Kamis, 23 Januari 2020

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Anan Ingin Ikut Jejak Rafid, Abduh Sebut si Bungsu Banyak Berubah

Anan Ingin Ikut Jejak Rafid, Abduh Sebut si Bungsu Banyak Berubah

Diposting pada 20/09/2018, 12:17 WIT
KAKAK ADIK KOMPAK: Anan Lestaluhu (kanan) dan Rafid Lestaluhu (kiri). Foto lain, Abduh Lestaluhu dalam seragam TNI kebanggaannya/ DOK PRIBADI
KAKAK ADIK KOMPAK: Anan Lestaluhu (kanan) dan Rafid Lestaluhu (kiri). Foto lain, Abduh Lestaluhu dalam seragam TNI kebanggaannya/ DOK PRIBADI

Cerita Trio Lestaluhu, Antara Sepak Bola dan Bela Negara

Tiga kakak beradik Lestaluhu –Rafid, Abduh, dan Anan- dikenal namanya karena sepak bola. Pemuda-pemuda asal Tulehu, Maluku ini memulai keseriusannya sebagai pesepak bola di Ternate, Maluku Utara. Menariknya, selain sepak bola, ketiganya sama-sama memiliki passion bela negara.

Sofyan Togubu, Ternate

Anan Mirgaf Lestaluhu merupakan yang paling bungsu dari tiga kakak beradik itu. Ia terpaut usia lima tahun dari dua kakak kembarnya, Rafid Chadafi dan Muhammad Abduh. Meski begitu, ketiganya meniti karier sepak bola pada masa yang sama.
Berusia 19 tahun, Anan kini bermain untuk Persija Jakarta. Ia baru saja memulai debut penuhnya bersama Macan kemayoran Agustus lalu. Selasa kemarin (19/8), alumni SMK Binter Ternate ini dipercaya tampil sebagai starter menggantikan Rezaldi Hehanussa yang terkena akumulasi kartu.
Tumbuh besar di Ternate, pemuda kelahiran Tulehu, 22 September 1999 ini sudah bermain bola sejak SD. Sejak kelas 4 di SD Negeri 1 Ubo Ubo, dia sudah mulai membawa nama Maluku Utara di ajang nasional. “Waktu SD saya pernah diikutkan ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di Jakarta,” kisah jebolan Sekolah Sepak Bola (SSB) Gamalama ini kepada malut Post, Senin (17/9).
Pada 2014, Anan bermain untuk Malut dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja I di Jawa timur. Tim Malut berhasil membawa pulang medali perunggu. “Setelah itu saya diberi kesempatan menimba ilmu selama sebulan di tim Frenz United Malaysia,” tutur putra pasangan Wahid Syam Lestaluhu dan Marwa Lestaluhu ini.
Saat duduk di bangku SMK, Anan bersama tim Binter mengikuti gelaran Liga 2. Pada 2017, dia juga sempat bermain untuk tim futsal Malut di ajang PON XIX Jawa Barat. “Waktu itu kami membawa pulang medali perak. Sebenarnya pada PON itu saya dipanggil untuk ikut seleksi di tim sepak bola Malut. Tapi saya pikir pasti tidak akan lolos karena yang ikut seleksi senior-senior semua,” ungkapnya.
Usai PON Jabar, Anan mengikuti seleksi di Persija U-19. Ia didorong pamannya yang juga pemain Persija, Ramdani Lestaluhu. “Dapat kabar dari om Ramdani Lestaluhu, dia beri tahu saya ada seleksi Persija U-19 yang dilaksanakan di Jakarta. Alhamdulillah dari 500 orang yang ikut seleksi, saya bisa lolos. Selesai liga tahun 2017 lalu, saya direkomendasikan ke Persija senior sampai sekarang,” paparnya.
Terjunnya Anan ke dunia sepak bola tentu tak bisa dilepaspisahkan dari peranan Rafid dan Abduh. Dua kakaknya tersebut sudah lebih dulu malang melintang di dunia kulit bundar. Sama seperti Anan, si kembar juga sempat mengasah kemampuannya di Persija.
Rafid kini membela Persita Tangerang, sementara sang adik Abduh bergabung dengan PS TIRA. Uniknya, selain main bola secara profesional, Rafid dan Abduh juga membela negara dengan cara lain.
Ya, Rafid adalah anggota polisi yang bertugas di Polda Jawa Timur, sedangkan Abduh sudah resmi menjadi prajurit TNI Angkatan Darat sejak 2015 lalu.
Pencapaian keduanya ini membuat Anan tertarik mengikuti jejak yang satu itu. Pemain yang berposisi sebagai bek kiri tersebut menyatakan niatnya menjadi polisi juga. “Insha Allah mau mencoba ikut masuk polisi. Kalau bukan di Jakarta, maka di Ternate. Ingin jadi polisi untuk mengantisipasi saat usia sudah lanjut nanti dan tidak bisa lagi tampil di lapangan,” aku pemilik nomor punggung 41 di Persija ini.
Keinginan bungsu dari lima bersaudara ini tentu saja disambut baik kakaknya, Rafid. Pemuda kelahiran 16 Oktober 1994 tersebut mengaku bangga dengan sikap Anan yang sudah memikirkan masa depan. “Sebagai kakak, saya bangga. Anan adalah anak yang taat ibadah dan selalu sopan saat bicara. Yang agak unik itu kalau soal penampilan dia maunya harus lebih bagus dari kakak-kakaknya,” kata Rafid sembari tertawa.
Berbeda dengan Rafid, Abduh secara blak-blakan mengaku adiknya itu paling malas di antara mereka. Menurutnya, itu disebabkan karena statusnya sebagai si bungsu. “Misalnya tiap mau latihan harus diingatkan dulu, baru latihan. Tapi alhamdulillah semenjak gabung Persija U-19 sudah banyak perubahan. Saya lihat sekarang dia punya motivasi besar untuk jadi pemain besar meski masih belum lepas mainnya,” pungkasnya.
Kritik dan masukan akan terus hadir di antara tiga kakak beradik pesepak bola ini. Namun satu hal yang pasti, ketiganya selalu saling dukung satu sama lain. Baik dalam pencapaian karier di lapangan hijau maupun saat berseragam institusi kebanggaannya masing-masing.(mg-04/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan