Senin, 17 Juni 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Makin Yakin Usai Cicipi Blend Liberica Bacan dan Robusta Sula

Makin Yakin Usai Cicipi Blend Liberica Bacan dan Robusta Sula

Diposting pada 24/12/2018, 11:50 WIT
KENANGAN: Penulis (paling kanan) bersama mendiang Herman Sikumbang (kedua dari kanan) aktor Tommy Kurniawan (kedua dari kiri) dan Manager Bahari Coffee Landmark (BCL), Ahmad Yani Alkatiri (paling kiri) dalam momentum Haornas 2018 September lalu
KENANGAN: Penulis (paling kanan) bersama mendiang Herman Sikumbang (kedua dari kanan) aktor Tommy Kurniawan (kedua dari kiri) dan Manager Bahari Coffee Landmark (BCL), Ahmad Yani Alkatiri (paling kiri) dalam momentum Haornas 2018 September lalu

Kenangan Ngopi Bareng Herman “Seventeen” Sikumbang di Landmark

KABAR meninggalnya Herman Sikumbang, gitaris Seventeen Band  begitu mengejutkan. Musikus asal Tidore yang jadi korban tsunami Sabtu (22/12) saat manggung di Pantai Anyer Banten itu punya kenangan dengan penulis, September lalu saat peringatan Haornas di Ternate.
Ismit Alkatiri, Ternate
Sore itu, Sabtu 8 September 2018. Di meja Bahari Coffee Landmark (BCL), kedai kopi open space di pojok Landmark Ternate, Herman nongkrong bersama Tommy Kurniawan, artis ibukota yang juga kader PKB. Kami duduk di meja bulat yang terbuat dari kayu, bersama Kadis PUPR Kota Ternate Risval Tri Budiyanto, Aswad Zaman (pengusaha), dan beberapa kader PKB Malut lainnya. Sambil menyeruput kopi Vietnam, Herman tampak menikmati suasana senja di Pantai Ternate.
Tommy dan Herman begitu tertarik mendengar cerita tentang kopi Maluku Utara. Rupanya, Almarhum (Herman) juga seorang coffeelovers (pecinta kopi). Sedangkan Tommy punya kedai kopi di Kalibata. Hampir satu jam, obrolan kami bertajuk kopi. Almarhum begitu serius menyimak sejarah kopi Maluku Utara yang dipaparkan penulis. Herman awalnya ragu kalau tanah kelahirannya punya cerita tentang kopi. Namun kemudian dia percaya setelah diperlihatkan house blend kopi lokal, hasil eksperimen Institut Kopi Ternate. Herman semakin yakin setelah dibuatkan secangkir kopi blend Liberica Bacan dan Robusta Sula untuk dicoba. “Mantap, pak... Bisa dikomersil nih,” ujar Herman ketika itu.
Rekomendasi Herman terhadap kopi lokal itu membuat Tommy Kurniawan yang kebetulan punya kedai kopi di Kalibata juga tertarik dan memesan beberapa kg. Tapi karena kopi tersebut belum diproduksi dalam jumlah yang signifikan, kami hanya bisa berjanji. Herman juga memesan untuk konsumsi pribadi.
Almarhum tampak begitu serius ingin mempromosikan potensi kopi Maluku Utara. Pasalnya, keesokan harinya—saat Pawai Obor Asian Para Games 20187, sebelum puncak Haornas—Almarhum dan Tommy Kurniawan juga ikut bersama Menpora singgahi kedai di Landmark. Kembali kami ngobrol singkat tentang kopi lokal Maluku Utara yang menurutnya punya potensi untuk dipromosikan. Sebagai putra daerah, Herman rupanya ikut bangga jika Maluku Utara juga punya nama di antara trend minuman segar yang kian mendunia. Apalagi, dia begitu tertarik dengan cerita tentang sajian kopi berbasis kearifan lokal dari 4 daerah kesultanan di Moloku KieRaha. “Ini menarik untuk ‘dijual’ sebagai daya tarik wisata,” tuturnya.
Beberapa hari sebelum peristiwa memiriskan ini terjadi, kami sempat memperoleh Liberica Bacan dalam bentuk barry dan kini dalam proses fermentasi. Rencananya, hasil fermentasi nanti, selain akan diuji laboratorium, beberapa teman termasuk Almarhum dan Tommy Kurniawan menjadi bagian dari yang akan dikirimi kopi tersebut.
Sayang, sebelum Liberica Bacan orginal hasil fermentasi tuntas, Herman telah dipanggil menghadap Sang Khaliq. Di tengah kesedihan, kami juga doakan kiranya niat Almarhum yang ingin mempromosikan komoditas kopi Malut menjadi bagian dari amal dalam upaya membangun ekonomi dan pariwisata Moloku KieRaha.
Semoga Allah SWT menempatkan Almarhum Herman Sikumbang di tempat yang layak. Aamiin.(*)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan