Rabu, 20 November 2019

 Headline
MALUT POST / AKADEMIKA / Mengenal Keanekaragaman Budaya Lokal Maluku Utara

Mengenal Keanekaragaman Budaya Lokal Maluku Utara

Diposting pada 26/01/2019, 15:12 WIT


Kuliah Sejarah Lokal bersama Dr. Rustam Hasim, M.Hum. M.Pd

 

Dr. Rustam Hasim, M.Hum. M.Pd

Dosen Prodi PKn, FKIP Unkhair
     

Topik yang kita bahas pada edisi kali Ini mengenai, Mengenal Keanekaragaman Budaya Lokal Maluku Utara oleh Dr. Rustam Hasim, M.Hum. M.Pd. Ini merupakan bagian dari Mata kuliah Sejarah Lokal untuk semester satu. Berikut narasi mata kuliah yang disarikan secara bertutur oleh yang bersangkutan.


  Maluku Utara yang terdiri dari berbagai macam suku dan etnis, memiliki keanekaragaman budaya serta tradisi yang unik dan eksotik. Maluku Utara memiliki 27 suku dengan 28 bahasa daerah. Ini telah mewariskan berbagai budaya baik berwujud maupun tak berwujud.
Dari perspektif  kebudayaan, beberapa tradisi masyarakat Maluku Utara  hingga kini masih dilestarikan seperti; kesenian, sastra lisan, permainan rakyat dan makanan yang disajikan dalam upacara-upacara adat.

Kesenian
Ada dua bentuk kesenian tradisional di Maluku Utara, yaitu kesenian istana dan kesenian rakyat. Kesenian istana adalah sejumlah bentuk-bentuk kesenian yang dikembangkan untuk kalangan istana, dan umumnya bersifat ritual maupun non ritual.Seperti  tarian istana Ternate dengan tarian legu dan dadansa. Di Kesultanan Tidore terdapat tarian Siokona dan Ngofa Bira. Di Istana Bacan terdapat tarian Mara bose, Syukur Dzikir, Maena. Waila, dan Aila.
     Sementara kesenian rakyat terdiri atas dua jenis yaitu tarian perang dan pergaulan. Tarian perang seperti tarian Cakalele (cakalele, bunga, shosoda, cingari dan sisi), dan tarian soya-soy. Sedangkan tarian pergaulan terdiri atas ; tarian Anakona/Sigo Yaara, Tide, Togal, Donci, Dinggi Denga, Lala, Gala, Kakarongan, Gala Haisua, Lalayon, Dana-Dana, diiringi dengan musik tradisional antara lain, tifa, gong, suling, filuti bangseli, rebana dan marwas. Kesenian rakyat tersebut tersebar di daerah Maluku Utara seperti  Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera  Utara, Halmahera Timur,  Halmahera Barat, dan Kepuluan Sula.
     Keanekaragaman tersebut harus dilestarikan dan dikembangkan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur melalui media pendidikan. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan yaitu mempersiapkan peserta didik agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang lingkungannya serta sikap dan bersedia melestarikan serta mengembangkan sumber daya alam, kualitas sosial, dan kebudayaan yang mendukung pembangunan nasional maupun pembangunan setempat.


Sastra Lisan
      Selain kesenian terdapat jumlah sastra  lisan Ternate. Sastra lisan tersebut adalah Dola bololo, Dalil moro, Dalil tifa, Pantun, Cum-cum, Mantra, Tamsil, Rorasa, Moro-moro se salamu, Legu, dan Salai jin. Sastra lisan Ternate ini, kalau diteliti akan berguna dalam membina dan mengembangkan kesusastraan nasional. Pasalnya, sastra lisan sangat terkait dengan tradisi masyarakat dalam pergaulannya yang sangat harmonis, baik dari sosial maupun ekonomi dan secara internal maupun eksternal.
Karena itu, sastra lisan Ternate yang hanya diwariskan dari mulut ke mulut itu perlu segera didokumentasikan dan diinventarisir secara cermat dalam upaya mempertahankan bahasa dan sastra daerah.

 
Permainan Rakyat
     Selain kesenian dan satra lisan, ada beberapa permainan rakyat di Maluku Utara yang saat ini hampir punah bila tidak kembangkan. Beberapa permainan rakyat yaitu:
1). Dodengo berarti pertarungan satu lawan satu. Permainan dodengo mirip dengan tarian perang (cakalele). Permainan rakyat berbentuk pencak silat yang menggunakan gabah (pelepah pohon sagu) atau pelapah daun pisang yang dibuat sebagai tombak tiruan dan sebuah salawaku (perisai).

2). Dodorobeberarti tembak menembak. Permainan dodorobe ialah permainan anak-anak dan remeja yang tradisional.
3). //Gole-gole ini merupakan permainan tradisional yang dimainkan oleh muda-mudi.
4). Cakalele, merupakan tarian perang, peralatan terdiri atas parang, tombak dan perisai.
5). Dabus. Biasanya dipertunjukan dalam suatu upacara musik untuk menebus hajat yang pernah diucapkan, atau kegiatan ini dilakukan jika seseorang terkena musibah atau penyakit yang pernah dideritanya.
6).Baramasuwen, merupakan jenis pertunjukan rakyat yang bersifat ritual. Pertunjukan ini biasanya dilakukan apabila orang telah selesai membuat perahu di dataran tinggi dan secara gotong royong ditarik ke pantai. Pertunjukan ini mencerminkan sifat gotong-royong  masyarakat Maluku Utara dengan ciri kebahariannya.
7). Toku liku, adalah pertunjukan yang memperlihatkan kemampuan seseorang berjalan dengan kaki telanjang di atas hamparan bara api tanpa mengakibatkan luka terbakar sedikitpun.

 Upaya mengembangkan permainan rakyat Maluku Utara meliputi pembinaan dan pengembangan melalui pendidikan formal, sebab Sekolah sebagai lembaga yang menampung berbagai macam individu dengan latar belakang sosial yang beragam.

Makanan Adat
      Selain kesenian, satra lisan  dan permainan rakyat, ada terdapat beberapa makan adat (Ternate)  yaitu;
(1).  Bubur Sirikaya. Terbuat dari telur ayam, gula, santan kelapa dan sari daun pandan. Rasanya manis, berlemak dan enak. Makna filosofinya melambangkan budi pekerti masyarakat Maluku Utara beserta pemimpinnya.

2.Katupa kobo (Ketupat Kerbau).    Berjumlah tiga hingga empat buah. Sifat kerbau ialah kuat, rajin, dan setia. Makna filosofinya; Sifat kerbau yang kuat,rajin dan setia itu, diharapkan menjadi sifat masyarakat Maluku Utara  yang memikul tanggung jawab atas bahtera rumah tangganya.
3. Katupa nanasi (Ketupat Nanas).    Berjumlah tiga hingga empat buah. Buah nenas bagaikan permaisuri yang bertahta di atas singgasana dengan megah dan bermahakota, berkulit  tebal, memiliki duri, dan isinya sangat enak, diharapkan menjadi sifat masyarakat Maluku Utara yang setia menjaga rumah tangga.
4.Nasi jaha. Nasi yang dimasak dibambu atau dibungkus dengan daun sagu yang panjangnya empat puluh senti meter dan garis tengah tiga senti meter sebanyak sepuluh potong terletak dan terakit dalam piring menyerupai perahu atau armada laut. Melambangkan masyarakat Maluku Utara yang memiliki sifat patriotisme dalam membela tanah air.
5. Bubur kacang hijau yang disajikan melambangkan kekayaan hasil pertanian masyarakat Mauku Utara yang melimpah.
6. Ikan dan Terong yang diletakkan dalam sebuah piring dan kepala ikan serta tangkai terong menghadap ke kepala meja. Melambangkan kehidupan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Maluku Utara yang saling menyayangi.
7. Boboto(sering juga disebut Boto-boto) sebanyak 4 buah, mengandung makna bahwa pada awal mula masyarakat di pulau Ternate di bawah kuasa empat Momole. Dengan pengertian bahwa kekuasaan tertinggi terletak pada empat kekuatan besar atau Gam Raha yang ada di Kesultanan Ternate dan  
8. Pupulak yaitu beras yang diberi warna: putih, kuning, merah dan hijau yang melambangkan bermacam suku bangsa yang ada di Moloku Kie Raha (Maluku Utara).

Penutup
     Hingga kini budaya Maluku Utara belum tergali dan tersusun dalam bentuk diskripsi yang baik, dikhawatirkan lambat-laun akan punah akibat pengaruh kebudayaan asing. Padahal, jika diteliti lebih mendalam budaya lokal akan sangat berguna dalam membina dan mengembangkan kebudayaan nasional. Oleh karena itu harus diprogramkan secara sistematis di setiap jenjang pendidikan dan akan mengarah pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal.
Menurut Ernst  Cassirer, kebudayaan sebagai olahan dari rasa, cipta dan karsa umat manusia, tidak sekadar memenuhi kebutuhan fisik lahiriah semata, tetapi juga  membentuk dan menumbuhkan rasa percaya diri kemauan dan kemampuan para pelaku kebudayaan itu.  Dengan demikian  pengenalan nilai-nilai lingkungan sosial dan budaya lokal kepada generasi muda memungkimkan mereka lebih akrab dengan lingkungannya serta mencintai nilai-nilai budayanya.
Pengenalan dan pengembangan budaya lokal melalui pendidikan diarahkan untuk menunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia pada akhirnya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dan  memberikan wawasan yang luas tentang arti pentingnya nilai-nilai kebudayaan yang ada di masyarakat.
Demikian ulasan singkat dari topik kita hari ini. Semoga bisa menjadi bahsn pembelajaran bagi kita semua. (mg-04/nty)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan