Selasa, 18 September 2018

 Headline

Mobil Rombongan Pengantin Makan Korban

Diposting pada 14/09/2018, 13:17 WIT
BOPONG: Salah satu korban selamat dalam lakalantas di Manaf dibopong setibanya di RSUD Sanana, Kamis (13/9). Foto lain, jenazah Sarif Buamonabot saat hendak dibawa ke rumah duka. IKRAM SALIM/MALUT POST
BOPONG: Salah satu korban selamat dalam lakalantas di Manaf dibopong setibanya di RSUD Sanana, Kamis (13/9). Foto lain, jenazah Sarif Buamonabot saat hendak dibawa ke rumah duka. IKRAM SALIM/MALUT POST

SANANA – Kondisi jalan yang buruk di Kecamatan Sulabesi Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula kembali memakan korban. Kali ini, kecelakaan lalu lintas menimpa satu rombongan keluarga pengantin. Lakalantas tunggal ini menyebabkan satu nyawa melayang dan dua lainnya mengalami patah tulang. Kecelakaan Kamis (13/9) itu bukan yang pertama kalinya terjadi di ruas jalan tersebut.
Insiden naas ini terjadi sekira pukul 11 siang. Saat itu, keluarga Sarif Buamonabot, warga Desa Nahi, Kecamatan Sulabesi Barat hendak mengantar adik mereka, Hasna Buamonabot dan suaminya Faisal Fokaya ke Desa Fuata, Sulabesi Selatan. Hasna baru saja menikah dan hendak bertolak ke rumah mertuanya di Fuata.
Rombongan ini lalu menyewa Toyota Hilux bernomor polisi DG 1517 XY. Di Kepsul, sudah umum mobil sekelas Hilux dimodifikasi lalu dijadikan angkutan umum antarkecamatan. Bagian bak diberi atap dan pagar besi serta tempat duduk untuk penumpang.
Mahria Kailul, salah satu korban selamat menuturkan, rombongan saat itu berjumlah 12 orang, termasuk dua anak di bawah umur. Hardi Gamkonora diminta mengemudikan mobil tersebut. Sebagian besar penumpang duduk di bagian bak.
Jalanan sepanjang Manaf-Wainib yang dilewati Hilux tersebut kondisinya sebagian masih amat memprihatinkan. Terutama di sekitar Desa Manaf, tempat kecelakaan terjadi. Menurut Mahria, ini pertama kalinya Hardi mengemudi melintasi jalanan tersebut.
Setibanya rombongan di dekat Manaf, Sulabesi Tengah, pada tanjakan kedua mobil tiba-tiba melambat dan tergelincir mundur. Penumpang langsung panik sementara laju mundur mobil makin tak terkendali. Kondisi jalan yang bergelombang akhirnya membuat Hilux itu terbalik. “Pas sampai di tanjakan S Desa Manaf itu langsung tiba-tiba mobil terguling
karena kondisi jalan yang tidak bagus,” kata Mahria yang masih terbaring lemas di RSUD Sanana.
Saat mobil tergelincir, Mahria dan beberapa korban lain tergencet besi mobil yang dipasang di pinggiran bak. Akibatnya, dia mengalami patah tulang kaki. Penumpang lain, Nofita Fatce, juga patah tulang. Sementara Sarif Buamonabot, kakak kandung pengantin perempuan, tewas seketika di lokasi kecelakaan. Sarif juga duduk di bagian bak. “Saat mobil tergelincir, saya lihat dia (Sarif) tidak ada di dalam mobil lagi. Dia duduk di bagian belakang, katanya dia loncat (dari mobil),” ungkap Mahria.
Namun ada korban lain yang mengaku melihat korban tergeletak di jalan saat mobil tergelincir. Diduga, anggota Satpol PP Kepsul itu terjatuh dan tergilas saat mobil tergelincir. ”Katanya dia sudah tergilas ban mobil, jadi langsung meninggal di jalan,” kata Hasanudin, korban lain.
Para korban langsung dilarikan ke RSUD Sanana. Setelahnya, korban meninggal dibawa ke rumah duka di Nahi.
Beberapa rekan Satpol PP Sarif yang ditemui Malut Post menuturkan korban baru saja lepas piket pagi kemarin. Sehari-hari, Sarif memang bertugas di kantor Bupati Kepsul. ”Pas pulang langsung dia ingin antar adiknya ke Fuata karena adiknya itu baru saja kawin,” kata rekan korban kemarin.
Bupati Kepsul Hendrata Thes yang dikonfirmasi turut menyampaikan dukacita mendalam atas meninggalnya Sarif. Hendrata juga menyatakan ruas jalan tersebut bakal dikerjakan tahun 2019. “Saya atas nama pemda berbelasungkawa atas kecelakaan yang menimpa korban tadi pagi (kemarin, red). Dan pemda saat ini lagi melakukan pekerjaan pemangkasan dan pemeliharaan jalan tersebut. Tahun depan di-hotmix dari PU,” tuturnya.
Sementara Kasatlantas Polres Kepsul Iptu Mochtar Saniapon menyatakan pihaknya telah mengamankan sopir dan kendaraan yang digunakan. ”Anggota sudah melakukan olah TKP dan untuk sementara kita periksa saksi-saksi dan surat kendaraan,” kata Mochtar di ruang kerjanya kemarin.
Polisi menduga penyebab kecelakaan lantaran sopir tidak mampu mengendalikan kendaraan saat naik di tanjakan curam tersebut. ”Info, sopir baru melintas di medan situ. Katanya mobil masih dalam posisi hidup saat tergelincir,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kepsul Syafrudin Sapsuha menuturkan ruas jalan sepanjang 10 kilometer yang menghubungkan Manaf dan Wainib akan dibangun pada 2019. Menurutnya, badan jalan tersebut baru dibuka pada 2009 lalu. “Sedangkan lapen sekitar 2013. Sudah pasti jalan akan dibangun pada 2019,” tandasnya.

 

Pemerintah Bisa Dipidana

BURUKNYA infrastruktur jalan di daerah kerap menjadi penyebab kecelakaan yang hingga merenggut nyawa. Di Maluku Utara, jalanan di wilayah pelosok kabupaten/kota masih banyak yang jauh dari kata layak. Padahal, pembiaran pemerintah terhadap infrastruktur bermasalah yang berpotensi menyebabkan kecelakaan dapat berakibat sanksi hukum.
Praktisi Hukum Armin Soamole mengungkapkan, masih banyak pemerintah daerah yang tidak memahami konsekuensi hukum yang akan menjerat mereka jika membiarkan jalan rusak tanpa perbaikan. Apalagi jika kondisi itu menyebabkan kecelakaan. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menegaskan, penyelenggara jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. “Banyaknya jalan yang rusak di negara ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak ada hentinya bagi pemerintah. Kondisi jalan yang rusak sering menyebabkan kecelakaan, bahkan mengakibatkan jatuh korban. Bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah, perlu alarm peringatan bahwa ada sanksi apabila membiarkan jalan rusak,” paparnya, Kamis (13/9).
Dalam Pasal 24 ayat (2) UU 22/2009 juga disebutkan, jika jalan rusak belum diperbaiki, penyelenggara wajib memberi tanda atau rambu peringatan di lokasi tersebut. “Kecuali jika kecelakaan karena kondisi cuaca, maka tidak terkena sanksi hukum,” sambung advokat Peradi ini.
Armin menjelaskan, ada ketentuan pidana bagi penyelenggara jalan yang abai terhadap kerusakan jalan sesuai wewenangnya. Dimana dalam Pasal 273 undang-undang lalu lintas menyebutkan kecelakaan karena jalan rusak yang mengakibatkan korban luka ringan dan/atau kerusakan kendaraan dapat dijerat dengan kurungan paling lama 6 bulan atau denda maksimal Rp 12 juta. “Kemudian kalau sampai mengakibatkan luka berat, dipidana kurungan maksimal 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta. Jika korban meninggal dunia, dapat dipidana penjara hingga 5 tahun atau denda paling banyak Rp 120 juta,” terang alumni Universitas Khairun ini.
Sedangkan dalam Pasal 273 ayat (4) disebutkan, penyelenggara jalan yang tidak memberi tanda atau rambu pada jalan yang rusak dan belum diperbaiki dapat dipidana penjara paling lama 6 bulan atau denda paling banyak Rp 1,5 juta.
Armin mengakui, saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang adanya aturan hukum yang menjamin hak mereka mendapatkan infrastruktur layak. Padahal kecelakaan di jalan akibat kondisi jalan yang buruk kerap ditemui. “Sudah banyak korban kecelakaan akibat jalan rusak. Jika korban atau keluarga korban sadar hukum, pasti penyelenggara bisa terkena sanksi hukum,” ujar pengacara yang tergabung dalam kantor pengacara Rasman Buamona dan Rekan ini.
Armin juga meminta pemerintah selaku penyelenggara dapat lebih serius menangani infrastruktur jalan dan jembatan. Selain pengerjaan, pengawasan juga perlu ditingkatkan. “Sehingga pihak ketiga atau kontraktor yang menangani pekerjaan jalan tersebut tidak asal jadi mengerjakan,” tandasnya.(ikh/kai)

Share
Berita Terkait

Bupati Semprot Anak Buah

15/02/2018, 09:33 WIT

Tiga Pejabat Dicopot

22/02/2018, 11:59 WIT

Hendrata: 11 ASN Tetap Dipecat

26/03/2018, 12:33 WIT

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,99%)       :       (16,01%)

Dahlan Iskan