Rabu, 12 Desember 2018

 Headline

Sarjana yang Menganggur Tinggi

Diposting pada 11/05/2018, 12:55 WIT
Kepala Bidang Neraca dan Wilayah Analisis Statistik BPS Malut, Achmad Sobari
Kepala Bidang Neraca dan Wilayah Analisis Statistik BPS Malut, Achmad Sobari

TERNATE -  Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja, yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Malut menunjukan secara absolut, jumlah pengangguran bertambah sekitar 500 orang. Meski demikian, angka TPT Malut  justru turun dari 4,82 pada Februari 2017 menjadi 4,65 pada Februari 2018. “Ini disebabkan oleh komposisi angkatan kerja yang akan terus naik seiring dengan pertambahan jumlah penduduk,” kata  Kepala Bidang Neraca dan Wilayah Analisis Statistik BPS Malut, Achmad Sobari
Dia menuturkan sesuai  klasifikasi wilayah tempat tinggal, TPT wilayah perkotaan selalu lebih tinggi dari wilayah perdesaan. Pada Februari 2018, TPT di perkotaan mencapai 5,46 persen dan TPT di perdesaan sebesar 4,33 persen. Dibandingkan keadaan setahun lalu (Februari 2017), terjadi penurunan tingkat pengangguran untuk wilayah perkotaan sebesar 1,35 poin. “Sedangkan TPT di wilayah perdesaan mengalami kenaikan sebesar 0,35 poin,” tuturnya.
Berdasarkan pendidikan yang ditamatkan, TPT cukup besar terdapat pada kelompok penduduk dengan tingkat pendidikan menengah, yang terdiri dari lulusan SMA Umum dan SMA Kejuruan serta tingkat pendidikan tinggi (diploma dan universitas). Pada Februari 2018, TPT untuk kelompok pendidikan tinggi menjadi urutan tertinggi pertama, yaitu sebesar 9,83 persen. Diikuti kelompok pendidikan menengah dengan TPT sebesar 8,36 persen. Hal ini mengindikasikan ada penawaran tenaga kerja yang berlebih, terutama pada tingkat pendidikan tinggi dan menengah, yang tidak terserap di pasar kerja.
Sementara itu, kelompok penduduk berpendidikan dasar cenderung lebih mudah terserap pasar kerja, karena biasanya kelompok ini mau menerima pekerjaan apa saja. Hal ini terlihat pada TPT pendidikan dasar yang berada pada urutan terbawah, yaitu sebesar 1,64 persen. “Dibandingkan kondisi Februari 2017, terdapat penurunan TPT pada kelompok pendidikan dasar dan pendidikan menengah, kecuali pada tingkat pendidikan tinggi yang mengalami kenaikan,” pungkasnya.
Sementara itu penyerapan tenaga kerja hingga Februari 2018 masih didominasi oleh penduduk bekerja berpendidikan dasar, yaitu SMP ke bawah sebanyak 336  ribu orang (59,93 persen). Sedangkan penduduk bekerja berpendidikan menengah (SMA sederajat) sebanyak 152,1 ribu orang (27,13 persen). Penduduk bekerja berpendidikan tinggi tercatat hanya sebanyak 72,6 ribu orang (12,94 persen) mencakup 10,7 ribu orang berpendidikan Diploma dan 61,9 ribu orang berpendidikan Universitas
“Perbaikan kualitas penduduk bekerja ditunjukkan oleh meningkatnya penduduk bekerja berpendidikan menengah dan tinggi,” jelas Achmad. Dalam setahun terakhir, persentase penduduk bekerja berpendidikan tinggi meningkat dari 12,73 persen pada Februari 2017 menjadi 12,94 persen pada Februari 2018 (naik 0,22 poin). Hal yang sama juga terjadi pada persentase penduduk bekerja berpendidikan menengah yang naik cukup signifikan sebesar 2,04 poin. “Persentase penduduk bekerja berpendidikan dasar mengalami penurunan sebesar 2,26 poin,” pungkasnya. (mg-02/onk).

Data Ketenagakerjaan Malut per Februari 2018

TPT Perkotaan : 5,46 persen
TPT Perdesaan : 4,33 persen
TPT Kelompok Pendidikan Tinggi : 9,8 persen
TPT Kelompok Pendidikan Menengah : 8,36 persen
Penduduk Bekerja Lulusan SMP ke Bawah : 336 .000 (59,93 persen).
Penduduk Bekerja Berpendidikan SMA sederajat:  152.100 (27,13 persen)
Penduduk Bekerja Berpendidikan Tinggi : 72.600 (12,94 persen),  mencakup 10.700, orang berpendidikan Diploma dan 61.900 orang berpendidikan Universitas

 

Share
Berita Terkait

Harga Kopra Anjlok Lagi

16/11/2018, 12:18 WIT

Sarjana yang Menganggur Tinggi

11/05/2018, 12:55 WIT

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,20%)       :       (16,80%)

Dahlan Iskan