Sabtu, 20 Oktober 2018

 Headline

Pertamax Naik, Premium Batal Ikut

Diposting pada 11/10/2018, 12:15 WIT
ANDRE Rosiade
ANDRE Rosiade

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, jenis Pertamax Series dan Dex Series, serta Biosolar Non-PSO mulai Rabu (10/10). Kenaikan harga ini berlaku di seluruh Indonesia mulai pukul 11.00 WIB kemarin.
External Communication Manager Pertamina Arya Dwi Paramita mengatakan, penyesuaian harga yang diimplementasikan dengan kenaikan harga hanya berlaku untuk BBM non subsidi Pertamax Cs dan Solar non subsidi saja. "Sedangkan harga BBM Premium, Biosolar bersubsidi dan Pertalite tidak naik. Khusus untuk daerah yang terkena bencana alam di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah sementara ini harga tidak naik," kata Arya, Rabu (10/10) seperti dilansir dari Liputan6.com.
Penyesuaian harga BBM jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Biosolar nonsubsidi merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik dimana saat ini harga minyak dunia rata-rata menembus USD 80 per barel. "Penetapannya mengacu pada Permen ESDM No. 34 tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2014, Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM," tutur Arya.
Atas ketentuan tersebut, maka Pertamina menetapkan penyesuaian harga. Sebagai contoh di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax Rp 10.400 per liter, Pertamax Turbo Rp 12.250 per liter, Pertamina Dex Rp 11.850 per liter, Dexlite Rp 10.500 per liter, dan Biosolar subsidi Rp.9.800 per liter. "Harga yang ditetapkan ini masih lebih kompetitif dibandingkan dengan harga jual di SPBU lain. Harga yang ditetapkan untuk wilayah lainnya bisa dilihat pada website Pertamina https://www.pertamina.com/id/news-room/announcement/," tandasnya.
Sementara itu, pemerintah akhirnya membatalkan kenaikan harga BBM jenis Premium. Padahal, awalnya harga BBM beroktan 88 itu akan naik pukul 18.00 WIB.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi, Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan pembatalan itu merupakan arahan dari Presiden Joko Widodo. "Sesuai arahan Presiden, rencana kenaikan harga Premium  agar ditunda dan dibahas ulang sambil menunggu kesiapan PT Pertamina (Persero)," kata dia kepada wartawan, Rabu (10/10).
Sebelumnya, dilansir dari katadata.co.id, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan kenaikan itu akan dilakukan sore hari, tergantung kesiapan PT Pertamina (Persero) untuk menyosialisasikan kebijakan tersebut. "Harga Premium naik jam 18.00 WIB hari ini," kata dia di Bali, Rabu (10/10).
Harga baru Premium untuk wilayah Jawa, Madura dan Bali (Jamali) nantinya dipatok sebesar Rp 7.000 per liter. Di luar Jamali harganya akan menjadi Rp 6.900 per liter. Saat ini harganya Rp 6.450 per liter. Harga tersebut tidak mengalami perubahan harga April 2016.
Kenaikan harga Premium ini juga dipengaruhi harga minyak dunia. Harga minyak jenis Brent sudah mencapai level US$ 80 per barel. Bahkan, harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sudah menyentuh level tertinggi sejak awal tahun yakni US$ 74,88 per barel. Padahal, asumsi ICP dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 hanya US$ 48 per barel.
Sementara itu, Pertamina sudah menaikkan harga Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Biosolar Non PSO. Harga Pertamax Rp 10.400 per liter dari sebelumnya Rp 9.500 per liter. Lalu, Pertamax Turbo naik Rp 1.550 per liter menjadi Rp 12.250 per  liter.
Pertamina Dex naik menjadi Rp 11.850 per liter dari sebelumnya Rp 10.500 per liter, Dexlite naik dari Rp 9.000 per liter jadi Rp 10.500 per liter. Adapun harga Biosolar Non PSO kini Rp 9.800 per liter, awalnya Rp 7.700 per liter.

Tiru BLT
Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade mengatakan pihaknya memahami rencana pemerintah menaikkan harga Premium. Akan tetapi, Andre meminta pemerintah memikirkan masyarakat kecil yang akan terkena dampak kenaikan Premium. "Mau naikin hari ini atau besok itu wewenang pemerintah. Tapi yang paling penting pemerintah harus siapkan kebijakan yang bisa menahan dampak munculnya kesulitan ekonomi masyarakat akibat harga Premium naik," kata Andre kepada CNNIndonesia.com.
Andre menyebut Presiden Joko Widodo bisa meniru langkah Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika menaikkan harga Premium diikuti dengan kebijakan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada rakyat miskin. BLT menjadi kompensasi atas kenaikan BBM di era SBY. "Pasti kan berdampak kenaikan Premium ini. Kalau di zaman SBY kan ada BLT, kita enggak tahu Pak Jokowi akan melakukan apa," ujarnya. "Jangan sampai Anda naikin BBM untuk amankan APBN, tapi Anda lupa ngurusin masyarakat," kata politikus Partai Gerindra itu menambahkan.
Di sisi lain, Andre menyebut kebijakan menaikkan harga BBM jenis Premium ini diambil pemerintah untuk meredam nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah. Menurut dia, kebijakan menaikkan harga Premium ini menjadi pil pahit bagi masyarakat. "Saya rasa kenaikan ini merupakan upaya pemerintah untuk meredam semakin turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ini salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah," ujarnya.
Terpisah, Waketum Partai Gerindra Fadli Zon lalu menyindir pemerintah atas kebijakan itu. Sindirin disampaikan Fadli lewat akun Twitter-nya, @fadlizon, dengan memuat lirik lagu 'Naik-naik ke Puncak Gunung'. Namun sama seperti lagu 'Potong Bebek Angsa', lirik lagu ciptaan Ibu Sud tersebut diubah oleh Wakil Ketua DPR itu. "Naik-naik BBM naik, tinggi-tinggi sekali," demikian kutipan Fadli seperti dilihat detik.com di Twitter, Rabu (10/10).
Tulisan lirik lagu Fadli dibuat dengan huruf besar semua (capslock). Fadli pun menambahkan dua hashtag yang salah satunya adalah tagar 2019 ganti presiden.(lip6/kd/cnn/dtc/kai)

Harga BBM Terbaru di Malut

Pertalite : Rp 8.000
Pertamax : Rp 10.600
Pertamax Turbo: -
Pertamax Racing : -
Dexlite : Rp 10.700
Pertamax Dex : -
Solar non-Subsidi: Rp 11.200
Minyak Tanah Non-Subsidi: Rp 13.420

Sumber: Pertamina

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,63%)       :       (16,37%)

Dahlan Iskan