Rabu, 20 November 2019

 Headline
MALUT POST / INTERNASIONAL / Turki Berpotensi Jadi Musuh Baru Syria

Turki Berpotensi Jadi Musuh Baru Syria

Diposting pada 31/12/2018, 12:12 WIT
Tank Turki di wilayah Syria. (Foto AP)
Tank Turki di wilayah Syria. (Foto AP)

JAKARTA- Pemerintah Syria mengirim personel militer ke wilayah Aleppo. Tujuan akhirnya adalah Kota Manbij yang direbut Syrian Democratic Forces (SDF) dari ISIS. Mereka yang semula berseberangan dengan Damaskus kini meminta bantuan rezim Bashar Al Assad setelah mendapat ancaman dari pemerintah Turki.
Dalam pernyataan resmi, tentara Syria menyatakan sudah menempatkan bendera nasional di kota tersebut. Mereka berjaga di pinggiran kota yang berbatasan dengan wilayah-wilayah kelompok militan pro-Turki. ''Kami akan menjamin keamanan seluruh warga Syria di dalam wilayah tersebut,'' tulis pemerintah Syria menurut Reuters.
Deklarasi itu menjadi kabar baik bagi Yekîneyên Parastina Gel (YPG) alias tentara pelindung rakyat yang merupakan kelompok Kurdi membentuk koalisi SDF bersama AS. Tujuannya, menggebuk kelompok ISIS dari wilayah kekuasaan mereka. Manbij pun direbut pada medio 2016. Namun, keputusan tentara AS mundur dari Syria dua pekan lalu membuat SDF kembali rapuh.
Dihadapkan dengan ancaman serangan Turki, mereka lantas menghubungi Rusia, Prancis, Uni Eropa, dan pemerintahan Bashar Al Assad. ''Menjaga kedaulatan negara adalah tugas pemerintah,'' ujar Badra Jia Kurd, tokoh organisasi Syria Utara yang dipimpin kaum Kurdish.
Mendengar deklarasi tersebut, pemerintah Turki langsung mengajukan protes. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa pemerintah Syria salah sangka. Mereka tidak berniat melahap lahan di wilayah yang berbatasan dengan Kota Gaziantep. ''Ini bukan soal kekuasaan di Manbij. Target kami adalah memberikan pelajaran kepada YPG,'' jelasnya.
Dia kembali menegaskan bahwa kelompok militan YPG adalah teroris di Turki yang melarikan diri ke Syria. Dia berjanji angkat kaki setelah YPG dapat ditumpas. ''Kami sama sekali tak meragukan kedaulatan Syria,'' tegasnya.
Konflik baru dua pemerintah itu berawal dari satu pembicaraan telepon oleh Presiden AS Donald Trump. Saat berbicara dengan Erdogan, Trump menanyakan apakah mereka bisa melanjutkan pekerjaan tentara AS untuk menumpas ISIS dan teroris di Syria.  'Dia berkata, kalau kami mundur, apakah Anda bisa membersihkan ISIS? Kalau iya, silakan Anda lakukan,'' kata pejabat Turki yang mengetahui pembicaraan Trump dengan Erdogan.
Keputusan Trump tersebut langsung membuat polemik di level domestik dan internasional. Menteri Pertahanan Jim Mattis langsung mengundurkan diri setelah keputusan itu diumumkan Trump. Banyak koalisi AS di Syria yang langsung berpaling mencari dukungan negara lain, termasuk Rusia. (JPC/mpf)

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan