Kamis, 23 Januari 2020

 Headline
MALUT POST / OPINI / Teluk Weda, Ikan Paus dan Sun Tze

Teluk Weda, Ikan Paus dan Sun Tze

Diposting pada 04/09/2018, 08:44 WIT


0leh Syaiful Bahri Ruray

KETIKA kuliah di Belanda (Utrecht University) pada 2008/2009 lalu, saya sempat bersahabat dengan Atase Militer KBRI di Den Haag, Kolonel TNI AL Yoshapat Toto Subagyo, karena beliau lama bertugas di Mako TNI AL Kairagi Manado (sekarang beliau Laksamana Muda, 2 bintang), dan bertugas di perwakilan tetap Indonesia di New York). Dengan beliau saya diajak meninjau Dock Angkatan Laut Belanda di kota pantai Vlessingen di mana Indonesia sedang memesan beberapa kapal perang. Dari Pak Toto barulah saya tahu bahwa sejak Perang Dunia II pasukan Jerman telah menggunakan seragam yang tidak dapat dideteksi radar dan satelit.  Karena ajaran strategi tua Cina Sun Tze bahwa semakin tersamar dalam sebuah pertempuran itu semakin memungkinkan memenangkan peperangan.  Petuah Sun Tze : "haluslah engkau agar engkau tak terlihat, misteriuslah engkau agar engkau tak teraba, maka engkau akan menentukan nasib musuhmu." (Lihat buku : Pendekar Pesisir, Sterling Seagrave).

Lalu saya tanya gimana dengan seragam TNI di Indonesia, beliau menjawab bahwa hanya Pasukan Khas TNI-AU yang menggunakan seragam tersamar  tersebut. Jadi pasukan dapat bergerak tanpa dapat dideteksi oleh radar musuh maupun satelit. Mungkin zaman now,  drone adalah alat pengintai tercanggih untuk mengetahui posisi musuh dan bahkan drone dapat dipersenjatai dalam perang modern sekarang. Jadi sukses operasi kilat (blitzkrieg) pasukan NAZI Jerman itu memang mengandalkan penyamaran dan operasi intelijen awal yang sangat akurat. Sehingga tidak terdeteksi pergerakan mereka ketika menyerang berbagai kawasan Eropa dengan cepat. Hanya dalam perang terbuka di padang pasir di bawah Marsekal Lapangan (Field Marshal) Erwin Rommel di Afrika Utara mereka kalah dengan pasukan Tikus Gurun (Rat Dessert) Inggris, dan dari pertempuran ini pula Inggris lalu membentuk pasukan SAS (Sea Air Service) yang terkenal hingga sekarang ini masih eksis sebagai pasukan kecil dengan daya pukul terbesar dari seluruh operasi komando dalam sejarah dunia. Pasukan SAS dengan personel kecil dapat bergerak lincah danmobile, melakukan pengintaian (reconaissance), lalu menyusup digaris belakang musuh dan melakukan sabotase. Buku Kenneth Conboy tentang Pasukan Elite di berbagai dunia, masih memposisikan Pasukan SAS Inggris ini sebagai pasukan komando terbaik dunia. Juga Jerman  kewalahan dalam perang terbuka di kota Stalingrad, Uni Soviet yang menerapkan total gerilya tersebut. Pasukan Jerman keteteran karena tidak memperhitungkan musim dingin ekstrem dan suplai logistik yang terputus dan kekurangan personel bantuan karena menghadapi berbagai front melawan Sekutu dalam waktu bersamaan.  

Tidaklah mengherankan jika Bung Karno dalam “Di Bawah Bendera Revolusi" jilid 1, menulis bahwa Adolf Hitler itu dalam penjara berkali-kali membaca dengan tekun tentang Jengiz Khan, si Maha Imperialis Asia. Artinya pelajaran strategi kuno Sun Tze  itu, ternyata masih berlaku dalam sejarah perang modern hingga kini. Soekarno menyebut Hitler hanya meniru Jengiz Khan. Hitler belajar kepada orang Asia tentang perang. Dan salah satu pelajaran terpenting dari Sun Tze adalah tentang tersamar atau operasi senyap tersebut. Bahkan Sun Tze juga memberikan fatwa bahwa: “puncak tertinggi dari seni berperang adalah menaklukan musuh tanpa pertempuran.”

(The supreme art of war is to subdue the enemy without fighting). Kata-kata Sun Tze ini pula yang saya lihat tergantung pada dinding kantor Akbar Tanjung Institute, Pasar Minggu Jakarta. Nah, dalam era perang proxy atau perang asymetrik seperti dewasa ini, sebagai model perang kontemporer, di mana musuh dapat dikuasai tanpa letusan senjata. Dan itu dapat terjadi dengan menerapkan secara utuh petuah-petuah strategi perang kuno Sun Tze tersebut. Sementara ahli-ahli strategi perang modern seperti Carl von Clausewitz, penetapan garis Maginot dan lainnya, dengan perkembangan teknologi IT, jelas akan ditinggalkan. Sebaliknya ajaran perang kuno Sun Tze semakin terbukti saja kebenarannya.

Bahkan strategi Sun Tze digunakan oleh para taipan Cina untuk mengembangkan  korporasi bisnis ke berbagai pelosok dunia dewasa ini. Mereka menggurita di mana -mana sebagaimana riset Yoshihara Kunio tentang Erzats Kapitalisme Asia Tanggara maupun  gambaran Sterling Seagrave dalam bukunya Lords of the Rim ( Pendekar Pesisir) di mana bab tentang Indonesia disebut sebagai tempat bermainnya ikan paus. Dan salah satu ikan paus itu, kini tengah memasuki Teluk Weda Maluku Utara, dengan dibangunnya industri bahan jadi bateri untuk kebutuhan mobil listrik nanti sebagai kendaraan ramah lingkungan masa depan.(*)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan