Rabu, 12 Desember 2018

 Headline

Simbol Pemberian Bekal Sangaji Kepada Saudara Lelakinya

Diposting pada 06/12/2018, 12:18 WIT
FANTEN: Bupati Edi Langkara dan Wakil Bupati Abdurrahim Ode Yani bersama rombongan menuju tenda acara. FAKHRUDDIN ABDULLAH/MALUT POST
FANTEN: Bupati Edi Langkara dan Wakil Bupati Abdurrahim Ode Yani bersama rombongan menuju tenda acara. FAKHRUDDIN ABDULLAH/MALUT POST

Tradisi Fanten Pemersatu Masyarakat Gamrange

BULAN rabiul awal, seluruh umat islam di penjuru dunia merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tidak terkecuali masyarakat Gamrange. Selain melakukan ritual keagamaan, masyarakat Gamrange Maba (Mobon), Weda (Were), dan Patani (Poton) pada umumnya menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan melakukan tradisi fanten.

FAKHRUDDIN ABDULLAH, Weda

Fanten merupakan tradisi yang dirayakan tiap tahun pada saat Maulid Nabi. Jika dimaknai dalam bahasa daerah, fanten artinya saling memberi atau tolong menolong. Fanten yang memiliki makna filosofi yang cukup mendalam bagi masyarakat di tiga negeri ini, kini menjadi agenda tahunan yang dipatenkan dalam APBD Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng).
Fanten memiliki makna yang mengajarkan masyarakat di Bumi Fagogoru untuk saling tolong menolong, saling mengasihi antar sesama dalam kehidupan keseharian masyarakat. Momentum Fanten ini sangat berharga, karena di balik acara Fanten yang diselenggarakan setiap kelahiran Nabi Muhammad SAW ini, mengingatkan masyarakat akan asal usul terbentuknya Gamrange (Mobon, Poton dan Were).
Menurut catatan sejarah, masyarakat Gamrange berasal dari satu datuk yaitu datuk Marmara Amin, yang kemudian dikaruniai 4 anak, tiga putra dan satu putri. Keempat anak itu masing-masing putra pertama diberi nama Borfa (Maba) yang diberi gelar Rajo Nan Satrio (Laki-Laki Tangguh, Ulet dan Kuat), Putra kedua diberi nama Bornabi (Patani) yang diberi gelar Rajo Nan Kasurau yaitu sosok laki-laki yang kehidupannya selalu berada di surau atau Masjid. Dan Putra ketiga (Maba) diberi nama Bortango yang diberi gelar sudara Jo Mau Rajo yang merupakan lelaki pandai. Dari tiga putra Marmara Amin inilah yang disebut cikal bakal terbentuknya kampung Gamrange (Mobon (Maba), Paton (Patani) dan Were (Weda).
Dari masing-masing julukan itu, gelar tersebut sampai di masa ke-Sangaji-an dijadikan alat untuk menyiarkan agama Islam di wilayah Gamrange. Berdasarkan perintah dari datuk Marmara Amin ke ketiga putranya itu diberi tugas setiap tahun tepat pada 12 rabiul awal harus kembali berkumpul, untuk mengevaluasi, sejauh mana gerakan perjuangan dalam menyiarkan agama Islam, dan pertemuan itu di pusatkan di Poton (Patani)
Dari ikatan sejarah inilah, maka selalu dijadikan dasar dan semangat adat dan budaya bagi masyarakat di tiga negeri ini terutama di Patani merayakan maulid nabi ini yang dilaksanakan secara berjamaah di masing-masing masjid.
Di desa Kipai dan Wailegi misalnya zikir pada maulid nabi ini dilaksanakan di masjid-masjid semalam penuh secara berjamaah. Dan sampai pada waktu petang zikir pun berakhir, dan di waktu pagi diiringi dengan adat coka iba dan dilanjutkan dengan perayaan fanten. Kala itu, fanten diartikan sebagai bentuk pemberian bekal oleh Sangaji Poton kepada Sangaji Mobon dan Sangaji Were, yang segera melakukan perjalanan kembali ke kampung asal mereka.  
Kini, di masa kepemimpinan Bupati Edi Langkara dan Wakil Bupati Abdurahim Ode Yani, fanten menjadi agenda tahunan yang dibiayai APBD dan digagas dengan nama Festifal Budaya Islami Fagogoru.
Kali ini acaran fanten dikemas dalam acara Festival Budaya Islami Fagogoru 2018, dan pada selasa (4/12) kemarin, festival budaya Islami atau acara fanten ini dirayakan pemerintah daerah yang di pusatkan di kecamatan Patani (Wailegi dan Kipai). Acara fanten ini dihadiri langsung Sangaji Mobon, Sangaji Poton, dan Sangaji Were.
Acara Fanten Fagogoru dibuka oleh Bupati Edi Langkara yang didamping Wakil Bupati Halteng Abdurahim Ode Yani, Sekda Saiful Samad, para Asisten, Pimpinan SKPD, dan masyarakat dari Patani, Gebe, Maba, dan Weda, serta dihadiri pimpinan dan Anggota DPRD Halteng. Acara fanten kali ini dipantau langsung Kementerian Pariwisata RI.
Bupati dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan ini bakal menjadi agenda tetap pemerintah daerah, dan diharapkan menjadi agenda tetap tahunan di kementerian parawisata RI.
Dikatakannya, fanten merupakan tradisi dan budaya yang sudah mengakar lama di negeri fagogoru (Weda, Patani, Maba dan Gebe), yang mana sudah ratusan tahun fanten juga sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang termuat dalam Fagogoru. Fagogoru dalam pemaknaan lebih jauh adalah merupakan simbol dari budaya yang terlahir untuk mengekspresikan tentang rasa sayang, rasa saling memiliki, rasa saling menjaga, merawat persaudaraan dari ketiga negeri ini.
Di era modern saat ini, banyak budaya dan tradisi terpengaruh dengan dengan lajunya era teknologi modern sekarang ini. Karenanya, Bupati menyampaikan, fanten adalah salah satu budaya yang masih bertahan hingga saat ini. Karena itu agenda fanten yang dirayakan setiap Maulid Nabi Muhammad SAW ini diharapkan dapat diagendakan oleh pemerintah pusat sebagai agenda tahunan melalui Kementerian parawisata, menjadikan sebagai sentral destinasi parawisata Halteng di provinsi Malut. “Ke depan infrastrukturnya diperbaiki untuk lebih memperluas akses pelaksanaan acara ini,”ungkapnya.
Kegiatan fanten akan dilakukan secara bergilir baik Weda,Patani dan Maba untuk mempererat kebersamaan tiga negeri, Patani Gebe, Maba dan Weda. “In shaa Allah tahun depan kegiatan fanten Fagogoru di pusatkan Maba Halmahera Timur,” katanya.
Di acara fanten kemarin, Bupati dan Wakil Bupati mulai dari Masjid Kipai bersama rombongan dari depan Masjid kipai menuju lokasi Fanten, yang disambut oleh Coka Iba, dan tempat kegiatannya dibuat seperti benteng yang kepala bentengya bergambar kuda terbang berkepala manusia. Sebelum fanten di buka oleh Bupati yang dihadiri oleh ketua PKK dan wakil ketua PKK Halteng ini, acara fanten ini diawali dengan drama kolosal yang menceritakan kisah perjuangan Hi. Salahudin pendiri serekat Islam, yang gugur dihukum mati pengadilan belanda karena menentang penjajah belanda. Drama ini diperankan oleh muda-mudi di Kipai dan Wailegi, sebagai bentuk mengingatkan kembali kisah perjuangan Hi. Salahudin.
Setelah acara Fanten di buka, Bupati dan Wakil Bupati serta Rombongan masuk ke pintu benteng menuju tenda acara. Sesampainya di tenda acara, dilanjutkan dengan dizikir berjamaah, setelah itu, para tamu dan undangan dilayani di setiap rumah-rumah yang dihias untuk mencicipi makanan dan minuman yang sengaja disiapkan. Acara Fanten ini akan berlangsung sampai 8 desember 2018.
Sementara Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata Ricky Fauzi, mengaku tidak meragukan potensi wisata Halmahera Tengah. “Halmahera Tengah itu dikaruniai dengan alam yang indah. Banyak potensi yang bisa digali di sana. Termasuk juga dengan budayanya. Bahkan lebih lengkap lagi, ada budaya religi yang bisa mereka kemas seperti Fanten ini,” kata Ricky Fauzi yang disampaikan oleh Kadis Pariwisata Halteng Mohammad Adam.
Kata Kadis Pariwisata, Menteri Pariwisata Arief Yahya sangat mendukung upaya pengembangan sektor wisata Halmahera Tengah. Untuk memajukan pariwisata, dibutuhkan CEO Commitment. Karena arah kebijakan suatu daerah, akan memperkuat sektor pariwisata atau tidak, ada di CEO. Dalam hal ini kepala daerah, Gubernur, Walikota dan Bupati. Menpar menambahkan, daerah yang serius memajukan pariwisata, akan mendapatkan perhatian serius.(far/adv/mpf)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,20%)       :       (16,80%)

Dahlan Iskan