Selasa, 18 September 2018

 Headline

Selamat karena Terpal Bekas

Diposting pada 22/06/2018, 12:33 WIT
EVAKUASI: Rahmi Kadir, pendaki yang sempat hilang kurang lebih 12 jam, ditandu tim pencari saat evakuasi dari puncak Gamalama menuju perkampungan, Kamis (21/6). Saat ditemukan, Rahmi menderita hipotermia/ HIZBULLAH MUJI/MALUT POST
EVAKUASI: Rahmi Kadir, pendaki yang sempat hilang kurang lebih 12 jam, ditandu tim pencari saat evakuasi dari puncak Gamalama menuju perkampungan, Kamis (21/6). Saat ditemukan, Rahmi menderita hipotermia/ HIZBULLAH MUJI/MALUT POST

TERNATE – Rahmi Kadir (21), pendaki Gunung Gamalama yang sempat hilang akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat. Saat ditemukan tim gabungan, warga Kelurahan Jambula, Pulau Ternate ini diserang hipotermia. Untuk bertahan dari hawa dingin selama kurang lebih 24 jam, ia menggunakan terpal bekas.
Rahmi dinyatakan hilang saat mendaki dengan tujuh rekannya, Selasa (19/6) siang. Saat rekan-rekannya hendak turun gunung Rabu (20/6) sekira pukul 6 pagi, gadis ini tak dapat ditemukan di tenda. Ketujuh pendaki lain akhirnya turun gunung duluan untuk melaporkan kehilangan tersebut.
Pencarian terhadap Rahmi dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri atas Badan SAR Nasional Kota Ternate, Taruna siaga Bencana (Tagana), mahasiswa pecinta alam, PMI Kota Ternate, TNI/Polri, dan warga lokal. Tim yang berjumlah 15 orang tersebut dibagi ke dalam tiga regu. Pencarian dimulai sejak Rabu malam pukul 9 dengan menyisir dari Kelurahan Moya, Ternate Tengah.
Rahmi baru berhasil ditemukan Kamis (21/6) pagi sekira pukul 6.40 oleh regu yang dipimpin seorang warga Moya, Acul. Ia ditemukan tak jauh dari lokasi tenda tempatnya berkemah dengan teman-temannya, yakni di sekitar makam keramat pos 5, dalam kondisi kedinginan. Setelah ditemukan, Rahmi segera diberi pertolongan pertama lalu ditandu turun. Rombongan penyelamat ini tiba di perkampungan pukul 12.25 dimana Rahmi langsung dilarikan ke RSUD Chasan Boesoirie untuk mendapat penanganan medis.
Rahmi yang ditemui Malut Post di rumah sakit tampak diinfus untuk menjalani perawatan. Ia menuturkan, dirinya terpisah dengan rekan-rekannya lantaran persoalan sepele, yakni selisih paham. ”Itu masalah pribadi yang melibatkan emosi sesama remaja. Makanya saya keluar dari tenda sekalian menunggu teman-teman lain turun karena mereka masih ada di tempat meletus. Jadi, saya pikir duduk-duduk saja untuk cari suasana supaya tidak marah lagi,” tuturnya kemarin.
Malangnya, Rahmi justru tertidur di lokasi yang bernama Kano-Kano tersebut. Ketika bangun dan kembali ke tempat berkemah, semua rekannya sudah tak ada. ”Jadi saya bingung sendiri, mau jalan ke sana mau jalan ke mari, tapi saya cari orang. Dari Kano-Kano saya keluar ke atas di bagian jere (keramat), di sekitar itu saya pantau orang tidak ada sama sekali. Tidak lama setelah itu turun kabut,” kisahnya.
Karena sebelumnya sudah pernah mendaki gunung setinggi 1.715 mdpl itu, Rahmi sempat mencoba mencari jalan sendiri. Namun turunnya kabut membuat jalanan tampak membingungkan. ”Makanya saya langsung berteduh di sekitar keramat, di bawah kaki bukit kecil,” katanya.
Tak lama kemudian, hujan turun dibarengi kilat dan guruh. Rahmi kian menggigil kedinginan. Untuk menghangatkan tubuh, ia mencari benda apa saja yang dapat melindunginya dari hujan. ”Saya berusaha mencari apa yang bisa bikin tubuh hangat, supaya tidak basah juga. Saya cari ternyata dapat terpal bekas banyak sekali, ada delapan lembar. Saya kumpul dan buat tempat berteduh. Malamnya saya di situ, kalau siang itu saya keluar kasih hangat badan dengan lari-lari. Kalau badan sudah hangat, duduk-duduk dan panggil-panggil orang. Selama saya niat turun, tetap kabut muncul,” terangnya.
Selama hilang, Rahmi mengaku tetap dalam kondisi sadar. Karena itu, ia lah yang kemudian berteriak memanggil para pencari setelah mendengar suara-suara orang berjalan. ”Karena saya sadar itulah saya yang memanggil mereka sekitar lima orang. Saya kaget dari tidur kemudian dengar suara jalan dan orang memanggil, makanya saya panggil untuk minta minum,” ungkapnya.
Awalnya, Rahmi mengaku para pencari sempat ketakutan lantaran mendengar suaranya di tengah kabut yang begitu tebal. Bahkan ada juga yang hampir lari. ”Kemudian dari jauh langsung tanya ‘Ngana Ami? Ngana orang Jambula?’. Saya jawab dan langsung mereka lakukan pertolongan. Bukan hanya air tapi makanan, jaket dan celana juga langsung dikasih untuk saya pakai lapis. Kemudian saya diturunkan. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak apalagi yang sudah melakukan pencarian,” tutur gadis yang baru saja lulus kuliah ini.
Sementara itu, Kepala Basarnas Kota Ternate, Mustari usai evakuasi menuturkan Rahmi ditemukan oleh Tim Seru 1 yang lalu menginformasikan kepada Tim Seru 2. Tim Seru 2 yang membawa peralatan evakuasi langsung menuju lokasi penemuan untuk memberikan pertolongan medis sementara. ”Informasi yang kita terima, dia ditemukan saat itu tengah menutupi diri menggunakan terpal, karena mungkin faktor kedinginan jadi mencari terpal. Korban sudah mengalami hipotermia, tapi cepat dilakukan penanganan untuk mengurangi kedinginan sehingga tidak terjadi apa-apa,” jelasnya.
Dengan ditemukannya Rahmi, proses pencarian langsung ditutup secara resmi. Mustari
Berharap dengan adanya kejadian tersebut dapat menjadi pelajaran bagi para pendaki untuk melaporkan kepada RT setempat atau pihak yang bertanggung jawab sebelum melakukan pendakian. ”Kemudian juga harus menjaga kekompakan hingga turun dari pendakian,” tambahnya.
Camat Ternate Tengah, Abdul Haris menambahkan, warga di sekitar pegunungan sudah terbiasa ikut melakukan pencarian tiap kali ada pendaki tersesat. ”Jadi sudah berulang-ulang kali masyarakat, baik pemuda maupun orang tua, melakukan pertolongan. Kalau untuk kejadian ini juga sudah dari malam mereka melakukan pencarian dan alhamdulillah mereka yang menemukan. Keterlibatan masyarakat di Moya itu sangat bagus sekali bersama Basarnas dan instansi lain,” ungkapnya.
Guna mengantisipasi kejadian serupa, Abdul Haris menyatakan pihaknya tengah mengupayakan perbaikan sistem pendakian. Selain pendaki wajib lapor diri, kaum muda di wilayah tersebut juga akan diberi kesempatan mengelola persewaan peralatan mendaki. ”Dengan begitu keterlibatan warga setempat dengan para pendaki bisa makin erat,” sambungnya.

Larangan Mendaki
Ramainya pendakian di Gamalama saat ini ternyata oleh Pos Pemantau Gunung Gamalama (PPGG) dinilai melanggar aturan. Pasalnya, sekarang ini gunung api tersebut masih berstatus Waspada level II. Untuk itu, pendaki maupun wisatawan dilarang mendekati puncak kawah dalam radius 1,5 kilometer.
Kepala PPGG Darno Lamane saat dikonfirmasi Malut Post kemarin menuturkan, sejak meletusnya Gamalama tahun lalu, hingga kini status gunung belum berubah. Hal ini didorong oleh kegempaan yang masih terjadi setiap hari. "Itu sesuai rekomendasi bersama baik Pemda melalui BPBD maupun pihak terkait lainnya. Jadi pada radius 1,5 kilometer itu tidak bisa mendaki, aktivitas lainnya juga tidak bisa,” tekannya.
PPGG sendiri telah mengeluarkan larangan pendakian berdasarkan rekomendasi bersama tersebut. Hanya saja, Darno mengakui, para pendaki masih membandel. ”Selain melalui rekomendasi tersebut, kami juga melarang atau menolak jika ada pendaki yang meminta izin melakukan pendakian melalui jalur Marikurubu. Nah, mereka itu mendaki tidak pakai izin, karena mereka minta izin kita di pos tidak memberikan izin. Makanya mereka lari saja begitu. Kalau di Pos Marikurubu kita tidak kasi izin, mereka dari Moya. Makanya harus tegas juga, karena sudah ada rekomendasi itu," urainya.
Dia menegaskan, jika masyarakat sekitar, pengunjung maupun wisatawan tetap melakukan pendakian dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka itu di luar tanggung jawab pihaknya. ”Rekomendasi ini juga berlaku hingga batas waktu yang tidak ditentukan,” tegasnya.(tr-04/kai)

 

Share
Berita Terkait

Besok, Bioskop XXI Mulai Beroperasi

15/05/2018, 12:58 WIT

Legu Gam Terancam tak Dilaksanakan

28/02/2018, 12:14 WIT

Investasi Bodong Makan Korban Lagi

16/04/2018, 12:26 WIT

Menhub Juga Ditipu Bawahan

31/08/2018, 12:43 WIT

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,99%)       :       (16,01%)

Dahlan Iskan