di Kantor Gubernur jika mengalami kerusakan. Untuk tugas bantuan ini Samsudin diberi upah tambahan Rp 1,5 juta per bulan.
Namun layaknya PTT, pembayaran gaji Samsudin disesuaikan dengan keuangan daerah. Saat ini saja sudah tiga bulan belakangan ia dan rekan-rekannya belum menerima bayaran apapun. Baik gaji honorer maupun upah tugas pembantuan. Meski begitu, Samsudin kadung betah jadi PTT di situ. ”Ini (jadi PTT, red) sudah jadi pilihan. Konsekuensi pekerjaan harus diterima, meski itu berat," katanya.
Samsudin berprinsip, setiap manusia memiliki rezeki yang telah diatur. Tak heran, meski upah yang diterima tak menentu tak pernah sekali pun ia bolos masuk kantor. ”Buktinya meski belum dapat gaji, tetap saja ada rezeki tambahan. Apalagi kalau ada kegiatan besar, pasti ada uang tambahan dari panitia. Tidak besar, tapi bisa bertahan beli bensin dari kampung ke sini," ungkapnya.
Samsudin sendiri berdomisili di Desa Tabadamai, Kabupaten Halmahera Barat. Jaraknya kurang lebih 3 kilometer dari Kantor Gubernur. Setiap hari Samsudin ke kantor menggunakan Supra tua yang sudah dimilikinya sejak masih duduk di bangku SMA.
Selain menjadi PTT, Samsudin juga memanfaatkan sisa waktunya di rumah untuk berkebun. Ia menanam cengkih pada hari libur. "Kalau Sabtu dan Minggu saya ke kebun, karena ada tanah kurang lebih 2 hektare yang dibuka untuk tanaman cengkih," terangnya.
Bermodalkan ijazah SMA, Samsudin berharap bisa diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Sebelumnya ia pernah mengikuti tes pengangkatan namun tak lulus. "Saya sudah sekali ikut tes tahun 2014 lalu, masih menggunakan sistem tertulis. Beberapa teman yang juga pegawai PTT lulus, tapi saya tidak lulus. Setelah itu tidak lagi dibuka tes," kisahnya.
Samsudin mengaku khawatir dengan usianya saat ini yang telah menginjak angka 36. Pasalnya, batas maksimal menjadi PNS adalah 37 tahun. Meski begitu, dia masih sedikit tenang sebab beberapa temannya saat ini telah berusia 40 tahun namun masih bertugas sebagai PTT. "Masih ada teman-teman yang di atas 40 tahun. Harapan kami bersama mungkin diangkat tanpa tes," harapnya.
Data Badan Kepegawaian Daerah Malut menunjukkan, saat ini jumlah PTT yang masuk data base Pemprov berjumlah 300 orang. Selama bekerja mereka hanya diberikan honor Rp 1,5 juta per bulan, tanpa uang makan dan transportasi. Kondisi ini jauh berbeda dengan PNS. Selain mendapatkan gaji bulanan, juga diberi tunjangan jabatan, plus uang makan dan transportasi yang dihitung setiap kali kehadiran. Sayangnya, tingkat kehadiran para PNS di Pemprov kalah jauh dibandingkan seorang Samsudin Adam.(udy/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,99%)       :       (16,01%)

Dahlan Iskan