Rabu, 20 November 2019

 Headline
MALUT POST / MAJANG POLIS / Video Mesum Tersebar, Terduga Pemeran Di-bully

Video Mesum Tersebar, Terduga Pemeran Di-bully

Diposting pada 04/01/2019, 12:58 WIT
Ilustrasi
Ilustrasi

TERNATE – Kalangan pelajar di Kota Ternate dihebohkan dengan viralnya video mesum berdurasi 2 menit 15 detik. Pemeran video yang diduga sepasang siswa-siswi asal salah satu sekolah kejuruan di Ternate itu kabarnya kini mengalami bullying dari teman-teman mereka. Pihak sekolah pun diminta bertindak cepat melakukan pendampingan terhadap keduanya.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Ternate, Asghar Saleh menegaskan, pihak sekolah harus segera mencari tahu kebenaran kabar yang berkembang terkait para pelaku. Sebelum para terduga pelaku dapat dikonfirmasi, ia meminta semua pihak untuk bersikap bijak dengan tidak berburuk sangka. “Sekolah harus segera meminta konfirmasi dari siswa yang diduga ada dalam video yang beredar itu. Pihak orang tua juga dipanggil untuk sama-sama membicarakan pendampingan terhadap keduanya,” tuturnya saat dikonfirmasi Malut Post, Kamis (3/1).
Asghar menyayangkan perundungan yang diterima terduga pelaku. Meski tindakan mereka jelas-jelas salah, sebutnya, keduanya masih anak-anak dan memiliki masa depan yang harus dilindungi. “Dan tentunya ini berdampak sekali terhadap psikologis keduanya. Karena itu pihak sekolah harus segera mengambil langkah. Mumpung sekarang sekolah masih libur, ambillah langkah sebelum waktunya masuk sekolah,” ujarnya.
Direktur LSM Rorano ini juga tak menyetujui opsi pengeluaran kedua siswa dari sekolah. Hal ini mengacu pada masa depan keduanya. Karena itu, langkah paling bijaksana adalah melakukan pendampingan terhadap para siswa. “Mereka memang salah, tapi tanpa dihukum sekolah pun hukuman sosial yang diterima sudah sangat berat,” tegasnya.
Video mesum tersebut mulai tersebar luas dari ponsel ke ponsel sejak tiga hari belakangan. Pelaku dalam gambar bergerak tersebut mengenakan seragam putih abu-abu. Diduga, aksi yang tidak pantas itu dilakukan di belakang gedung sekolah. Sedangkan pelaku yang merekam berada di lantai atas.
Dari informasi yang diperoleh, pemeran dalam video diduga kuat adalah sepasang kekasih yang duduk di bangku kelas XII. Semenjak video tersebut tersebar luas, keduanya mengalami bullying dari teman-teman sekolahnya.
Psikolog Siti Munadiyah Badar mengungkapkan, kasus semacam ini sering kali terjadi karena faktor lingkungan, salah satunya pengaruh konformitas teman sebaya. Remaja menjadikan perilaku teman sebayanya sebagai standar atau referensi perilaku mereka sehari-hari. “Sehingga peran orang tua menjadi tergeser,” katanya kepada Malut Post, Kamis (3/1).
Pengajar Program Studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam IAIN Ternate ini memaparkan, masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Ciri khasnya adalah adanya fluktuasi (perubahan) mood swing, suka melakukan perilaku yang menantang (berisiko), dan suka mencoba-coba tanpa pertimbangan yang matang. “Bayangkan jika dalam pencarian jati diri mereka dihadapkan dengan pilihan yang berisiko, maka cenderung akan rusak juga pilihan yang diambil remaja tersebut, misalnya dengan berbuat mesum. Ditambah lagi dengan kecepatan gadget sekarang, mudah mengakses video porno dan lain sebagainya,” papar Munadiyah.
Dia menilai, poin yang hilang dari kasus ini adalah minimnya nilai-nilai atau norma yang dimiliki remaja dengan relasi terdekatnya, terutama keluarga dan orang tua. Jika nilai-nilai atau norma dalam kehidupan remaja dipupuk dengan baik, Munadiyah optimis perilaku berisiko tersebut bisa dicegah. “Keluarga dan orang tua bisa menjadikan remaja sebagai partner dalam berdiskusi. Libatkan mereka dalam pengambilan keputusan, sehingga mereka merasa berharga. Bangun dialog di meja makan seputar masalah-masalah sosial remaja, sehingga mereka lebih aware dengan perubahan zaman dan tantangannya,” jabar alumni Universitas Surabaya tersebut.
Sekolah sebagai instansi pendidikan, sambung Munadiyah, seharusnya lebih aware membangun komunikasi yang lebih baik tentang masalah-masalah remaja. Sehingga penguatan moral menjadi kebutuhan primer di sekolah. “Sekolah tidak hanya berhenti pada ‘memberikan peringatan atau skorsing’, tetapi juga menjadikan kasus ini sebagai tantangan dalam memperbaiki perilaku siswa dengan dialog-dialog yang positif,” terangnya.
Munadiyah sependapat agar sekolah melakukan pendampingan terhadap pelaku. Selain itu, sekolah juga harus membangun dialog dengan semua siswa terkait bullying. “Ini untuk memulihkan mental 'pelaku perempuannya'. Banyak hal yang dirugikan secara fisik maupun mental dan dampaknya apa jika kasus bully tidak dihentikan,” pungkasnya.
Meski sudah beberapa hari viral, pihak sekolah sendiri hingga kini belum berhasil mengonfirmasi siapa pelaku yang ada dalam video tersebut. Padahal wajah pemeran laki-laki dalam video itu terlihat jelas.
Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kota Ternate, Bahrudin Marsaoly yang dikonfirmasi kemarin menuturkan, pihaknya belum bisa memastikan apakah siswa yang terekam video tersebut adalah siswa mereka atau bukan. Pasalnya saat ini sekolah masih diliburkan hingga 7 Januari nanti. “Kami belum tahu, sementara Bagian Kesiswaan ada menelusuri untuk kejelasannya,” tuturnya.
Berbeda dengan pendapat para tokoh di atas, Bahrudin menegaskan akan mengeluarkan siswa yang bersangkutan jika terbukti benar merupakan pelaku aksi mesum tersebut. “Karena telah mencoreng nama baik sekolah dan sebagai pihak sekolah kami sangat malu. Besok (hari ini, red) saya akan tanyakan kejelasan video itu,” tegasnya.(mg-01/kai)

 

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan