Headline

JAD Sumsel Sempat Incar Mako Brimob

Diposting pada 16/05/2018, 09:51 WIT
PENGAMANAN: Seorang pegawai Trans Mart Lampung diamankan anggota Polda Lampung dan Polresta Bandarlampung, Selasa (15/5). Ini terjadi lantaran pegawai menerobos barikade polisi saat pengamanan ancaman bom di pusat perbelanjaan yang berlokasi di Jalan Sultan Agung tersebut ALAM ISLAM/RADAR LAMPUNG
PENGAMANAN: Seorang pegawai Trans Mart Lampung diamankan anggota Polda Lampung dan Polresta Bandarlampung, Selasa (15/5). Ini terjadi lantaran pegawai menerobos barikade polisi saat pengamanan ancaman bom di pusat perbelanjaan yang berlokasi di Jalan Sultan Agung tersebut ALAM ISLAM/RADAR LAMPUNG

JAKARTA – Kericuhan berlanjut penyanderaan oleh napi kasus terorisme di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat (Jabar) akhir pekan benar-benar mematik gerakan teroris dari berbagai wilayah di Indonesia. Termasuk dari Sumatera. Senin malam (14/5) Densus 88 Antiteror bersama aparat kepolisian Polda Sumatera Selatan (Sumsel) berhasil menangkap dua terduga teroris di Palembang.

    Menurut Kadivhumas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto kedua terduga teroris yang ditangkap di Palembang adalah H alias Abdurrahman dan Hengki alias Abu Ansor. ”Mereka merencanakan untuk menyerang Mako Brimob Polda Sulsel,” terang Setyo. Sebelumnya, mereka juga sudah menyusun rencana untuk menyerang Mako Brimob di Depok. Namun, rencana itu urung terlaksana.

    Rencana menyerang Mako Brimob Polda Sulsel, sambung Setyo, direncanakan oleh kedua terduga teroris itu ketika kondisi dan situasi Mako Brimob di Depok masih panas. Rencana itu bahkan disusun lebih dari dua terduga teroris. ”Ingin saya katakan bahwa sebetulnya tidak hanya dua (terduga teroris),” imbuhnya.

    Berdasar data yang sudah dikantongi oleh Setyo, jumlah total terduga teroris yang turut menyusun rencana bersama Abdurrahman dan Abu Ansor ada delapan orang. ”Tapi, yang tertangkap baru dua,” kata dia. ”Yang enam masih melarikan diri,” tambah dia. Untuk itu, petugas yang bekerja di lapangan masih memburu enam terduga teroris lainnya.

    Seluruhnya, sambung Setyo, merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD). ”JAD juga, JAD Sumsel,” ujarnya. Untuk penangkapan terduga teroris di wilyah lain, sampai kemarin sore Setyo belum mendapat informasi. Termasuk di Bali. Dia hanya menyebutkan bahwa penangkapan terduga teroris yang sudah dilakukan selain di wilayah Jatim ada di wilayah Jabar dan Sumsel.

    Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan teroris yang melibatkan keluarganya dalam aksi bom bunuh diri paling sulit dideteksi. Lantaran semua yang dilakukan oleh para teroris itu tidak wajar dan tidak masuk akal. Misalnya dalam pelibatan anak-anak para pelaku dalam aksi kejam itu. Apalagi dengan membonceng anak dengan sepeda motor sehingga petugas pun tak menduga bakal jadi korban.

    ”Saya sampai sangat bersedih. Saya bayangin, apa yang dia bilang kepada anaknya sebelum pergi, musti dia bilang ”Nak, ya kita ketemu di surga lah” bayangkan itu?” ujar JK dengan lirih di Kantor Wakil Presiden, kemarin (15/5).

    Dia menuturkan, paham radikalisme itu berasal dari negara-negara gagal. Misalnya Al Qaeda yang berasal dari Afghanistan yang dilanda perang. Begitu pula dengan ISIS yang datang dari Syiria dan Iraq. Para simpatisan dari Indonesia itu pun pulang dan membawa paham itu. ”Pulang membawa virus, membawa ilmunya, membawa kemauannya yang ditentukan seperti itu,” imbuh dia.

    JK pun cenderung sepakat untuk melibatkan TNI dalam penanganan terorisme. Lantaran militer seperti TNI AD punya personel hingga di level kelurahan. Mereka bisa bekerja sama dengan polisi. ”Polisi punya Kapolsek. TNI punya Koramil. Jadi itu kalau dilibatkan semua kan bagus,” tambah dia.

    Nah, pengeboman di Surabaya dan kerusuhan di Depok itu akan menjadi pendorong percepatan revisi Undang-undang tentang terorisme. diharapkan pada Mei atau Juni sudah bisa selesai. Meskipun, menurut JK, tidak perlu terlalu terpaku dengan rumusan-rumusan definisi terorisme.

    ”Siapa yang bunuh orang tapi salah itu terorislah. Siapa yang mau macam-macam, tidak usah terlalu berpegang kepada formulanya mana? Ya pokoknya namanya lawan aja. Menjelaskan teroris itu siapa yang katakan mengancam, membunuhtanpa alasan yang jelas,” kata dia.


 Anak Bomber

Sementara Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin menyatakan empat anak terduga teroris bakal jadi saksi mahkota. Seluruh pengakuan yang mereka sampaikan bakal jadi alat petunjuk polisi.

 

Empat orang anak itu adalah Ainur Rohman, Faisa Putri, Garida Huda Akbar dan Aisyah Azzahra Putri. Ainr, Faisa dan Garida merupakan anak dari bomber di Rusun Wonocolo, Taman, Sidoarjo. Sedangkan Aisyah merupakan putri dari Tri Murtiono yang meledakkan diri di Mapolrestabes Surabaya.

 

Lantaran semuanya masih dibawah umur, polisi berusaha menggali fakta keseharian mereka saja. Mulai dari jadwal bangun tidur hingga agenda apa saja yang biasa mereka ikuti. “Tentu dengan pendekatan khusus. Seluruh pengakuannya dimungkinkan jadi petunjuk,” kata Machfud.

 

Oleh karena itu, kini mereka ditempatkan di ruangan khusus di RS Bhayangkara Polda Jatim. Salah satu pengakuan yang berhasil didapat polisi adalah soal fakta pernah disuruh menonton film jihad ala Timur Tengah. “Padahal penuh kekerasan. Ngeri. Tapi itu pengakuannya,” jelas jenderal bintang dua itu.

 

Di sisi lain, pihak kepolisian mendapatkan tugas tambahan, yakni trauma healing dan deradikalisasi terhadap empat bocah itu. ’’Kami lakukan pendampingan bersama psikolog dan pemerhati anak,’’ tutur Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera.

 

Ainur tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya, meski masih satu rusun. Dia tinggal bersama neneknya di unit yang berbeda. Ainur pulalah yang menunjukkan lokasi gudang penyimpanan bahan peledak milik ayahnya kepada polisi. ’’Mereka ini kami sebut korban indoktrinasi,’’ terang mantan Kabidhumas Polda Sulsel itu.

 

Maka, keempatnya diberi pendampingan oleh psikolog dan pemerhati anak untuk menghilangkan trauma atas apa yang terjadi. Sebagai langkah awal, mereka dibuat senyaman mungkin  dengan keadaan di sekelilingnya. Kemudian, ada proses relaksasi progresif untuk mencegah agar mereka tidak stres.

 

Psikolog juga akan mengupayakan agar setiap informasi yang disampaikan kepada anak-anak tersebut tidak berdampak buruk terhadap kondisi mereka. Khususnya, informasi yang berkaitan dengan orang tua anak-anak tersebut.

 

Begitu pula dengan kerabat anak-anak itu, polisi akan memberikan pendampingan. Tujuannya, pihak keluarga ikut memperhatikan tumbuh kembang anak-anak itu agar jauh dari indoktrinasi sebagaimana orang tua mereka. Pihak keluarga juga diberi briefing agar tidak keliru dalam menyampaikan informasi kepada keempat anak itu.

 

Pelibatan anak-anak dalam lima serangan bom di Surabaya dan Sidoarjo perlu jadi peringatan keras bagi masyarakat. Sebab, jika level terorisnya keluarga bakal sulit dideteksi. Machfud menyatakan perlu semua pihak untuk melakukan deteksi dini.

 

Dia menyebut perlu partisipasi tiga pilar. Yakni Polri, TNI dan Pemkot/Pemkab. “Sampai ke level Polsek lalu tembus sampai RT-RW. Tanpa bantuan mereka ya nggak mungkin bisa,” ujarnya.

 

Model Community Policing itu perlu dibudayakan dalam masyarakat. Sebab, sejatinya warga bisa menjadi polisi atas dirinya sendiri. Jika hanya mengandalkan pengamanan personel polisi, tentu tidak akan efektif. Sebab, jumlah polisi terbatas. “Pokoknya semua harus waspada, bukan saling mencurigai, harus peduli dengan sekitar,” himbaunya. (JPG/fai)

Share
Berita Terkait

Buka Lowongan CPNS 200 Ribu

06/03/2018, 12:17 WIT

Rekrutmen CPNS Dibuka Juli

13/03/2018, 11:04 WIT

Remunerasi PNS Terancam Dihapus

09/03/2018, 12:36 WIT

Gaji PNS Dipotong 15 Persen

08/03/2018, 13:00 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan