Senin, 27 Januari 2020

 Headline
MALUT POST / OPINI / "Magellan, Tidore-Ternate dan Ekspedisi Peradaban."

"Magellan, Tidore-Ternate dan Ekspedisi Peradaban."

Diposting pada 09/10/2018, 11:36 WIT

PENULIS: Syaiful Bahri Ruray
Anggota DPR RI

Ternate dan Tidore, dua pulau kecil dalam gugusan 17.508 kepulauan nusantara, pada 2021 nanti akan menjadi puncak perayaan 500 tahun perayaan ekspedisi Magellan. Ekspedisi Magellan ini demikian monumental dalam sejarah peradaban manusia karena itulah, perjalanan keliling dunia yang pertama kali dilakukan oleh umat manusia. Sebelumnya, kita percaya bahwa bumi itu datar, tidak bulat. Tidak mengherankan jika Galileo Galilei pun meregang nyawa karena teorinya tentang bumi yang terus berputar itu dianggap menentang doktrin keimanan. Galileo pun  dihukum pengucilan hingga akhir hayatnya karena dianggap sesat. Demikian teori telur bulatnya Christopher Colombus, dianggap aneh karena mengatakan bumi itu bulat. Dan pembuktian atas teori- teori tersebut terjadi melalui ekspedisi bersejarah yang dilakukan oleh Ferdinand Magellan, seorang anak muda Portugis. Awalnya ia mengajukan proposal ekspedisi kepada Raja Portugal, sayangnya sang raja tidak berkenan atas usulan tersebut. Magellan muda pun mengajukan proposal yang sama kepada Raja Spanyol King Charles I. Proposal ini adalah rencana ekspedisi menuju kepulauan rempah-rempah, Maluku. Dan disusunlah sebuah agenda ekspedisi ini dengan melibatkan 5 armada. Armada ini terdiri dari Concepcion, Trinidad, Victoria, San Antonio dan Santiago yang melibatkan anak  buah kapal dengan jumlah total 234 orang dari berbagai bangsa, Spanyol, Portugis, Perancis, Italia, Belgia, Yunani, Inggris  dan Jerman.
Armada ini tercatat bertolak dari pelabuhan Sevilla, Spanyol pada 8 September, 1519, dengan komandan armada adalah Ferdinand Magellan sendiri. Adapun yang kembali ke Spanyol nanti hanyalah Trinidad dengan 19 awak tersisa. Mereka tiba pada 6 September 1522 di Sanlucar de Barrameda.
Perjalanan armada  Magellan ini awalnya menuju arah Barat, karena dunia telah terbagi dua berdasarkan Perjanjian Teordesillas (1494), antara Spanyol dan Portugis yang disetujui Paus Alexander VI di Vatican. Ekspedisi ini demikian penting karena kedua bangsa super power abad pertengahan berebut menguasai lautan, terlibat konflik yang memicu perang terbuka. Sebagai dua bangsa dengan mayoritas Katolik, maka Paus pun turun tangan mendamaikannya melalui Perjanjian Tordesilas tersebut. Portugis sebagai pemilik belahan  dunia bagian  timur, telah menguasai Goa, India, hingga Malaka dan Macao yang tunduk pada Raja Muda Portugis Alfonzo de Alberqueque. Kota pelabuhan  penting Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, dimana seorang prajurit muda Ferdinand Magellan terlibat dalam pertempuran merebut Malaka tersebut. Tak lama setelah jatuhnya Malaka, dua orang prajurit muda Portugis, Fransisco Serrao dan Atonio de'Abreau pun mencari jalan menembus Maluku sebagai pusat rempah-rempah. Mereka tiba di Banda, Ambon dan kemudian Ternate pada 1512. Serrao lah yang membangun benteng Tolucco di Ternate. Serrao tercatat sebagai orang Eropa pertama yang menetap di nusantara hingga akhir hayatnya. Sedangkan de'Abreau kembali ke Lisabon.
Tidaklah mengherankan jika Magellan kemudian membuat proposal bahwa ia bisa menemukan pusat rempah-rempah di Maluku berdasarkan cerita para pedagang dan pelaut di Malaka. Raja Spanyol, King Charles I yang sebelumnya sempat mengutus Christopher Colombus menuju Maluku, malah kesasar (elpardidos) ke benua Amerika. Kapal del Pinto malah membuang sauh di Pantai Carribia pada 1492  lalu megira itulah Ternate dan Tidore asal cengkih dan pala.
Bahwa ekspedisi Magellan ini demikian penting di mata peradaban umat manusia modern dewasa ini, karena ekspedisi ini tercatat dengan baik di tangan seorang bangsawan muda Italia, Antonio Pigafetta yang menjadi juru tulis pada armada Spanyol ini. Demikian detail perjalanan yang dicatat Pigafetta ini, hingga dunia internasional pun mengenalnya sebagai jurnal perjalanan yang terbaik pertama yang pernah ada. Sayangnya Magellan sendiri, dalam perjalanan besar ini tewas dalam konflik lokal di Mactan, Kepulauan Filipina. Ia terbunuh oleh Raja Humabon pada 27 April 1521. Namun demikian, ekspedisi ke Maluku dilanjutkan oleh nakhoda kapal Victoria, Juan Sebastian del'Cano. Del'Cano sendiri adalah seorang Basque.
Tentang Ternate dan Tidore, Pigafetta dalam jurnalnya mencatat 3 jam sebelum terbenam matahari pada 6 November, 1521, Trinidad dan Victoria membuang sauh di Pantai Rum, Tidore. Dua hari kemudian mereka disambut hangat oleh Kolano Tidore AlManhoor, seorang Sultan yang gagah tegap bertampang Moor, berusia 55 tahun denga dua kora-kora kehormatannya. Trinidad dan Victoria pun menyambut AlManshoor dengan tembakan salvo penghormatan penuh dari seluruh meriam kapal yang ada. Juan Sebastian del'Cano menggelar karpet merah di atas geladak armada Spanyol tersisa tersebut dan memberi komando penuh terhadap seluruh awak Trinidad dan Victoria untuk berbaris membentuk pagar betis lalu mencium tangan AlManshoor sebagai bentuk penghormatan tertinggi mereka terhadap kepala negara sahabat. Pigafetta juga mencatat bahwa dua hari sebelumnya mereka telah sempat bersandar di dermaga Talangame (Pelabuhan Bastiong sekarang), namun tidak mendapat sambutan yang baik dari Sultan Ternate. Maklum saja karena Portugis telah ada di Ternate sejak 1512. Kehadiran Armada Spanyol ini tentu saja dianggap merusak perjanjian Tordesillas dan menggangu niat monopoli rempah-rempah Portugis di Maluku. Portugis pun melakukan protes keras atas Spanyol kepada Paus di Vatican. Akhirnya dibuatlah Perjanjian Saragosa pada 1529 karena pertemuan dua kekuatan dunia tersebut di Ternate dan Tidore. Pertarungan inilah awal mula melahirkan konsep awal hukum laut internasional hingga periode pertarungan seabad kemudian oleh dua raksasa maritim baru, Inggris dan Belanda. Pertarungan konseptual mana dikenal dengan "battle of the books" (pertempuran buku-buku) antara para jenius Hugo Grotius (Mare Liberum), yang membela kepentingan Belanda, melawan John Sheldon (Mare Clausum), yang mewakili kepentingan Inggris. Kepentingan global ini semua bertumpu pada satu titik, yaitu Ternate dan Tidore sebagai pusat pertarungannya.
Tidaklah mengherankan jika Hendradji Soepandji, di Tidore, menyatakan negeri ini adalah pusat dunia. Dan perayaan 500 tahun ekspedisi ini bukan merayakan kolonialisme, sebagaimana diungkapkan Hendradji Soepandji dalam FGD di Tidore. Tetapi memposisikan kembali bahwa kita adalah pusat dunia dimana persentuhan peradaban pernah terjadi dan bahkan  mengubah mindset umat manusia bahwa dunia itu bulat, tidaklah datar sebagaimana keyakinan awal manusia. Justru itulah alangkah disayangkan jika peristiwa peradaban sebesar ini, berlevel dunia ini, hanya dirayakan sebatas sebuah agenda seremonial belaka. Hendradji Soepandji sendiri adalah Ketua Global Network of Magellan Cities (GNMC), sebuah jaringan kerja sama kota-kota dunia yang dilintasi oleh Ekspedisi Magellan ini pada 1519-1521 tersebut. Ekspedisi ini tercatat melintasi 23 kota-kota dunia yang terhampar pada 12 negara dari benua Eropa, Amerika, Afrika hingga Asia.
Dan Ternate adalah salah satu dari 23 kota dalam rute ekspedisi Magellan ini sekaligus pusat rempah-rempah yang menjadi tujuan ekspedisi Magellan pada zamannya, 500 tahun silam. Pada perayaan ini, Maluku Utara diprediksi akan dikunjungi oleh 10.000 lebih wisatawan dan tamu dari 12 negara dan delegasi dari 23 kota dunia. Tentu saja, patut pula Kota Ternate menyambut peristiwa peradaban ini dengan nilai tukar yang sebanding. Agar Ternate dapat memperoleh posisi tawar di mata dunia, tarulah sebagai pusat destinasi wisata dunia. Kebetulan pula, Walikota Ternate Burhan Abdurrahman, sementara merancang agenda berskala internasional pula berupa 'Ekspedisi Rempah-rempah' dimana Ternate dijadikan sentralnya. Memang sejak lama, A.B.Lapian, Sejarawan maritim kesohor itu mengatakan bahwa jalur sutera (the silk road) itu sesungguhnya adalah 'the spices road' (jalur rempah-rempah). Karena terjalinnya peradaban bangsa-bangsa masa lalu, diawali melalui perdagangan rempah-rempah Maluku dari Ternate dan Tidore. Adapun kata sutera adalah sebuah metafora belaka dari kehalusan budi pekerti antar umat manusia dalam menjalin relasi peradaban antar bangsa tersebut. Memang jauh sebelum era Kristus, cengkih telah dikenal di Mesopotamia. Bahkan dalam ekspedisi The King of Solomon (Nabi Sulaiman) menuju Istana Ratu Bilqis (The Queen of Sheba) di Ethiopia, Raja Sulaiman dikisahkan sempat berpapasan dengan khafilah pedagang cengkih. Dalam sebuah pecakapan intens dengan Mufti Kesultanan Ternate, Al Habib Abubakar Al Attas, beliau menyampaikan bahwa Moloku Kieraha itu telah dikenal sejak era Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great) dari Macedonia tersebut.
Untuk itulah, dalam rangka memaknai masa lalu agar bermanfaat bagi masa kini dan ke depan, adalah pantas jika De Fort Oranje yang giat di renovasi Walikota Ternate sekarang, di jadikan sentral kegiatan akbar ini. Karena renovasi Fort Oranje sebagai markas besar VOC pertama di Asia Tenggara tersebut, mendapat apresiasi yang luar biasa dari Erasmuis Huis dan Kedutaan Belanda di Jakarta pada 2015 lalu dalam forum seminar "VOC Trading Post Arround the World." Dan tidaklah berlebihan jika kita sambut perayaan 500 tahun ekspedisi Magellan dengan hal kecil, semisalnya mengadakan lomba lari "10 KM Magellan-del'Cano" antar pelajar se SLTA baik se Kota Ternate atau se-Maluku Utara. Lomba lari ini tentu saja dapat dirangkaikan dengan agenda eksepdisi rempah-rempah yang sementara digagas Burhan Abdurrahman, lalu diselingi pagelaran budaya lokal serta kuliner sebagaimana yang diusulkan Handradji Soepandji sebagai Ketua Komite Seni Budaya Nasional (KSBN). Lomba ini tentu dapat dirancang menjadi agenda tahunan Kota Ternate untuk menjadi destinasi wisata dunia. Jika merujuk pada bangsa Spanyol, negara dengan penduduk 46 juta jiwa itu, setiap tahun dikunjungi 75 juta wisatawan asing pada 2017 lalu. Lalu apa yang menjadi nilai jualnya? Spanyol mampu menjual masa lalunya dengan baik. Warisan peradaban era kebesaran Dinasti Umayyah selama 7 abad, berupa monumen- monumen di Andalusia, Masjid Cordoba, Menara Giralda di Sevilla, dengan Istana Alhambra di Granada, Benteng Alcazaba di Malaga dan lainnya. Monumen-monumen masa lalu itu, ternyata dipelihara, dikemas dengan menjadi sumber kesejahteraan bagi rakyat Spanyol hari ini. Artinya sejarah bukanlah sebuah catatan kosong semata, ia adalah sumber nilai dan menjadi pintu bagi masa depan. Sejarah pun menjadi berkah ekonomi. Dan Spanyol memiliki nama besar, adalah juga karena kontribusi signifikan Ternate dan Tidore dalam membesarkan peradabannya. Mari kita memanfaatkan masa lalu ini, untuk tidak sekedar  menjadi sebuah memori kosong. Semuanya dapat kita rawat dan kemas menjadi pintu bagi kesejahteraan Indonesia ke depan. Dan ini bukanlah sesuatu yang sulit, apalagi  menjadi tidak mungkin jika kitapun membalik cerita sukses pariwisata Andalusia ke Maluku Utara. Ternate dan Tidore menjadi berdampingan menyambut 5 abad peristiwa peradaban dunia ini.
Tiada sesuatu yang tidak mungkin di bawah langit (Napoleon Bonaparte).

Kafe Jakofi, Bastiong,
7 Oktober 2018.(*)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan