Senin, 27 Januari 2020

 Headline
MALUT POST / OPINI / Bencana Alam dalam Perspektif Al-Qur'an dan As-Sunnah

Bencana Alam dalam Perspektif Al-Qur'an dan As-Sunnah

Diposting pada 12/10/2018, 12:14 WIT

Oleh: H. Usman Muhammad
Ketua MUI Kota Ternate
    
Dalam
perjalanan kehidupan manusia di dunia ini, manusia baik secara perorangan maupun berkelompok tidak pernah sepi dari berbagai permasalahan yang yang dihadapi. Permasalahan yang dihadapi juga beragam, ada persoalan yang sifatnya ringan-ringan saja sehingga dengan mudah manusia mampu menyelesaikannya tanpa harus menguras energi berupa pikiran, tenaga, waktu maupun biaya yang besar. Tapi ada juga permasalahan yang menimpa manusia dalam hidup ini begitu besar dan dahsyat seperti bencana alam (gunung meletus, banjir bandang, tsunami, tanah longsor, angin puting beliung dan lain-lain sebagainya), semuanya itu membutuhkan perhatian dan menguras energi manusia untuk mengatasinya.
    Satu hal yang perlu disadari ialah, segala bentuk bencana yang terjadi, bukan berarti bahwa Allah SWT bermaksud menzalimi kita manusia sebagai hamba-Nya. Dalam Al-Qur’an dijelaskan: “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi umat manusia, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri.” (QS. Yunus: 44).
    
    Dalam sebuah Hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, belajar (menuntut ilmu) bukan karena agama (tapi untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, anak durhaka kepada ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran ,membenci ayah, bersuara keras (menjerit-jerit) di masjid, orang fasik menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin yang diangkat dari golongan  yang rendah akhlaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minuman keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi Saw, tabi’in, dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa, longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain bagaikan untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda-tanda kiamat terjadi).” (HR. Tirmidzi).
    Kalau kita renungkan makna ayat Al-Qur’an maupun Hadits Rasulullah Saw, di atas maka kita dapat mengambil pelajaran bahwa terjadinya suatu bencana karena tiga kemungkinan yaitu: Pertama, merupakan adzab dari Allah SWT, disebabkan karena banyak dosa yang dilakukan. Kedua, sebagai ujian dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Ketiga, sudah merupakan Sunnatullah, dalam arti telah menjadi gejala alam atau hukum alam yang biasa terjadi. Bila kita melihat secara jujur kondisi Negara kita Indonesia tercinta dewasa ini, maka ketiga kemungkinan penyebab terjadinya bencana alam yang dikemukakan tersebut memiliki potensi yang sama.
    Jika berbagai bencana alam yang sering menimpa negeri ini, bila dikaitkan dengan perbuatan dosa, maka kita tidak bisa pungkiri hal itu. Karena kenyataan menunjukkan bahwa berbagai perbuatan dosa dan maksiat telah marajalela di negeri ini, malah perbuatan-perbuatan dosa tersebut justru dipertontonkan dengan rasa bangga dan tidak sedikitpun memiliki perasaan malu. Perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat tersebut baik dilakukan oleh kalangan pemimpin maupun sebagian masyarakat biasa, perintah agama diabaikan, orang-orang miskin diterlantarkan. Mari kita simak peringatan Allah dalam Al-Qur’an: “Jika Kami menghendaki hancurnya suatu negeri, maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan Kami) kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”(QS. al-Isra: 16).
    Kemudian bisa saja sebuah bencana yang menimpa manusia adalah ujian atas keimanan mereka, ketegasan Allah dalam Al-Qur’an: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “kami telah beriman,” dan mereka tidak di uji lagi?” (QS. al-Ankabut: 2). Dengan ujian yang diberikan oleh Allah SWT, jika manusia mampu menghadapi ujian itu dengan penuh kesabaran maka mereka akan diampuni dan dirahmati oleh Allah SWT, janji Allah dalam Al-Qur’an: “Gembirakanlah orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa sesuatu bencana, mereka mengatakan. “kami adalah milik Allah dan kepada Allah jualah kami akan kembali,” mereka mendapat ampunan dari Tuhan mereka dan rahmat, merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah: 155-157).
     Bencana yang menimpa manusia khususnya di Indonesia, jika dikaitkan dengan gejala alam atau Sunnatullah, itupun kemungkinan besar bisa terjadi. Karena secara geografis wilayah Negara kita berada di bagian bumi yang rawan bencana seperti gempa, tsunami dan letusan gunung berapi. Bahkan secara keseluruhan bumi yang ditempati umat manusia ini rawan akan bencana gempa, karena itu sudah merupakan ketentuan Allah SWT, atas bumi ini yang tentunya dengan berbagai hikmah di dalamnya, seperti pergerakan gunung dengan berbagai konsekuensinya. Hal ini dapat kita simak informasi dari Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagai berikut: “Dan engkau melihat gunung-gunung yang engkau kira tetap di tempatnya padahal ia bergerak sebagaimana awan bergerak. (Itulah) ciptaan Allah yang menciptakan sesuatu dengan sempurna. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. an-Naml: 88).
    Kita harus tetap optimis dan selalu berupaya mengenali hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan atas alam ini, alangkah sangat bijaksananya kita, jika selalu mengadakan introspeksi terhadap diri kita, sudah sejauh mana perintah Allah kita lakukan dan larangan-Nya kita jauhi. Hadits Rasulullah Saw, yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi di atas, patut menjadi bahan renungan bagi semua elemen bangsa ini yang sering dilanda berbagai bencana yang datang silih berganti.
    Walaupun demikian, manusia harus menyadari bahwa alam dan segala isinya ini diciptakan oleh Allah Swt, dan diserahkan kepada manusia sebagai Khalifatullah fil ardhi (wakil Allah di muka bumi) bisa memanfaatkannya sesuai dengan ketentuan Allah yang disertai rasa syukur dan ketaatan kepada-Nya niscaya Allah akan melindungi dan memelihara kita, bahkan dilimpahi berkat baik dari langit maupun dari bumi. Mari kita renungkan dua ayat Al-Qur’an berikut ini:
“Dan sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan,” (Qs. Al-A’raf: 96)
“Barangsiapa yang mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. An-Nahl: 97).  (*)

   

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan