Rabu, 29 Januari 2020

 Headline
MALUT POST / / Ayah Hamili Anak Kandung

Ayah Hamili Anak Kandung

Diposting pada 28/11/2018, 12:32 WIT
Ilustrasi
Ilustrasi

SANANA – Peristiwa pemerkosaan sedarah terjadi di Kecamatan Mangoli Timur, Kepulauan Sula. Seorang pria harus berurusan dengan hukum setelah aksi bejatnya terbongkar. Ia memperkosa anak kandungnya sendiri hingga berbadan dua.
Adalah RK alias Rano (35) yang juga oknum kepala dusun di Desa Waitina, Mangoli Timur. RK menggauli putri kandungnya, Aster (bukan nama sebenarnya), yang belum genap 18 tahun. Akibatnya, Aster yang duduk di bangku kelas 3 SMA itu saat ini tengah hamil.
Perbuatan bejat RK terbongkar ketika Aster mengetahui dirinya berbadan dua. Ia pun mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) dengan maksud hendak kawin lari dengan pacarnya, Minggu (25/11). Pacar Aster adalah warga kampung tetangga.
Mendengar aduan kawin lari itu, salah staf KUA lantas membawa Aster ke rumahnya sembari menunggu proses pernikahan. Staf tersebut juga mengabarkan hal tersebut kepada RK yang tak lain adalah ayah kandung Aster.
RK yang mendengar putrinya hendak menikah marah besar. Dia mendatangi rumah staf KUA dan memarahi Aster beserta si staf. Usai melampiaskan kemarahannya, RK menyeret Aster pulang. Di rumah, remaja tersebut juga dipukuli.
Aster yang tak tahan lagi dengan perlakuan ayahnya langsung menceritakan perbuatan RK kepada bibinya. Ia mengaku sejak 2015 lalu, atau saat masih duduk di bangku kelas 3 SMP, RK telah rutin menggaulinya. Selama itu pula, Aster diancam agar tak menceritakan aksi bejat RK pada siapa pun.
Pengakuan Aster sontak membuat naik pitam sang bibi. Ia lalu meneruskan cerita ponakannya pada anggota keluarga lain. Geger lah seluruh keluarga besar. Warga setempat pun akhirnya tahu. “Dari situ semua terbongkar,” kata salah satu warga Waitina kepada Malut Post, Selasa (27/11).
Warga yang murka pun mendatangi dan mengeroyok RK hingga babak belur. Mereka juga diam-diam melaporkan perbuatan mesum pelaku ke pihak kepolisian.
Belum sempat polisi menjemput RK, ia justru mendatangi ruang penyidik Satreskrim Polres Kepsul Senin (26/11) kemarin. Kedatangan RK itu untuk melaporkan aksi pengeroyokan warga terhadapnya. Ibarat senjata makan tuan, polisi malah memprosesnya atas tudingan pemerkosaan.
RK langsung digiring ke ruang unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk dimintai keterangan sebagai tersangka. Dia juga langsung ditahan saat itu juga. ”Iya, dia sendiri yang datang melapor soal pengeroyokan ke kita,” kata salah satu petugas polisi.
Di hadapan polisi, RK mengakui perbuatannya. Dia pun dijerat dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Kasat Serse IPTU Paul Yustiam membenarkan adanya kejadian tersebut. “(Tersangka) sudah kita tahan dan periksa saksi-saksi,” tuturnya kemarin.
Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kepsul Rusmyati Gay menuturkan pihaknya langsung melakukan pendampingan kepada korban setelah mendengar laporan tersebut. Sedangkan kekasih korban tetap mau menikahinya. “Keluarganya membawa korban untuk dinikahkan,” kata Rusmyati.

Kurang Peka
Peristiwa pemerkosaan anak oleh anggota keluarganya sendiri ini bukanlah kasus pertama di Maluku Utara. Psikolog Siti Munadiyah Badar menuturkan, kasus semacam ini disebut incest rape, yakni pemerkosaan yang dilakukan oleh keluarga sedarah. “Kondisi ini terjadi ketika keluarga bukan lagi menjadi tempat aman bagi perempuan anak,” tuturnya kepada Malut Post kemarin.
Kenekatan pelaku melakukan incest rape, sambung Munadiyah, didorong oleh ketidakmampuannya menguasai hasrat seksual. Hal lain yang mendorong terjadinya incest rape adalah kuatnya nilai-nilai budaya patriarki dalam keluarga. “Sehingga ada anggapan bahwa laki-laki bisa mendapatkan sesuatu jika ia menginginkannya. Dan adang perempuan dipandang sebagai objek dari hal tersebut (pemenuhan kebutuhan, red),” sambung Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Prodi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam IAIN Ternate itu.
Kurangnya kedekatan emosional dalam keluarga juga dapat mendorong terjadinya incest rape. Munadiyah mencontohkan, sosok ibu bisa jadi kurang memberikan perhatian terhadap anak perempuannya, sehingga perbuatan pelaku yang terjadi selama bertahun-tahun luput dari pandangannya. “Ibu maupun orang terdekat. Jadi lingkungan terdekat kurang peka,” katanya.
Dia menambahkan, nilai-nilai dalam keluarga yang salah kaprah juga berperan dalam “pembiaran” incest rape. Misalnya, anak diajarkan untuk patuh dan menuruti apapun perintah orang tua. Di sisi lain, kesempatan untuk anak bersikap kritis justru dibungkam. Akibatnya, anak menelan mentah-mentah perintah orang tua lantaran kurangnya pengetahuan dan pemahaman. “Sehingga alasan anak ‘menerima’ dilecehkan karena patuh dengan perintah orangtua. Atau bisa jadi karena takut dengan ancaman,” ungkap alumnus Universitas Surabaya tersebut.
Sementara berlangsungnya incest rape selama bertahun-tahun disebabkan masih adanya fenomena victim blaming, dimana orang yang menjadi korban pemerkosaan justru disalahkan oleh masyarakat. “Hal ini akan mempengaruhi cara pandang kita dalam melihat kasus ini,” ucap Munadiyah.
Ia menekankan, pola hubungan dalam keluarga yang sehat harus didasari kepekaan emosional antara ayah-ibu-anak. Komunikasi yang baik harus selalu terbangun. “Sehingga jika ada masalah sekecil apapun anak bisa terbuka dan curhatnya ke orangtua sebagai orang yang dipercaya. Kalau dari awal tidak ada kehangatan dalam hubungan antaranggota keluarga, kurang adanya komunikasi, anak tidak akan cerita. Untuk hal kecil saja anak tidak berani cerita, apalagi untuk masalah seberat ini,” terangnya.
Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat dan Tanggung Jawab Sosial Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Maluku Utara ini menegaskan, pada kondisi seperti di Kepsul, keluarga harus mendukung korban untuk pulih. “Pelaku tetap pelaku apapun hubungan kekerabatannya, dan harus dihukum,” tandasnya.(ikh/kai)

 

Ayah Bejat Kena Batunya

* Korban Aster (18, bukan nama sebenarnya) mendatangi KUA untuk kawin lari lantaran tengah berbadan dua. Ia minta dinikahkan dengan pacarnya
* Petugas KUA lalu melaporkan kepada orangtua korban
* Ayah korban, RK (35), lantas menyeret pulang korban. Ia juga memarahi dan memukuli Aster
* Aster yang tak kuat lagi akhirnya membongkar perbuatan RK yang telah menggaulinya sejak 2015
* Warga yang naik pitam langsung mengeroyok RK hingga babak belur. Mereka juga melaporkan ke pihak kepolisian
* Esoknya, RK mendatangi kantor polisi untuk melaporkan pengeroyokan terhadapnya. Ibarat senjata makan tuan, ia justru ditahan atas tuduhan pemerkosaan

 

Share
Berita Terkait

Tiga Pejabat Dicopot

22/02/2018, 11:59 WIT

Ayah Hamili Anak Kandung

28/11/2018, 12:32 WIT

Prabowo-Sandi Unggul di Lapas Sanana

18/04/2019, 12:56 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan