Senin, 22 Juli 2019

 Headline
MALUT POST / MAJANG POLIS / Papua tanpa Tidore Papua Tidak Menjadi Indonesia

Papua tanpa Tidore Papua Tidak Menjadi Indonesia

Diposting pada 28/01/2019, 12:42 WIT


 (Kajian Sejarah Politik Integrasi Kebangsaan)

DR. Syahril Muhammad. M.Hum

Dosen Pendidikan  PPKn  FKIP, Unkhair

 

Topik yang dibahas pada edisi kali ini mengenai Papua tanpa Tidore Papua Tidak Menjadi Indonesia (Kajian Sejarah Politik Integrasi Kebangsaan), oleh DR. Syahril Muhammad. M.Hum. Ini merupakan bagian dari Mata kuliah  Pendidikan Sejarah dan Kebudayaan pada Semester  I, FKIP Unkhair. Berikut sajian materi yang disarikan secara bertutur oleh yang bersangkutan.


Pengantar
Integrasi kebangsaan merupakan isu sentral dalam konteks pengelolaan wilayah kepulauan di Indonesia. Masalah dasar (basic problem) Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni Integrasi kebangsaan (Integrated nations).Suatu bangsa dikatakan Integrasi apabila seluruh tingkatan kehidupan dari lapisan bawa hingga tingkat atas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berjalan normal sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku dalam negara, baik itu hukum tertulis maupun tidak tertulis. Kehadiran negara bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara dari setiap warga negara, dalam arti 'melindungi dan memberi pengakuan terhadap hak-hak privasi dan kelompok warga negara.Proses integrasi Papua ke NKRI dalam perpektif Sejarah dapat dicermati bahwa, selain kekuatan negara juga terdapat logika historis dari hamparan budaya dan tradisi Maloku Kie Raha (Ekspansi Kesultanan Tidore) sebagai salah satu landasan integrasi Papua ke NKRI.
Bila dirunut ke belakang dalam perspektif sejarah, maka salah satu faktor penguat perjuangan pembebasan Irian Barat adalah tidak terlepas dari peran kesultanan Tidore masa lalu. Sejarah mencatat bahwa Kesultanan Tidore adalah salah satu kesultanan nusantara yang berada di kawasan Moluku Kie Raha yang memiliki peran penting dalam pembebasan Irian Barat. Tulisan ini bertujuan untuk menjawab permasalahan terkait isu di sintegrasi kebangsaan yang saat ini khususnya PAPUA. Di mana pada beberapa pekan terakhir ini sekelompok aktivis mahasiswa mengaatas namakan forum perjuangan PAPUA Merdeka  menyampaikan dukungan dan gagasan untuk perjuangan kedaulatan PAPUA. Pembahasan difokuskan pada perspektif Sejarah Politik dan Integrasi Kebangsaan. Hasilkajian ini memberi pemahaman bahwa kesamaan latar belakang historis antara PAPUA dan Tidore  memiliki tautan akar sejarah yang sama dalam hal pembauran dan asimilasi kebudayaan awal (Assimilation of Early Culture) dan dengan kesadaran demikian akan terbentuk semangat kebangsaan generasi melineal masa kini untuk merawat integrasi kebangsaan dalam pengelolaan wilayah pulau-pulau terdepan di Indonesia.

Tidore dan Papua Masa Lalu
Hubungan yang amat spesifik PAPUA dengan daerah lainnya di Indonesia adalah Maluku, khususnya Ternate dan Tidore.Disamping faktor geografis, faktor ekonomis dan faktor masa lalu Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan kesultanan yang kuat dan disegani serta besar pengaruhnya di kawasan Timur Indonesia. Di bawah pengaruh kesultanan Ternate dan Tidore pada sekitar tahun 1580 telah sampai ke Mindano sebelah utara, daerah Sumbawa sebelah selatan, daerah Sulawesi sebelah barat dan pulau Irian sebelah timur.
Kesultanan ini tetap efektif kekuasaannya di Irian sampai menjelang berlangsungnya proklamasi kemerdekaan Indonesia .Hubungan spesifik ini terus berlanjut sampai masa TRIKORA, saat seluruh Bangsa Indonesia berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah Papua.Kota Soasiu di Tidore menjadi Ibukota Propinsi Perjuangan Irian Barat dan Gubernur Irian barat saat itu adalah Sultan Zainal Abidin Syah dari Kesultanan Tidore. Beberapa catatan yang mengindikasikan bahwa Kesultanan Tidore maupun Ternate dan Kesultanan Islam lainnya di Maluku sangat erat hubungannya dengan daerah Irian antara lain dapat dilihat dari sejumlah informasi dalam bukunya “The Preaching of Islam”, Thomas W.Arnol mencatat bahwa sejak tahun 1520 kerajaan Islam Bacan telah menguasai daerah Waigeo, Misool, Waigama, dan Salawati daerah-daerah yang semuanya merupakan bagian dari daerah Sorong sekarang.
Demikan pula berdasarkan cerita Rakyat dan informasi dari Tidore didapatkan keterangan bahwa sejak abad XV daerah Biak telah menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore.Sultan mengangkat pejabat pejabat didaerah bersangkutan dan diberi gelar jabatan, antara lain: Kapitan, Sangaji, Korano, Dimara, Mayor dan sebagainya. Gelar jabatan tersebut sekarang menjadi nama keluarga ( fam) di daerah tersebut. Salah seorang tokoh dari Biak bernama Gurabesi diangkat sebagai pejabat /panglima di Pusat Kesultanan.Tokoh inilah yang kemudian melahirkan penguasa-penguasa Kerajaan Kepulauan Raja Ampat.

Kekuasaan Tidore Atas Irian Jaya
 Irian Jaya dalam buku berjudul: “Departemen Agama dalam kata dan angka.” 1985 mengutip pernyataan W.C. Klein dalam “Nieuw Guinea“ yang menyebutkan bahwa :” pada tahun 1596 Pemimpin-Pemimpin Irian mengunjungi Kerajaan Bacan,dan dari kunjungan tersebut terbentuklah Kerajaan-Kerajaan Islam”. Kekuasaan Kesultanan Tidore atas  Irian juga diakui syah oleh pihak Belanda.Terkadang armada Kesultanan Tidore melakukan patroli ke daerah Irian, antara lain:
• Mulai abad ke-15 para pedagang Cina bekerja di Teluk Cende rawasih dan Teluk Wandamen.Pada waktu yang sama, Sultan Tidore mengirim orang-orangnya untuk menagih pajak.
• Kekuasaan Kesultanan Tidore dan Kesultanan Ternate atas Irian Jaya diakui pula oleh Penguasa Inggris yang pada tahun 1814 s/d 1818 menjajah dan menguasai seluruh kepulauan Indonesia
• Pada tahun 1849 Pangeran Amir sebagai Wakil Sultan Tidore menyertai suatu kesatuan ekspedisi Belanda untuk menempatkan tanda batas milik Belanda di daerah Doreri.
• Pada tahun 1880 Pangeran Ali sebagai Wakil Sultan Tidore pergi megunjungi daerah pantai selatan Irian.
• Tahun 1858 Pangeran Amir mengunjungi Humbolt-Bay ( teluk Yos Sudarso sekarang ) untuk berdagang.
• Di daerah Fakfak terdapat bentuk kekuasaan yang disebut “ Raja-raja “ atau “ Petuanan ”yang mendapat pengakuan dari Sultan Tidore. Sampai sekarang kekuasaan “ para Raja” di Fakfak masih berjalan , dan merupakan kekuasaan adat yang efektif, dipelihara dan dihormati secara turun temurun.Sebagai bukti bahwa Sultan Tidore mengangkat dan mengakui kekuasaan para penguasa Petuanan tersebut misalnya ditemukannya sebuah surat pengangkatan seorang Kepala wilayah dengan jabatan ‘ Kapitan “ di daerah Ugar, distrik Sekar, bertanggal 5 Nopember 1929.
Sebelum Tidore menguasai wilayah-wilayah tersebut diatas, kerajaan Waigama dan Misool menjadi bagian kekuasaan kesultanan Bacan yang dipimpin oleh adik Sultan Bacan yang bernama Kaicil Jelman pada tahun 1512 merupakan penguasa Islam pertama di Irian. Sedangkan wilayah lainnya diperebutkan oleh Kerajaan Ternate dan Tidore melalui suatu peperangan, akhirnya Ternate menguasai Halmahera bagian barat dan Salawati, sedangkan Tidore menguasai Seram bagian timur dan sebagian Irian bagian barat. Daerah-daerah seperti Waigama dan Misool yang dikuasai oleh kerajaan Bacan.Pada abad XVII Tidore berhasil mengalahkan Bacan dan kedua daerah tersebut dikuasai oleh Kerajaan Tidore.Dengan demikian, maka Tidore secara utuh menguasai sebagian kecil dibagian barat Irian.Sehingga tidak mengherankan ketika awal kedatangan bangsa penjajah, Kesultanan Tidore menjadi Pengaruh besar dalam berbagai perundingan terutama mengenai Irian.
Semula kekuasaan Tidore hanya sampai disekitar Kepulauan Raja Ampat tetapi berhasil meluas sampai kearah timur dari Raja Ampat.Hal ini dimulai ketika Armada Honggi yang dikerahkan dari Tidore untuk memungut pajak dari penduduk pantai utara Irian.Dengan ini dapat diduga bahwa pada zaman sebelumnya mempunyai hubungan yang erat antara orang Maluku dengan orang Biak.Menurut F.C Kamma bahwa apabila seorang Biak datang membayar upeti, maka mereka menghadiahi sebuah gelar.Gelar yang dapat dihubungkan dengan gelar Kerajaan Tidore, seperti Raja atau Sangaji yang disebut (Kepala Distrik), Dimana (Gimalaha berarti Kepala kampung) dan Korano.Gelar ini ada hubungannya dengan pembagian daerah Biak menjadi Distrik-distrik oleh Tidore. Di Tidore, sebuah ibukota terdiri dari 9 atau 4 kampung. Itulah sebabnya barangkali daerah Biak-Numfor juga dibagi menjadi 9 Distrik 4 kampung. Hal ini sama dengan keempat Keret di Numfor yang utama.
Dengan adanya hubungan tersebut, maka peradaban hidup dalam unsur budaya jasmani orang Biak. Setidak-tidaknya terpengaruh oleh peradaban hidup orang Maluku, Halmahera, Raja Ampat misalnya Ubu dan pandai Besi, Perahu Lesung Berpapan, Parahu Lesung untuk pertahanan semang-semang perisai tari, benda-benda keramat dan tembaga.

CATATAN AKHIR
• Sejarah proses integrasi Irian Barat masuk kedalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dipisahkan dari dinamika politik nasional maupun Internasional. Proses panjang untuk merebut Irian Barat dari kekuasaan Belanda telah mengerahkan segenap potensi negara yang tidak sedikit. Secara prinsip yang menjadi faktor penentu dalam perebutan Irian Barat adalah perjuangan diplomasi yang dipadukan dengan kekuatan militer
• Kerajaan   di Maluku Utara merupakan sumbu penguat  yang mengisahkan cerita yang cukup panjang yang sampai saat ini antara Ternate dan Tidore dengan Papua.  
• Kita semua masih mengetahui melalui sejarah turun-temurun cerita tentang masa-masa kejayaan Kesultanan Tidore terhadap Papua dalam hal pengenalan nilai-nilai adat dan budaya.  
• Sejarah masuknya Irian Barat (Papua) ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah benar sehingga tidak perlu dipertanyakan  dan diutak-atik lagi.
• Hal yang terpenting bagi masyarakat pada saat ini, khususnya masyarakat Tidore berjuang bersama untuk memperjuangkan Otonomi Khusus sebagai bagian dari hak-hak dan keadilan sejarah yang perlu diberikan oleh negara. Karena NKRI ini terbentuk karena adanya kesepakatan peleburan kerajaan-kerajaan nusantara menjadi Indonesia. Di mana Tidore memiliki peran penting dalam menyatukan Irian menjadi Indonesia.
Demikian pembahasan singkat mengenai topik kita hari ini, semoga menjadi pembelajaran bagi kita bersama. (mg-04/nty)

 

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan