Jumat, 20 September 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Dilamar Penerbit Besar Gegara Unggahan Instagram

Dilamar Penerbit Besar Gegara Unggahan Instagram

Diposting pada 02/08/2018, 11:45 WIT
Muchammad Asrofi
Muchammad Asrofi

Lebih Dekat dengan Muchammad Asrofi, Penulis “Gerimis di Musim yang Salah”

Saat ini, media sosial bukan sekadar wadah menjalin pertemanan. Tak sedikit warganet yang mengumpulkan pundi-pundi rezeki lewat media satu ini. Itu pula yang terjadi pada Muchammad Asrofi, petani yang nyambi jadi penulis, atau penulis yang sebenarnya “menyamar” jadi petani.

Joni Patrumsari, Maba

Muchammad Asrofi begitu senang ketika buku keduanya yang berjudul ‘’Gerimis di Musim yang Salah’’ terbit. Selain menambah karya, royalti dari buku ini bakal ia tabung untuk persiapan menikah. “Calonnya belum ada, tapi persiapan wajib ada,” katanya sembari terkekeh, Rabu (25/7).
Keinginan menjadi penulis sudah tertanam sejak Asrofi duduk di bangku kelas XI SMA. Dari gemar membaca dan bercita-cita jadi guru, berubah menjadi ketagihan menulis cerita. Bontot dari empat bersaudara ini pun kerap menulis cerita konyol kehidupan sehari-hari kemudian dimuat dalam blog pribadinya.
Selain memang menyukai sastra, ada hal lain yang mendorong Asrofi menulis. Dia memiliki ingatan yang amat lemah. Alhasil, untuk mengingat banyak hal, jaka kelahiran 16 Maret 26 tahun silam ini harus menuliskannya. “Saya orangnya memang pelupa. Tetapi dengan menulis, apa yang saya ketahui tidak hilang begitu saja,” tutur alumni SMK Muhammadiyah Subaim, Halmahera Timur ini.
Selain memiliki ingatan yang lemah, Asrofi merasa tidak terlalu bagus kemampuan verbalnya. Dia menyebut dirinya tak cakap berbicara dan memiliki suara yang kecil. Untuk menampung ide dan menyuarakan isi kepalanya, mau tak mau dia harus menulis.
Tak hanya lewat blog, putra pasangan Boiran dan Jumiati ini juga memanfaatkan media sosial agar lebih mudah berinteraksi dengan pembaca. Asrofi lalu berinisiatif membuat akun Instagram bernama @masbisik. “Nama akun ini sesuai dengan karakter pribadi saya yang memiliki suara kecil,” katanya.
Melalui @masbisik, Asrofi kerap mem-posting penggalan-penggalan sajak untuk mengutarakan perasaannya. Setiap sajak yang diunggahnya mendapat banyak respons positif dari para follower. Hingga kini akun Instagram tersebut sudah mampu mengumpulkan 52,6 ribu pengikut.
Akun Instagram ini pula yang mengantarkan Asrofi menerbitkan buku keduanya di penerbit mayor ternama. Rupanya, salah satu pengikut @masbisik adalah seorang editor TransMedia Pustaka, penerbit yang telah mempublikasikan ribuan buku fiksi dan nonfiksi.
Sang editor yang tertarik dengan posting-an sajak-sajak Asrofi kemudian mengiriminya email berisi permintaan kerja sama dalam proyek penerbitan buku. Asrofi, yang tinggal nun jauh di pelosok Halmahera Timur bernama Desa Tutuling Jaya, tak lantas percaya begitu saja dengan surat elektronik itu. “Awalnya saya pikir ini penipuan dan sama sekali belum percaya,” akunya.
Pada 20 Maret 2017, dia diminta mengirim naskah buku dan data diri. Naskah awal itu masih berupa penggalan sajak-sajak yang dikumpulkan dari unggahannya sejak 2015 hingga 2017. “Kemudian dari penggalan sajak-sajak itu dikembangkan dan digodok selama kurang lebih satu tahun hingga menjadi sebuah buku yang layak terbit,” kisahnya.
Setelah melalui proses pengumpulan dan perbaikan tulisan yang cukup rumit, buku berjudul “Gerimis di Musim yang Salah” akhirnya dinyatakan siap terbit. Judul buku ini diambil dari salah satu subjudul dalam buku yang dijadikan sebagai benang merahnya.
Buku setebal 162 halaman ini berisikan sastra beraroma sajak yang menceritakan tentang merindukan seseorang, mencintai diam-diam dan angan-angan seorang anak manusia. Di bagian subjudul “Gerimis di Musim yang Salah” berkisah tentang cinta yang salah, cinta yang timbul antara dua orang yang sudah memiliki pasangan. Versi buku ini ditulis dengan bahasa yang lebih mudah, ringan dan menarik untuk dibaca. “Ketika buku ini sudah terbit dan sampai di tangan, saya baru mempercayainya,” tutur Asrofi.
Semenjak pre-order, buku yang dipasarkan dengan harga Rp 55 ribu per buah itu telah tercetak 3.500 eksemplar. Dalam daftar penjualan terbaik versi penerbit, ia berada di urutan keenam. Buku yang ditulis Asrofi bersanding dengan bestseller lainnya seperti “Cinta yang Tak Biasa”, karya fenomenal pasangan suami istri Natta Reza dan Wardah Maulina, kemudian “Nol” karya William Tjhia dan Carrin, dan “Ambigu” karya Maharapail.
Saat ini, kesibukan Asrofi selain menulis adalah membantu orangtuanya menggarap lahan pertanian di desa mereka. Mereka bertanam cabai.
Asrofi sendiri pernah merasakan bangku kuliah di Jurusan Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate. Namun ia harus berhenti di semester V lantaran tak punya biaya lagi. Pemuda ramah ini akhirnya pulang kampung dan membantu orangtuanya di kebun.
Sembari membantu pertanian orang tua, Asrofi tetap rajin mem-posting penggalan-penggalan sajaknya di akun Instagram untuk menyapa para pengikutnya. Mengetahui buku karya anaknya, orang tua Asrofi juga ikut bangga. “Mereka selalu berpesan agar tetap rendah hati,” katanya.
“Gerimis di Musim yang Salah” merupakan buku kedua Asrofi. Pada 2012, dia pernah menerbitkan secara indie novel berjudul “Dandang Gendis”. Hanya saja, buku ini prospek penjualannya kurang bagus.
Sukses dengan buku kedua, Asrofi akan terus berkarya dengan menerbitkan buku-buku lain. Buku ketiganya nanti berupa novel bergenre romantis religi. Novel ini sudah ia garap lama sejak 2016, jauh sebelum “Gerimis di Musim yang Salah”. “Tapi masih mencari penerbit lagi. Karena TransMedia untuk tahun ini belum menerima naskah novel,” pungkasnya.(arg/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan