Minggu, 20 Oktober 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Diolah Jadi ARV, Buah Golobe Bisa Diekspor

Diolah Jadi ARV, Buah Golobe Bisa Diekspor

Diposting pada 12/09/2018, 12:44 WIT
FOTO BERSAMA: Kepala BI Malut Dwi tugas Waluyanto (kiri), Dr dr Arend L. Mapanawang (tengah) dan salah satu pejabat Pemprov Malut Mulyadi Wowor. Foto lain, buah golobe (tuis merah). HUMAS BI FOR MALUT POST
FOTO BERSAMA: Kepala BI Malut Dwi tugas Waluyanto (kiri), Dr dr Arend L. Mapanawang (tengah) dan salah satu pejabat Pemprov Malut Mulyadi Wowor. Foto lain, buah golobe (tuis merah). HUMAS BI FOR MALUT POST

Dari FGD Bank Indonesia Malut tentang Potensi Ekspor Produk Kesehatan

Potensi sumber daya alam Maluku Utara memang sudah tak perlu diragukan lagi. Hanya saja, selama ini kekayaan tersebut belum mampu menopang nilai ekspor Malut. Bank Indonesia Perwakilan Malut berupaya menemukan potensi ekspor baru di bidang pertanian yang diolah menjadi produk kesehatan.

Suryani Tawari, Ternate

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Maluku Utara (Malut) melakukan FGD potensi ekspor Malut produk kesehatan di ruang Maitara Kantor BI Malut, Senin (10/9). Kepala BI Malut, Dwi tugas Waluyanto mengatakan, BI memfasilitasi hasil riset yang dilakukan Dr dr. Arend L. Mapanawang, SP. PD. Finasim terkait dengan penemuan obat HIV/AIDS yang menggunakan tumbuhan golobe. “Riset ini luar biasa, karena dari tumbuhan yang tumbuh di sekitar kita memiliki nilai tambah. Golobe atau tanaman yang ada di Malut mampu mengalahkan obat-obatan yang selama ini digunakan dunia,” ujarnya.
Dia menuturkan pasar Amerika dan Eropa sangat terbuka, sehingga kedepan golobe menjadi sumber ekonomi baru Malut. Karena disamping menjual produk hasil tanaman, golobe juga menjadi sumber pendapatan baru untuk petani atau masyarakat kalangan bawah. Tanaman golobe mudah ditanam  sehingga bisa diperbanyak penanamannya.
Dia juga menambahkan, BI akan mengkordinasikan dengan berbagai pihak yang punya kewenangan dalam hal ekspor. Terutama dalam hal perizinan seperti Dinas Kesehatan, Dinas perdagangan, Karantina dan BPOM. “Kita akan koordinasikan dan jika masih ada kendala bisa diselesaikan bersama. Semua instansi yang kita undang hari ini (10/9, Red) kaget dengan penemuan ini dan siap membantu,” pungkasnya.     
Ketua Stikes Halmahera Utara, Arend L. Mapanawang menuturkan, golobe merupakan tanaman yang dikonsumsi secara turun temurun di kampung-kampung. Karena itu dia tertarik melakukan riset soal tumbuhan ini.  “Biasanya orang yang pergi kebun berbulan-bulan konsumsinya buah golobe. Namun jika dikonsumsi dalam jumlah banyak biasanya orang susah BAB ,tapi kelebihannya orang lama lapar, karena itu saya penasaran, ada apa dengan biji-bijian ini,” ungkapnya.
Tahun 2015 dia melakukan riset dan hasilnya ternyata tanaman tersebut bisa menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Hasil risetnya itu belum bisa dikatakan obat melainkan hanya herbal. Karena untuk menjadi obat ada banyak tahap yang harus dilalui, sementara dia baru melalui tiga tahapan saja. “Hasilnya riset saya sudah dibuat dalam bentuk kapsul.  Untuk menjadi obat, harus uji klinik sampai uji tahap lima,” katanya. Kedepan akan dilakukan uji untuk ke tahap 4 dan 5 jika ada anggaran. Sebab untuk melakukan riset butuh biaya besar, dan permintaan pembiayaan sudah disampaikan ke Dikti namun belum diresopons.
Namun dr Arend sudah berkolaborasi dengan tujuh laboratorium di Indonesia. Selain itu dia juga bekerja sama dengan laboratorium Nano Teknologi Mus Nasional universitas Singapura. Dia mengaku Singapura, Inggris,  Malaysia, Belanda dan Amerika Serikat merespons, namun sayang pemerintah dalam hal ini Dikti belum memberikan jawaban.
Di satu sisi Pemprov Malut membantu dengan menyediakan 5 hektar lahan untuk ditanaman golobe. Tahun ini dalam APBD dianggarkan penanaman 6000 pohon. Dia menambahkan golobe juga ditemukan di Sulawesi utara, Raja Ampat, Maluku Tenggara dan daerah lainnya tapi yang digunakan dalam riset ini hanya dari Halmahera. Kedepan akan dilakukan pengecekan kandungan yang terdapat dalam golobe di daerah lain sama dengan golobe yang ada di Halmahera. “Yang saya gunakan untuk riset namanya golobe susu,” pungkasnya.
Kepala Bea Cukai Ternate, Musafak menambahkan golobe merupakan hal yang baru karena ada produk herbal yang tumbuh di Malut. Jika ditanaman di daerah lain, mungkin hasilnya berbeda. Bea Cukai menyambut baik jika golobe menjadi produksi baru di Malut. Musafak memastikan dan akan membantu dalam pengurusan dokumen ekspor produk golobe.(mg-02/adv/onk)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan