Minggu, 18 November 2018

 Headline

Sampai Akhirnya Akrab dengan Suster

Diposting pada 08/11/2018, 12:46 WIT
PENYINTAS: Prof. Luo Rong Cheng memberikan piagam sukses menghadapi kanker kepada Sri Suryani di Fuda Cancer Hospital, Selasa (23/10). FERLYNDA PUTRI/JAWA POS
PENYINTAS: Prof. Luo Rong Cheng memberikan piagam sukses menghadapi kanker kepada Sri Suryani di Fuda Cancer Hospital, Selasa (23/10). FERLYNDA PUTRI/JAWA POS

Sri Suryani yang Berhasil Sintas dari Kanker Ovarium di Usia Senja

Di RS Fuda, Tiongkok, Sri Suryani berhasil sembuh dari kanker ovarium stadium 3B tanpa harus menjalani operasi. Lebih dari satu dekade berselang, pada pekan terakhir Oktober lalu, wartawan Jawa Pos FERLYNDA PUTRI turut mendampingi dia dan para penyintas lainnya berkunjung lagi ke sana.

---

"MATI dan lahir itu di tangan Tuhan, bukan di tangan dokter. Mama cari dokter yang berjodoh," kata Alfred Liong, anak Sri, di ujung telepon pada suatu pagi.
Sri yang waktu itu berusia 72 tahun putus asa setelah dokter di salah satu rumah sakit (RS) di Shenzhen, Tiongkok, angkat tangan.
Angkat tangan dalam arti sesungguhnya. Mengangkat kedua telapak tangan, tanda menyerah.
Kanker telah menggerogoti ovarium perempuan kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, tersebut. Tidak ada harapan. "Sri, kamu harus hidup ya. Kamu sekarang ke Fuda," kata seseorang di ujung telepon yang masih dipegang anak bungsu Sri itu. Seketika telepon mati. Waduh, di mana itu Fuda?
Kebetulan rumah Sri di Shenzhen dikoskan. Ada dua orang yang tinggal. Dia meminta salah seorang anak kos membuka internet, mencari Fuda. Ternyata sebuah RS di Guangzhou. Target didapat. Nomor telepon di tangan. "Halo, ini rumah sakit apa ya?" kata Sri dengan bahasa Mandarin.
"Rumah sakit khusus kanker," kata resepsionis.
Wah pas betul. Tak banyak berpikir, Sri lalu mendaftarkan namanya. Dia membuat janji akan datang periksa pada sore harinya. Kebetulan Shenzhen dengan Guangzhou bersebelahan. Bisa diakses dengan kereta.

***

Dua minggu sebelum sampai di Negeri Panda pada 2008, Sri masih di Boston, Amerika Serikat (AS), tinggal bersama salah seorang di antara lima anaknya. Dia memang sudah sepuluh tahun tinggal di sana. Bahkan telah pula mengantongi kewarganegaraan AS.
Ibu lima anak yang suaminya meninggal kala dirinya berusia 60 tahun itu khawatir ketika pada suatu pagi mengalami menstruasi. Padahal, menstruasi terakhirnya telah berhenti 20 tahun lebih. Dia akhirnya pergi ke dokter. "Empat dokter yang periksa saya. Mereka menyatakan kanker ovarium," kenang Sri.
Vonis dokter menyatakan bahwa rahim Sri harus diangkat. Dia menolak. Takut. "Sri, kamu mati kalau tidak mau operasi. Itu kata dokter yang paling senior," ujarnya menirukan ucapan salah seorang dokter.
Sri tetap kukuh untuk tidak melakukan operasi. Namun, kalau harus meninggal, dia mau kembali ke tanah air. Dan dia memang akhirnya pulang ke Indonesia.
Seminggu di kampung halaman, Sri berpikir, kalau hanya berpangku tangan, kanker pasti akan kian menguasai tubuhnya. Dia akhirnya memutuskan pergi ke Tiongkok. Mencari pengobatan dengan rempah-rempah. Barangkali bertemu dengan "jodoh" yang menyembuhkan.

***

Sri membawa harapan ke RS Fuda pada September 2007 itu. Namun, di sisi lain, dia pesimistis. Khawatir akan disuruh operasi seperti oleh dua RS sebelumnya. Jadi, dia hanya membawa dua setel pakaian.
Empat dokter menangani Sri di RS Fuda. Pemeriksaan awal dilakukan dengan melihat kondisi ovarium Sri. "Operasi tidak dan apakah bisa tertolong?" tanya Sri kepada dokter.
Dokter Niu Lizhi yang menjadi leader dalam pemeriksaan optimistis bisa menolong Sri. Yang lebih menggembirakan adalah tanpa operasi.
Perempuan yang berulang tahun setiap 6 Agustus tersebut dirawat tiga bulan. Ada banyak tindakan yang dilakukan. Dua kali dokter melakukan kriosurgeri (cryosurgery), empat kali kemoterapi lokal, dan dua kali imunoterapi.
Kriosurgeri membuat kanker di ovariumnya beku dan akhirnya mati. Kemoterapi lokal juga membantu melumpuhkan kanker dengan efek lokal. Sedangkan imunoterapi membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh Sri terhadap kanker. "Tiga bulan itu saya bantu jadi penerjemah kalau ada pasien dari Indonesia," katanya.

***

Ke RS Fuda itulah kami, lima penyintas kanker yang pernah dirawat di sana dan sejumlah media dari Indonesia, berkunjung pada pekan terakhir Oktober lalu. Tiga di antara lima penyintas tersebut dulu penderita kanker payudara. Dua lainnya kanker ovarium.
Selama dirawat di sana, September-November sebelas tahun lalu, karena sering diminta tolong menjadi penerjemah, Sri pun dekat dengan para suster. Rabu (24/10) lalu, ketika kembali ke RS tempatnya dirawat satu dekade silam, Sri bertemu dengan Yan Siu Lee, suster kepala lantai 6.
Pertemuan di kantin lantai 3 RS Fuda itu sangat mengharukan. Mereka berpelukan lama. Mata basah. "Saya rindu," kata Siu Lee saat ditanya mengapa menangis.
Sepulang dari RS Fuda, Sri betul-betul menjaga kondisi. Dia ingat di RS sempat diberi tahu soal sel kanker yang tumbuh akibat pola hidup dan emosi. Eyang sembilan cucu dan dua cicit itu mencoba mematuhi.
Sampai kini, di usia yang sudah 83 tahun, untuk menjaga emosi, Sri kerap melakukan meditasi. Olahraga taici dipilih untuk membantu meditasi dan menyegarkan tubuh. "Saya coba tidak emosi juga. Saya lebih baik mengalah," ungkapnya.
Usia Sri boleh semakin tua. Namun, semangatnya tetap membara. Hal itu terbukti ketika rombongan media dan penyintas kanker akan jalan-jalan, Sri menolak untuk berdiam diri di hotel. Padahal, satu tempat ke tempat lain lebih banyak ditempuh dengan jalan kaki, tapi dia pun ikut. "Enggak capek, cuma kakinya sakit kalau jalan lama. Dulu pernah ditabrak motor," bebernya ketika saya tanya keadaannya.(jpc/kai)

Share

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,29%)       :       (16,71%)

Dahlan Iskan