Rabu, 12 Desember 2018

 Headline

Akui Dana Ada, Tapi tak Yakin Bisa Cair

Diposting pada 04/12/2018, 12:05 WIT
TUNTUT PENCAIRAN: Nasabah PT Karapoto memadati Mapolres Ternate untuk mendengarkan keterangan Direktur Karapoto terkait pencairan dana mereka.HIZBULLAH MUJI/MALUT POST
TUNTUT PENCAIRAN: Nasabah PT Karapoto memadati Mapolres Ternate untuk mendengarkan keterangan Direktur Karapoto terkait pencairan dana mereka.HIZBULLAH MUJI/MALUT POST

TIDAK terbukanya pengelola perusahaan investasi PT Karapoto Teknologi Finansial dalam memberikan keterangan membuat kabar simpang siur beredar di luar. Tertutupnya informasi tersebut diantaranya berkaitan dengan jumlah nasabah dan besar dana yang telah dihimpun dari masyarakat. Ada dugaan, Karapoto sendiri tidak memiliki data lengkap tentang nasabah mereka. Apalagi jumlah dana yang disetor tiap nasabah berbeda-beda besarannya. Diperkirakan, dana yang terhimpun mencapai triliunan rupiah yang berasal dari nasabah di seluruh kabupaten/kota.
Salah satu informasi liar yang juga beredar adalah tidak cairnya dana para nasabah lantaran Bank Indonesia (BI) enggan mencairkan anggaran tersebut. Hal ini langsung dibantah tegas Kepala BI Maluku Utara, Dwi Tugas Waluyanto. Dwi menjelaskan, berapa pun jumlah dana yang tersimpan di bank tetap akan dicairkan sesuai permintaan nasabah. “Gagal bayar atau gagal pencairan dana nasabah sangat dihindari oleh perbankan, karena mengakibatkan menurunnya trust masyarakat,” tegasnya, Senin (3/12).
BI sendiri tidak berurusan langsung dengan nasabah. Pihak bank lah yang berurusan dengan nasabah. Sementara BI berurusan dengan bank-bank di bawahnya. “Jadi kalau ada bank yang ingin mencairkan dalam jumlah banyak dan tidak tersedia dana cash maka bank akan mencairkan dananya di BI,” kata Dwi.
Terpisah, penasehat hukum pengelola Karapoto, Halied Fadel mengungkapkan, desakan atau tuntutan yang disampaikan para nasabah kemarin disebabkan kliennya telah mengeluarkan pernyataan akan membayar uang mereka pada November dan Desember 2018. Lantaran janji tersebut tidak direalisasikan, nasabah mendatangi kediamannya untuk menuntut pembayaran. “Penundaan pembayaran ini juga di luar dugaan tim PH. Namun tadi (kemarin, red) perwakilan para nasabah dan klien kami sudah duduk bersama dan menghasilkan kesepakatan melalui surat pernyataan bahwa pada 31 Januari 2019 akan dilakukan pembayaran,” kata Halied yang didampingi Syafrin S. Aman.
Dia menuturkan, bila pada 31 Januari 2019 mendatang kliennya melakukan pembayaran maka pembayaran tersebut akan dilakukan secara bertahap. Hal itu akan diatur secara teknis oleh kliennya. “Karena dengan jumlah uang yang banyak tidak akan bisa dibayarkan dalam satu hari penuh,” tuturnya.
Ia juga menyerahkan sepenuhnya kepada para nasabah bila surat pernyataan terkait waktu pembayaran itu tidak dipenuhi. “Kan banyak nasabah yang pertanyakan uang itu ada atau tidak. Yang jelas uang itu ada namun pembayaran dilakukan bertahap. Kalau nanti tidak dibayar maka silahkan para nasabah tempuh melalui jalur hukum,” ujarnya.
Meski mengaku dana Karapoto ada, Halied selaku penasehat hukum menyatakan belum bisa menjamin apakah pembayaran pada 31 Januari 2019 mendatang akan bisa dilakukan. “Kami selaku PH tidak bisa terlalu jauh mencampuri, apakah akan cair pada 31 Januari 2019 atau tidak. Kami hanya mendampingi klien kami pada situasi yang berhadapan dengan hukum. Dan kami juga tidak tahu berapa jumlah uang yang ada, termasuk berapa jumlah nasabahnya,” terangnya.
Halied berharap, para nasabah bisa bersabar dan memberi waktu kepada kliennya untuk melakukan pembayaran. Dia mengatakan jika kliennya didesak terus untuk melakukan pembayaran maka situasi akan sulit. Sebab pencairan dengan nilai yang besar tidak akan bisa dilakukan dalam sehari. “In shaa Allah pada 31 Januari 2019 nanti klien kami bisa lakukan pencairan uang nasabah,” tandasnya.(mg-02/cr-04/kai)

Share
Berita Terkait

Player CV Ubay Jaya Ditahan

08/03/2018, 13:02 WIT

Dana Ratusan Miliar Menguap

09/03/2018, 12:54 WIT

Ayah Perkosa Anak Kandung

15/02/2018, 09:18 WIT

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,20%)       :       (16,80%)

Dahlan Iskan