Rabu, 12 Desember 2018

 Headline

OPM Tantang TNI

Diposting pada 06/12/2018, 12:20 WIT
SIAP BELA NKRI: Prajurit TNI berdoa sebelum menaiki helikopter dengan tujuan Wamena, Papua, Rabu (5/12). Aparat gabungan terus berusaha mengatasi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang diduga telah menewaskan 31 karyawan PT Istika Karya. ANTARA FOTO/IWAN ADISAPUTRA
SIAP BELA NKRI: Prajurit TNI berdoa sebelum menaiki helikopter dengan tujuan Wamena, Papua, Rabu (5/12). Aparat gabungan terus berusaha mengatasi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang diduga telah menewaskan 31 karyawan PT Istika Karya. ANTARA FOTO/IWAN ADISAPUTRA

JAKARTA – Organisasi Papua Merdeka atau OPM mengaku bertanggung jawab atas penembakan puluhan pekerja proyek trans-Papua di Distrik Yigi, Nduga, Papua, pada Minggu, 2 Desember 2018. Para penyerang ialah kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogeya.
OPM, dalam siaran persnya, menyebut kelompok penyerang para pekerja itu Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Makodap III di bawah komando tertinggi panglimanya, Egianus Kogeya, dan komando teritorial, Pemne Kogoya. "Panglima Daerah Tentara Pembebasan Nasional Papaua Barat Makodap III Ndugama, Tuan Egianus Kogeya, menyatakan bertanggung jawab terhadap penyerangan pekerja jembatan Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos TNI Distrik Mbua,” tulis Juru Bicara OPM, Sebby Sanbom, dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (5/12).
Dilansir dari Viva, Sebby mengklaim, penyerangan itu sebenarnya hasil pengintaian tiga bulan sebelumnya. Namun dia menganggap para korban bukan warga sipil, melainkan aparat TNI Batalion Zeni Tempur atau Zipur yang menyamar sebagai pekerja.
Dia menyebut, operasi penyerangan Kali Aworak dan Kali Yigi di bawah komando Pemne Kogoya menargetkan "sasaran operasi anggota SIPUR (baca: Batalion Zipur) jembatan Kali Aworak, Kali Yigi, Pos TNI Distrik Mbua".
Berdasarkan pengintaian sejak tiga bulan sebelumnya, OPM meyakini bahwa para pekerja bukanlah warga sipil, melainkan prajurit TNI. "Pos Mbua adalah pos resmi sebagai pos kontrol, dan yang bekerja di Kali Aworak, Kali Yigi, adalah murni anggota TNI (Batalion Zipur),” ujarnya.
OPM juga menuduh TNI dan Polri melancarkan serangan udara di Kenyam, Kabupaten Nduga, pada 4 Desember 2018. Namun, menurut mereka, kawasan yang diserang itu sebenarnya wilayah permukiman warga sipil.
Kelompok separatis ini memperingatkan TNI-Polri agar tak menyerang warga sipil. Mereka menantang bertempur dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di medan perang yang telah mereka tetapkan, yakni Distrik Mbua sampai Habema. "Kami imbau kepada pihak TNI/Polri, kolonial Indonesia, bahwa berperanglah secara gentleman dan bertanggung jawab menjunjung tinggi hukum humanisme internasional. Pisahkan mana basis rakyat sipil, mana basis dan wilayah perang," kata Sebby Sanbom. "Jangan seperti hari ini yang sangat brutal menyerang sembarangan tempat dengan menggunakan bom peledak dalam kapasitas besar,” ujar Sebby.
Dia juga menuding TNI dan Polri masih melancarkan serangan udara, sembari mengevakuasi para korban tewas dalam penembakan Minggu pekan lalu. Bahkan, katanya, TNI menggunakan peralatan perang yang canggih dan bahan peledak daya besar.
Dia mengklaim, serangan itu merusak beberapa rumah, melukai warga sipil dan milisi TPNPB. Namun dia menolak menyebutkan terperinci identitas korban luka maupun rumah-rumah yang rusak karena belum sempat mengidentifikasi. "Wilayah Mbua ini besar, jadi kami secara komando belum identifikasi korban dimaksud," ujarnya.

Pura-pura Mati
Sementara itu, sebanyak empat orang sandera KKB di Papua berhasil selamat. Seorang di antaranya yang berinisial JA mengungkapkan kisahnya agar bisa selamat.
Pada Minggu, 2 Desember 2018 seluruh pekerja dibawa oleh kelompok bersenjata menuju bukit Puncak Kabo. Di tengah jalan, sebagian pekerja ditembaki oleh kelompok bersenjata dan ditinggal pergi melanjutkan perjalan ke bukit Puncak Kabo.
Sebagian pekerja langsung tewas di tempat dan 11 orang di antaranya terkapar di tanah berpura-pura mati. Setelahnya mereka berusaha bangkit melarikan diri.
Nahas lima orang bernasib malang. Mereka terlihat oleh kelompok bersenjata yang langsung mengejar dan langsung mengeksekusi. “Enam orang berhasil melarikan diri ke arah Mbuah, 2 orang di antaranya belum ditemukan, sedangkan empat orang selamat setelah diamankan oleh anggota TNI di Pos Yonif 755/Yalet di Mbua,” ujar Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi menceritakan kesaksian korban dalam keterangan resmi yang dihimpun Tempo, Rabu (5/12).
Aidi menambahkan, menurut keterangan JA, jumlah korban yang dipastikan meninggal dunia dibantai oleh KKB di lereng bukit Puncak Kabo, Papua adalah 19 orang. Sementara itu, pada Selasa, 4 Desember 2018, pukul 07.00 WIT, satgas gabungan TNI-Polri berhasil menduduki Mbua dan melaksanakan penyelamatan serta evakuasi korban setelah sebelumnya melakukan baku tembak dengan KKB yang harus membuat salah satu petugas gugur. “Serangan diawali dengan pelemparan batu ke arah pos, sehingga salah seorang anggota yonif 755/Yalet atas nama Serda Handoko membuka jendela sehingga tertembak dan gugur,” tutur Aidi.(viv/tmp/kai)

Sepak Terjang KKB Egianus Kogoya

1. Penembakan di Bandara Kenyam, Nduga
Terjadi 25 Juni lalu. Sekelompok orang bersenjata menembaki pesawat Twin Otter Trigana Air yang disewa Brimob Polri. Pasukan Brimob ini bertugas mengamankan pilkada. Pasukan gabungan TNI-Polri lalu melepas tembakan balasan. Tiga warga sipil dilaporkan tewas dan dua lainnya terluka akibat tembakan pelaku. Salah satu yang terluka adalah pilot pesawat, Ahmad Abdillah Kamil.

2. Penyekapan & Kekerasan Seksual
KKB menyekap belasan guru dan paramedis di Distrik Mapenduma, Nduga, 3-17 Oktober lalu. Guru dan tenaga medis itu bekerja di SD YPGRI 1, SMPN 1, dan Puskesmas Mapenduma. KKB dikabarkan curiga para guru dan tenaga medis adalah intel yang menyamar untuk mengawasi gerak-gerik mereka.
16 orang berhasil diselamatkan dari kejadian ini, kendati satu korban luka serius dan satu korban diketahui telah diperkosa bergiliran oleh kelompok Egianus.

3. Pembunuhan 31 Pekerja Trans Papua
Aparat militer mengidentifikasi Egianus kembali menjadi dalang pembunuhan teranyar di Kabupupaten Nduga, tepatnya di proyek jembatan di Kali Yigi dan Kali Aura, Distrik Yigi. Sebanyak 31 karyawan PT Istaka Karya dikabarkan tewas dibunuh.
KKB pimpinan Egianus juga ditengarai menjadi otak penyerangan pekerja Trans Papua di Kecamatan Mugi 12 Desember 2017. Pekerja proyek bernama Yovicko Sondakh tewas dan anggota Denzipur 10/KYD Prada Didimus Abidondifu yang berjaga di situs proyek luka berat akibat serangan tersebut.

 

 

Share
Berita Terkait

Buka Lowongan CPNS 200 Ribu

06/03/2018, 12:17 WIT

Remunerasi PNS Terancam Dihapus

09/03/2018, 12:36 WIT

Rekrutmen CPNS Dibuka Juli

13/03/2018, 11:04 WIT

Hari Ini PNS Wajib Kerja Lagi

21/06/2018, 10:15 WIT

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(83,20%)       :       (16,80%)

Dahlan Iskan