Senin, 19 Agustus 2019

 Headline
MALUT POST / / TKA Tiongkok Kuasai Malut

TKA Tiongkok Kuasai Malut

Diposting pada 26/01/2019, 15:24 WIT
TKA asal Tiongkok saat berada di pelabuhan Bastiong
TKA asal Tiongkok saat berada di pelabuhan Bastiong

TOBELO – Keberadaan tenaga kerja asing (TKA) di Maluku Utara cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini tak lepas dari maraknya penerbitan izin usaha pertambangan (IUP). Sebagian besar di antara mereka berasal dari Tiongkok yang jumlahnya kini mencapai ribuan orang.
Dua kantor imigrasi di Malut, yakni Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Tobelo dan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ternate sama-sama mencatat peningkatan jumlah TKA. Imigrasi Tobelo yang membawahi wilayah kerja Halmahera Utara, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, dan Pulau Morotai menampung setidaknya data 500 lebih TKA. “Data terakhir kami Desember 2018 itu di Halut ada 58 orang TKA, Halteng 423 orang, Haltim, 15 orang, dan Morotai 5 orang WNA,” ungkap Kepala Kantor Imigrasi Tobelo, Douglas Orlando Andreas kepada Malut Post, Kamis (24/1).
Douglas menjabarkan, angka tersebut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Dimana pada 2017 TKA di Halut hanya 49 orang, Halteng 336 orang, sementara Morotai dan Haltim tetap sama.
Rata-rata para TKA ini bekerja di sektor pertambangan, seperti di Halteng dan Halut. Sementara WNA yang di Morotai merupakan turis. “Di Morotai ada juga pemegang izin tinggal, seperti mengikuti istri. Kalau TKA dan ikut istri atau suami mereka pakai izin tinggal terbatas. Kalau hanya turis pakai izin tinggal kunjungan,” sambung Douglas.
Sebagian besar TKA berasal dari Republik Rakyat Tiongkok. Menurut Dougals, ada 453 TKA berasal dari negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu. “Sisanya ada warga Australia, Bangladesh, Afrika Selatan, dan lain-lain. Angka ini yang tercatat di kami karena penerbitan izin tinggalnya berasal dari Imigrasi,” tuturnya.
Dalam waktu dekat pihak Imigrasi akan kembali turun ke perusahaan-perusahaan untuk mengecek keberadaan para TKA. Douglas mengatakan Februari nanti mereka akan ke Weda dan Gebe dulu, dilanjutkan ke Buli, Subaim dan seterusnya.
Saat ini, tambah dia, para WNA juga sudah bisa mengurus izin tinggal di lima bandara yang ditetapkan pemerintah pusat. Yakni Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Bandara Ngurah Rai Bali, Bandara Hang Nadim Batam, Bandara Kualanamu Deli Serdang Medan dan Bandara Juanda Surabaya. “Jadi kemungkinan yang didapatkan di lapangan lebih dari itu, karena memang data yang ada itu sesuai dengan yang dikeluarkan izin. Kemungkinan lainnya itu sudah mengurus di lima tempat itu. Makanya kita akan turun nanti untuk menyesuaikan data di lapangan. Perusahaan yang mempekerjakan orang asing juga tiap bulan harus laporkan jika ada pekerja baru,” tegasnya.

Halsel Gudangnya
Sementara Imigrasi Ternate yang membawahi wilayah kerja Ternate, Tidore Kepulauan, Halmahera Selatan, Kepulauan Sula, Pulau Taliabu, dan Halmahera Barat juga mengungkapkan adanya kenaikan jumlah TKA. Pada periode 2017, ada 1.705 pemegang Izin Tinggal Terbatas (ITAS) di enam kabupaten/kota itu. “Sedangkan pada periode Januari sampai Desember 2018 jumlahnya naik menjadi 1.853 orang,” ungkap Kepala Seksi Teknik Informasi dan Komunikasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Ternate, Fachtul Kamali, Jumat (25/1).
Menurut Fachtul, jumlah TKA terbanyak ada di Halsel, yakni sebanyak 1.131 TKA per 16 Januari 2019 kemarin. Pulau Obi di Halsel memang gudangnya perusahaan tambang seperti Harita Group dan PT Wanatiara Persada. “TKA di Malut yang paling dominan asalnya dari Tiongkok, dan jumlahnya paling banyak di Halsel. Selain Tiongkok ada juga Korea, disusul Inggris, dan Amerika. Mereka ITAS-nya berlaku beda-beda, ada yang 3 bulan, 6 bulan, sampai 1 tahun, dan bisa diperpanjang jika masanya habis,” terangnya.
Terpisah, Pengamat Ekonomi Malut, Mukhtar Adam mengatakan, keberadaan TKA akan terus meningkat karena Malut dipaksa negara untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya. Dia mengaku tak heran sebagian besar di antara para TKA berasal dari Tiongkok. “Strategi investasi Tiongkok, jika berinvestasi di suatu negara akan membawa angkatan kerja dari negaranya, termasuk ke Indonesia. Maka jangan heran tenaga kerja asing di Malut terus naik,” ungkapnya kemarin.
Dosen Ekonomi Universitas Khairun ini menjabarkan, Tiongkok sangat tergiur dengan sumber daya alam di Malut. Pilihan yang paling memungkinkan yaitu investasi sumber daya alam dan tenaga kerjanya dari Tiongkok. Alhasil, tenaga kerja lokal yang sudah kekurangan peluang kerja dibuat tambah nganggur. “Nanti jatuh miskin dan tidak bisa bersekolah, negara menerbitkan kartu pintar. Kalau sakit dikasih kartu sehat, tapi kalau nganggur dibiarkan,” katanya kesal.
Hal ini, sambung Mukhtar, akan berefek padanya meningkatnya angka pengangguran. Di lain sisi, warga Malut hanya bisa menonton para pekerja Tiongkok meraup uang dan keuntungan. “Kita menghormati negara, maka gubernur dan bupati kita hanya manggut-manggut nyaris tidak bisa berbuat banyak melihat banyak anak daerah yang tidak dapat pekerjaan tapi orang asing bekerja,” ujarnya.
Selain TKA, tenaga kerja domestik dari luar Malut juga menjadi ancaman serius bagi putra daerah. Pasalnya, peluang bagi lulusan terbaik Malut semakin sempit. “Jika terus dibiarkan suatu saat anak-anak daerah yang nganggur di daerah mereka sendiri akan memberontak karena mahalnya biaya pendidikan tapi mereka hanya bisa menonton. Banyak yang bangga setelah diwisuda tapi kemudian menjadi pengangguran,” pungkasnya.(tr-04/mg-02/kai)
   

TKA di Malut

WILAYAH KERJA
KANTOR IMIGRASI TOBELO  
     Halut 58        (453 TKA Tiongkok, sisanya Australia, Bangladesh, Afrika Selatan, dll)
                                                   Halteng 423
                                                   Haltim 15
                                                   Morotai 5

KANTOR IMIGRASI TERNATE        Halsel 1.131
                                                   Ternate, Tidore, Taliabu, Kepsul, Halbar 722

Sumber: Kantor Imigrasi Tobelo & Ternate

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan