Senin, 19 Agustus 2019

 Headline
MALUT POST / / WBN Siap Serap 15 Ribu Tenaga Lokal

WBN Siap Serap 15 Ribu Tenaga Lokal

Diposting pada 31/08/2018, 12:40 WIT
RESMI DIMULAI: Menko Maritim Luhut Panjaitan, Menhub Budi Karya Sumadi, Gubernur Abdul Gani Kasuba, Bupati Halteng Edi Langkara serta petinggi IWIP saat peletakan batu pertama tiang pancang kawasan industri WBN, Kamis (30/8). WAHYUDIN MADJID/MALUT POST
RESMI DIMULAI: Menko Maritim Luhut Panjaitan, Menhub Budi Karya Sumadi, Gubernur Abdul Gani Kasuba, Bupati Halteng Edi Langkara serta petinggi IWIP saat peletakan batu pertama tiang pancang kawasan industri WBN, Kamis (30/8). WAHYUDIN MADJID/MALUT POST

WEDA – Rencana pembangunan kawasan industri di Weda, Halmahera Tengah, akhirnya terwujud. Dimulainya pembangunan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama tiang pancang kawasan industri Weda Bay Nickel (WBN) oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan kemarin (30/8). Selain Luhut, pencetusan groundbreaking juga disaksikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba, Bupati Halteng Edi Langkara, Sultan Tidore Husain Sjah, Ketua DPRD Malut Alien Mus, dan petinggi WBN.
Membawa bendera WBN yang merupakan milik Tsingshan Group dan Eramet, proyek raksasa ini dikelola langsung PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). IWIP sendiri adalah perusahaan patungan tiga investor Tiongkok yakni Tsingshan, Huayou, dan Zhensi. Tak tanggung-tanggung, nilai investasinya mencapai USD 10 miliar atau sekitar Rp 144 triliun.
Presiden Direktur IWIP, Xiang menuturkan, pembangunan kawasan industri WBN merupakan realisasi dari perjanjian Eramet asal Prancis dan Tsingshan Group asal Republik Rakyat Cina. Proyek prestisius ini juga melibatkan PT Aneka Tambang sebagai partner lokal. Keroyokan ini akan mengembangkan deposit bijih nikel dan 30kt/Ni Nickel Pig Iron smelter sebagai smelter pertama di dalam kawasan Industri Weda Bay. "IWIP akan menjadi kawasan industri terpadu pertama di dunia yang akan mengolah sumber daya mineral dari mulut tambang menjadi produk akhir berupa baterai kendaraan listrik dan besi baja," tuturnya kemarin.
Selain memfasilitasi kegiatan pemurnian logam, kawasan industri ini juga bertujuan menarik berbagai kalangan investor untuk membangun fasilitas pengolahan industri hilir. Diantaranya meliputi nikel sulfat (NiSO4), NCM/NCA, prekursor, sampai menghasilkan produk akhir berupa Li-ion baterai untuk kendaraan listrik. "Adapun Presiden Joko Widodo juga menargetkan bahwa produksi mobil listrik akan mencapai 20 persen dari total produksi kendaraan nasional di Indonesia pada tahun 2025," ungkapnya.
Xiang menjamin, IWIP akan berdedikasi memperkenalkan teknologi mutakhir yang berkelanjutan di Indonesia. Juga akan menjalankan usahanya sesuai dengan kaidah perundang-undangan terhadap perlindungan lingkungan hidup. “Sehingga dapat memberikan kontribusi bagi kepentingan masyarakat lokal dan sekaligus perindustrian nasional di Indonesia," ujarnya.
Menurutnya, investasi tahap pertama senilai USD 5 miliar ini bakal berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi lokal seperti lapangan kerja baru yang dapat menyerap kurang lebih 15 ribu tenaga lokal, pertumbuhan produk domestik bruto di provinsi dan kawasan regional, serta meningkatkan laju perkembangan industri secara keseluruhan di wilayah Indonesia timur. "IWIP berkomitmen untuk mengikuti kaidah prinsip pembangunan yang berkelanjutan dengan mengedepankan perlindungan dan pembangunan sosial di kawasan industri ini," katanya.
Sementara Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, perusahaan ini akan mengerjakan mulai dari nikel sampai Li-ion baterai kendaraan listrik dan besi baja. Artinya, beberapa lapangan pekerjaan sehingga nilai tambahnya lebih besar. "Untuk konstruksi di Indonesia baru 20 ribu ton, padahal produksi mereka sudah mencapai jutaan ton. Sementara kita baru mencapai 1 persen produksi di Tionghoa. Saya sudah sampaikan ke Dirjen Kementerian Perindustrian supaya kita buat industri sendok akan memiliki nilai tambah di perusahaan ini," kata Luhut.
Menteri 70 tahun itu mengaku pernah menyampaikan kepada Bupati Edi Langkara dan Gubernur AGK tentang adanya industri tambahan di samping industri utama. Seperti produksi sendok yang dilakukan di kawasan industri Maruwai, Kalimantan Tengah.
Selain itu, suplai bahan makanan untuk perusahaan seperti daging sapi, ayam, ikan, dan telur juga tak perlu impor. Persediaannya harus diambil dari Malut saja. "Semuanya harus disiapkan dari sini sehingga saya minta Pemda setempat untuk disiapkan secara baik. Jika ada masalah di lapangan maka harus sampaikan kepada kami untuk segera diatasi secara bersama," katanya.
Luhut secara pribadi juga meminta Edi dan Sultan Husain untuk sering berkomunikasi dengan pihaknya maupun pihak perusahaan. “Jika terjadi kendala segera beri tahu kepada kami untuk menghindari masalah tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, investasi harus diikuti dengan berbagai hal positif. Pertama, harus ramah lingkungan, sebab negara tak ingin terjadi pencemaran lingkungan. Kedua, harus ada transfer teknologi. “Supaya tenaga kerja asal Indonesia melihat dan menyaksikan langsung bagaimana pekerjaan terkait Li-ion baterai yang dibuat,” kata menteri asal Sumatera Utara ini.
Ketiga, pihak perusahaan harus banyak menggunakan tenaga lokal. Meski begitu, sambungnya, perlu disadari bahwa tenaga lokal untuk sumber daya belum mencukupi. “Karena itu akan dilakukan //training//, misalnya diberikan materi matematika dan komputer. Hal itu akan dilakukan seperti di Maruwai saat ini,” imbuhnya.
Dia mengakui, peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan waktu 3 sampai 4 tahun ke depan. Namun mulai sekarang akan dilakukan training oleh pihak perusahaan. "Jadi saya minta Bupati Edi Langkara dan Sultan Husain Sjah harus melakukan komunikasi dengan kami agar masyarakat betul-betul menikmatinya. Kita jangan ribut, tetapi mencari solusi seperti yang disebutkan tadi," tukasnya.
Luhut menegaskan, kawasan industri WBN ditargetkan tak hanya untuk kepentingan ekspor nikel saja. Lebih luas, ekspor stainless steel dan bahan dasar baterai listrik juga wajib ada. “Jika sampaikan pada pembuatan sendok dan hand phone itu bisa dilakukan sehingga daerah ini menjadi kawasan ekonomi khusus karena banyak pengelolaan industri. Dengan adanya operasi perusahaan ini akan dibangun bandara, pelabuhan laut akan dibangun,” tuturnya.
Pembangunan yang serentak ini juga harus diikuti dengan pekerjaan besar bagi pihak terkait seperti Imigrasi dan pemerintah daerah. Karena itu, alumni George Washington University ini berharap semua pihak bekerja dengan benar agar nilai tambah perusahaan tambang tersebut dapat dinikmati daerah. “Proses pembangunan ini tidak lama, karena dua tahun sudah harus dilakukan produksi. Jadi dua tahun waktunya tidak lama, sehingga para ulama di daerah juga harus turut terlibat," ujarnya.
Dia mengungkapkan pengalaman yang terjadi di Morowali dimana setelah perusahaan beroperasi banyak tenaga Tiongkok yang didatangkan. Luhut mengakui kebenaran penyerapan tenaga asing itu, dengan alasan perusahaan menginginkan pekerjaan lebih cepat tuntas. “Tetapi sekarang mulai berkurang dari 26 ribu orang sekarang tinggal 2.000 orang lebih. Dengan adanya pendidikan politeknik di sana, tahun depan politeknik akan mengirim tenaga kerja di perusahaan tersebut. Pola itu akan dilakukan seperti di sini. Nantinya tenaga lokal diberikan pendidikan baru dapat pekerjaan di perusahaan Weda Bay ini. Jadi saya mohon pengertian agar tidak buat ribut atau provokasi, karena tenaga lokal tetap menjadi prioritas dan kami siap mengawasi perusahaan ini," tegasnya.
Sementara Bupati Edi Langkara dalam sambutannya mengatakan, ketika Kabupaten Halmahera Tengah dipilih sebagai kawasan terpadu industri di luar jawa untuk mendorong pertumbuhan industri nasional, seolah-olah masa lalu sedang diputar kembali. Dimana masyarakat Halteng sebagai entitas sosial yang terbesar di tiga kawasan yakni Weda, Patani dan Gebe telah mendiami kawasan penting dalam pembentukan bangsa ini dibawa kepemimpinan Kesultanan Tidore. “Dari abad ke 14 sampai abad 18, daerah ini menjadi kawasan strategis untun perdagangan dunia. Karena masyarakat Weda, Patani dan Gebe pernah bertransaksi komoditas lokal dengan bangsa Cina dan Eropa,” jabarnya.
Pada era kemerdekaan, Halteng juga menjadi simpul konsolidasi kekuatan TNI dalam upaya merebut Papua saat Operasi Mandala. "Investasi industri berskala besar yang dibangun di Halteng merupakan kebijakan strategis yang akan menguntungkan daerah ini. Pemda dan masyarakat Halteng menyambut baik investasi ini," ujarnya.
Namun dia menegaskan, Halteng tidak akan terlena dengan anggaran triliunan rupiah tersebut. Sebaliknya, pemerintah dan masyarakat akan menyiapkan skema dengan pihak investor. "Kami siapkan konsep strategis. Pertama perumahan, kedua penyediaan pangan, air bersih dan pelabuhan umum, kemudian pelabuhan udara," tandasnya.
Sebelumnya, Bupati telah bertemu dengan Menteri Luhut untuk membahas penyediaan tenaga kerja lokal. Kala itu Edi menyebutkan perusahaan butuh 5.000 pekerja lokal. Pemda Halteng juga telah menggandeng Balai Latihan Kerja (BLK) dan perguruan tinggi untuk menyiapkan tenaga kerja. “Mereka minta dari lokal lebih banyak. Untuk kesiapan kita kerja sama dengan balai latihan, perguruan tinggi lokal juga kita lakukan. Soal Cina dan di mana saja, kita welcome. Prinsipnya sepanjang daerah kita ada kesiapan tenaga kerja. Kalau nggak ada di daerah bagaimana, sementara investasi harus jalan kan. Dari perusahaan sangat welcome kalau tenaga kerja kita yang dominan lebih bagus,” tuturnya.

10 Tahun
Agnes Megawati, Associate Director Media & Public Relations Department IWIP menjelaskan ada investasi tahap pertama senilai US$ 5 miliar yang akan digelontorkan untuk awal pembangunan groundbreaking kawasan industri ini. Nantinya investasi tersebut diharapkan berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. "Nanti sisa US$ 5 miliar akan kami teruskan dalam tahap konstruksi. Total tahapan konstruksi kawasan industri ini ditargetkan selesai pada 10 tahun ke depan," kata Agnes seperti dilansir dari Kontan.co.id.
Sementara Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menjelaskan, pengembangan kendaraan listrik di Indonesia salah satunya dimulai dari pembangunan industri komponen. Baterai listrik merupakan kunci utama kendaraan listrik ini. "Hari ini merupakan langkah awal untuk pembangunan program Low Cost Electric Vehicle (LCEV)," ujarnya.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga menyatakan IWIP sudah memenuhi persyaratan untuk memajukan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, yaitu dalam bentuk investasi dengan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.(wmj/ktn/pn/kai)

Share
Berita Terkait

Panwascam Temukan Pemilih Ganda

05/04/2018, 12:34 WIT

WBN Siap Serap 15 Ribu Tenaga Lokal

31/08/2018, 12:40 WIT

18 Perusahaan Beroperasi di Halteng

28/03/2019, 12:18 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan