Sabtu, 20 Oktober 2018

 Headline

Kapolda Malut Berganti

Diposting pada 09/04/2018, 12:37 WIT
BRIGJEN (Pol) Achmat Juri & BRIGJEN (Pol) M. Naufal Yahya
BRIGJEN (Pol) Achmat Juri & BRIGJEN (Pol) M. Naufal Yahya

TERNATE – Kepolisian Republik Indonesia kembali melakukan mutasi besar-besaran. Kali ini, 281 perwira tinggi (pati) dan perwira menengah (pamen) yang berganti jabatan. Termasuk didalamnya Kapolda Maluku Utara Brigjen (Pol) Achmat Juri dan Kapolres Halmahera Barat AKBP Bambang Wiriawan.
Brigjen (Pol) Achmat Juri yang baru bertugas selama 10 bulan itu digantikan mantan Wakapolda Kalimantan Timur Brigjen (Pol) M. Naufal Yahya. Achmat dipromosikan sebagai Kapolda Nusa Tenggara Barat menggantikan Brigjen Firli yang kini menjadi Deputi Penindakan di Komisi Pemberantasan Korupsi. Sementara AKBP Bambang Wiriawan didaulat menjabat Wadirpolair Polda Bali. Posisinya digantikan mantan Kasubdit I Ditreskrimum Polda Malut AKBP Deny Heryanto. Pergantian tersebut tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/964/IV/2018 tanggal 8 April 2018.
Brigjen (Pol) M. Naufal Yahya, kapolda baru Malut, merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1988. Sebelum menjadi Wakapolda Kaltim, ia pernah menjabat sebagai Ses NCB Interpol Indonesia Divisi Hubinter Polri.
Kabid Humas Polda Malut AKBP Hendri Badar membenarkan adanya pergantian Kapolda tersebut. Menurutnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian merotasi sejumlah pati maupun pamen. ”Jadi Telegram Rahasia (TR) sudah keluar, kita tunggu serah terima jabatannya saja,” katanya saat dikonfirmasi kemarin (8/4).
Dijelaskan Hendri, terhitung semenjak TR tersebut keluar, formalnya 14 hari baru dilakukan serah terima jabatan. Akan tetapi, kata mantan Wakapolres Tikep ini, sertijab bisa saja dilakukan kurang dari 14 hari, tergantung situasinya. ”Tergantung situasinya, nanti kita lihat kapan. Sertijab ini akan dilakukan di Jakarta. Saat ini kita belum pastikan kapan,” jelasnya.
Hendri juga menyampaikan bahwa mutasi tersebut merupakan murni sebagai penyegaran institusi. Promosi ini, katanya, tentu sangat bagus karena Brigjen Achmat Juri mendapat promosi jabatan dengan menduduki jabatan Kapolda NTB yang levelnya lebih tinggi dari Polda Malut. ”Ini sangat bagus karena Pak Kapolda dapat promosi, yang berarti akan naik ke pangkat bintang dua (Irjen, red),” terang Hendri.

Kasus Banggai
Sementara itu, Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen I Ketut Argawa yang baru sekitar tiga bulan menjabat juga dimutasi dan digantikan oleh Brigjen Ermi Widyatno yang sebelumnya menjabat Wakapolda Riau. Pencopotan yang cukup singkat itu dikabarkan karena kasus kerusuhan Luwuk, Banggai.
Sesuai dengan surat telegram Kapolri, Brigjen I Ketut Argawa dimutasi menjadi Karorenmin Itwasum Polri. Dia menduduki posisi yang sebelumnya dijabat Brigjen H. E. Permadi yang kemudian menjabat posisi yang ditinggalkan Ermi, Wakapolda Riau.
Kasus kerusuhan Banggai sendiri diawali eksekusi lahan, dimana sengketa telah terjadi bertahun-tahun dan menjadi masalah yang tak kunjung usai di luwuk. Kasus ini begitu mencuat, saat Wakapolri Komjen Syafruddin memberikan perhatian atas kejadian pembubaran ibu-ibu yang sedang melakukan pengajian sebagai bagian penolakan eksekusi. Sebelum Kapolda, Kapolres Banggai AKBP Heru Pramukarno juga dicopot.
Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menampik bila disebut bahwa pencopotan Kapolda Sulteng akibat kasus kerusuhan di Luwuk, Banggai. ”Setahu saya ini mutasi rutin, //tour of duty// dan //tour of area//,” paparnya kemarin.
Menurutnya, banyak pati dan pamen yang mendapatkan amanah di jabatan baru. ”Ini penyegaran, tidak ada kaitan soal Banggai,” papar mantan Wakabaintelkam tersebut.
Sementara Pengamat Kepolisian Institut for Security and Strategic Studies (ISeSS) Bambang Rukminto menuturkan, soal pencopotan kapolda Sulteng akibat kasus Banggai itu wajar menjadi asumsi masyarakat. ”Walau kasus Banggai ini tidak bisa disalahkan langsung ke atasannya. Itu ulah anak buahnya,” jelasnya.
Terlepas dari itu, Kapolda memang harus lebih mampu membuktikan memiliki kemampuan mengantisipasi situasi dan kondisi di wilayahnya. ”Jauh sebelum kasus terjadi,” terangnya.
Kuncinya, ada pada inventarisasi dan pemetaan wilayah rawan. ”Hal semacam ini seharusnya dilakukan sejak hari pertama menjabat,” terangnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin.
Dia menegaskan, masalah inventarisasi dan pemetaan wilayah rawan ini belum menjadi budaya kerja di tubuh Polri. ”Masih sebatas dedikasi anggotanya. Belum semua menerapkannya,” tuturnya.
Selain Kapolda Sulteng, ada juga mutasi Irjen Ketut Untung Yoga Wairwasum Polri yang dimutasi menjadi Pati Itwasum dalam rangka pensiun. Kadivkum Polri Irjen Agung Sabar Santoso digeser menjadi Wairwasum.(tr-03/jpg/kai)

Share
Berita Terkait

Player CV Ubay Jaya Ditahan

08/03/2018, 13:02 WIT

Dana Ratusan Miliar Menguap

09/03/2018, 12:54 WIT

Ayah Perkosa Anak Kandung

15/02/2018, 09:18 WIT

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,63%)       :       (16,37%)

Dahlan Iskan