Minggu, 18 November 2018

 Headline

17 Jamaah Diamankan dari Kepungan Warga

Diposting pada 02/11/2018, 08:57 WIT


TERNATE - Kepolisian Resort Ternate mengamankan 17 orang dari rumah salah satu warga di RT/RW 006/003 Lingkungan Torano, Kelurahan Marikurubu, Kota ternate Tengah, Kamis (1/11) dini hari. Mereka dituduh melakukan ritual keagamaan tertentu yang menyimpang. Warga yang melakukan penggerebekan sempat hendak menghakimi kelompok ini sebelum akhirnya diamankan kepolisian.
Lurah Marikurubu Murdi H. Hukum kepada Malut Post mengakui keberadaan kelompok tersebut membuat resah warga setempat. Menurutnya, sudah 2 tahun lamanya kelompok jamaah itu beraktivitas di kampungnya. Jufri Abuhai, si pemilik rumah, diketahui sebagai warga Kampung Makassar Barat yang membeli rumah di situ. “Dia tidak terdaftar sebagai warga Marikurubu. Masyarakat juga awalnya tidak curiga jika ada aliran baru di sini,” tuturnya saat ditemui di Marikurubu kemarin.
Kecurigaan warga baru muncul setelah beberapa waktu belakangan para anggota kelompok sering beraktivitas di rumah itu hingga subuh. “Nah, rencana kemarin itu saya mau langsung cek, apakah benar ada aliran tersebut. Tapi malamnya warga sudah berkumpul di rumah tersebut. Untung cepat dilerai, kalau tidak warga sudah hakimi mereka,” sambung Murdi.
Kecurigaan juga ditambah dengan letak rumah tersebut yang memang agak jauh dari pemukiman warga lain. Selain itu, pemilik rumah dan anggota kelompok terbilang tertutup. “Jadi tadi malam (kemarin, red) pas warga datangi, mereka sedang adakan ritual. Saat kami cek ternyata ritual itu di atasnya ditutup pakai kain putih namun di bawahnya ada tiga orang perempuan serta tujuh laki-laki,” jabar Murdi.
Hal yang membuat warga bertanya-tanya, lanjut Murdi, adalah kondisi rumah yang dibiarkan gelap lantaran lampunya sengaja dimatikan. “Saat itu yang lain ada di luar rumah, yang di dalam hanya mereka bertujuh. Untungnya malam itu cepat datang pihak kepolisian, kalau tidak warga sudah hakimi,” tuturnya.
Murdi mengaku tak tahu pasti nama aliran tersebut. Ia juga belum bisa menyimpulkan apakah kelompok itu tergolong menyimpang atau tidak. “Namun untuk mengantisipasi keselamatan mereka, tadi sudah rapat kami sudah putuskan agar warga tetap menahan diri dan tidak mengambil tindakan berlebihan. Biar nanti MUI yang menyelidiki apakah aliran itu sesat atau tidak,” pungkasnya.
Dini hari saat kelompok tersebut diamankan ke Mapolres, Wakapolres Ternate Kompol Jufri Dukomalamo menyatakan pengamanan terpaksa dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebelumnya, polisi mendapat laporan masyarakat tentang adanya aktivitas kelompok tertentu yang menjurus ke Syiah. “Kemudian masyarakat saat itu telah mengepung rumah yang dipakai untuk dilakukan prosesi itu. Sehingga kami yang dibantu dengan Babinsa membawa jamaah itu ke Polres. Bukan untuk ditangkap tapi mengamankan mereka agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bersama,” kata Jufri.
Dia menyatakan, setelah polisi meminta klarifikasi pemimpin kelompok, mereka mengaku tidak termasuk dalam aliran sesat. Menurut pengakuan jamaah, yang dipraktikkannya adalah mempelajari tingkatan ilmu dalam Islam yang disebut makrifatullah. “Jadi tidak ada unsur Syiah di dalamnya. Setelah mengambil keterangan, mereka langsung kami kembalikan ke tempat masing-masing,” ujar Jufri.
Dia juga mengimbau warga agar tidak langsung mengambil tindakan persekusi saat menemui hal-hal semacam itu di lingkungan mereka. Yang harus dilakukan, katanya, adalah melaporkan ke pihak berwajib. “Agar diklarifikasi dulu apakah yang mereka lalukan ini masuk ke aliran sesat atau tidak,” pintanya.
Pemimpin (Jogugu) kelompok tersebut, Muhammad Saleh, saat dikonfirmasi Malut Post kemarin mengatakan aktivitas yang dijalankan oleh kelompoknya itu bukan suatu aliran baru dalam Islam. Dia menjelaskan, dalam Islam ada beberapa kelas atau tingkatan yakni syariat, hakikat, tarikat dan makrifat. Menurutnya, hal tersebut seperti yang disampaikan Rasulullah dalam hadisnya. “Rasulullah mengatakan, barangsiapa yang mengenal dirinya maka dia bisa mengenal Allah SWT. Ini artinya dibalik syariat itu ada rahasia-rahasia di dalamnya. Itu yang perlu diketahui, namun memang tidak bisa dibuka rahasia itu. Semua itu menuju kepada suatu titik yang namanya makrifatullah. Tapi masyarakat beranggapan bahwa ini adalah ajaran Syiah, padahal kita bukan Syiah,” ungkapnya.
Saleh mengaku memaklumi tindakan masyarakat yang mempersoalkan aktivitas mereka. Pasalnya, sambung dia, masyarakat tak paham apa yang mereka lakukan. “Kalau untuk prosesi yang dilakukan itu ada aturannya sendiri,” ujarnya.
Haji Harun, salah satu petinggi kelompok tersebut menambahkan, prosesi tersebut sejalan dengan pertanyaan umum masyarakat. Pihaknya dalam hal itu sangat memahami hubungan ajaran Islam dengan syariat yang harus dilaksanakan. “Itu sangat kami pahami, jadi orang mungkin anggap ajaran kami ini bertentangan dengan syariat seperti ajaran Syiah. Tapi ini hanya miskomunikasi,” katanya.
Pelaksanaan tentang tingkatan-tingkatan itu, menurut Haji Husen banyak diminati oleh masyarakat lainnya. Karena pelaksanaan itu lebih cenderung membangun semangat manusia untuk melaksanakan ibadah atau membangun jiwa manusia untuk lebih semangat lebih melaksanakan ibadah serta meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh agama. “Tapi masyarakat mengira bahwa ini Syiah. Justru saya yang menghabisi Syiah di Ternate. Kelompok Syiah pernah dialog dengan saya tapi saya taklukkan mereka,” tegasnya.
Dia menjelaskan, kegiatan belajar tingkatan ilmu dalam Islam sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala. “Kegiatan ini sudah dilakukan sejak nenek moyang terdahulu sampai turun temurun hingga sekarang. Bahkan kegiatan ini turut membantu menjaga ketahanan NKRI,” jelasnya.

Tidak Terpengaruh
Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Ternate mengimbau agar masyarakat Maluku Utara, terutama kota Ternate, tidak terpengaruh dengan aliran yang menyimpang dari ajaran Islam. "Selaku Ketua MUI kota Ternate, saya mengimbau kepada seluruh masyarakat khususnya kota Ternate agar jangan mudah percaya dengan aliran yang menyesatkan," kata Ketua MUI Ternate Usman Muhammad kemarin (1/11).
Usman meminta agar warga segera melaporkan ke MUI dan pihak kepolisian jika ada aliran yang dicurigai sesat. Dia juga berjanji akan melakukan koordinasi dengan kepolisian untuk penanganan dugaan aliran sesat. “Jika memang terbukti menyimpang dari ajaran Islam, MUI secara kelembagaan akan memfatwakan agar aliran tersebut dibubarkan. Kita akan koordinasi dengan semua pihak” katanya.
Saat ini, seluruh jamaah kelompok tersebut sudah dipulangkan dari Mapolres. Namun tak ada satu pun yang kembali ke rumah Jufri Abuhai di Torano.(cr-05/cr-04/tr-01/kai)

 

Share
Berita Terkait

Player CV Ubay Jaya Ditahan

08/03/2018, 13:02 WIT

Dana Ratusan Miliar Menguap

09/03/2018, 12:54 WIT

Ayah Perkosa Anak Kandung

15/02/2018, 09:18 WIT

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,29%)       :       (16,71%)

Dahlan Iskan