Rabu, 24 April 2019

 Headline

Karapoto Kembali Bikin Janji

Diposting pada 06/02/2019, 12:22 WIT
KAWAL: Direktur Karapoto Fitri Puspita Hapsari dikawal ketat kepolisian saat pencairan dana nasabah tahap pertama 31 Januari lalu. HIZBULLAH MUJI/MALUT POST
KAWAL: Direktur Karapoto Fitri Puspita Hapsari dikawal ketat kepolisian saat pencairan dana nasabah tahap pertama 31 Januari lalu. HIZBULLAH MUJI/MALUT POST

TERNATE – Kewajiban PT Karapoto Financial Technology mengembalikan dana pemodal belum usai. Setelah pengembalian tahap pertama yang dimulai 31 Januari kemarin, kini perusahaan penghimpun dana masyarakat itu harus berjibaku dengan tuntutan nasabah lain yang masih berjibun. Pihak Karapoto pun menjanjikan pencairan berikut pada 18 Februari mendatang.
Berdasarkan keterangan tertulis yang beredar di media sosial dan ditandatangani Direktur Karapoto, Fitri Puspita Hapsari, pihak Karapoto menjelaskan sepanjang 4 Februari hingga 18 Februari leader akan memastikan data penanaman modal yang akan dibayarkan. Karena itu, tiap penanam modal diminta berkoordinasi dengan leader atau tim masing-masing untuk memastikan data telah dimasukkan. “Segala informasi yang benar akan dikeluarkan langsung oleh kami melalui satu pintu. Artinya jangan cepat percaya informasi yang berkembang di luar yang nyata-nyata bukan berasal dari kami,” tulis Fitri.
Dalam keterangan itu juga ditegaskan agar pemodal tidak mudah percaya jika pihak Karapoto disebut akan melarikan diri, menghilang, atau tidak membayar kembali dana pemodal. “Jangan percaya, itu semua tuduhan mereka. Sekali lagi, kami beritikad baik untuk bertanggungjawab,” ujarnya.
Sejak 4 Februari kemarin, tim Karapoto mendata nomor ponsel nasabah serta mengecek kembali notes dan kuitansi pemilik modal yang akan dicairkan. Nasabah yang akan dibayarkan modalnya pada tahap dua ini adalah mereka yang tanggal jatuh tempo pencairannya pada Juni dan Juli 2018. Pencairan sendiri dijanjikan Fitri akan dilakukan pada Senin 18 Februari mendatang. “Pembayaran akan dilakukan pada Senin 18 Februari di Dufa-dufa (kediaman Fitri, red). Pembayaran juga akan diberitahukan kepada pemilik modal sehari sebelum pencairan oleh para leader atau tim masing-masing melalui nomor ponsel nasabah yang sudah diambil tim dan leader,” kata keterangan tertulis itu.
Waktu pelayanan pengecekan data untuk pemodal di Dufa-dufa sendiri dibuka sepanjang Senin sampai Jumat selama dua pekan. Jam kerja efektif dimulai pukul 10 pagi sampai 12 siang, lalu dilanjutkan pada pukul 2 siang hingga 5 sore.
Manajemen Karapoto juga meminta para pemodal tidak melakukan tindakan yang akan merugikan semua pihak. “Dan jika pemodal telah mendapat informasi yang jelas dari kami, maka diminta supaya tidak lagi berkumpul di kawasan depan rumah (Dufa-dufa) ini agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan,” tulisnya.

Pengaruhi Perekonomian
Terpisah, akademisi M. Thahrim Imam mengatakan investasi besar dapat membantu dan meningkatkan perekonomian suatu daerah dan sekitarnya. Namun masyarakat perlu berhati-hati terhadap dampaknya, sebab ada yang positif dan ada pula yang negatif.
Dosen Ekonomi Universitas Khairun itu mengungkapkan, beberapa tahun lalu sektor keuangan dan jasa perbankan masih sangat terbatas. Seiring perkembangan yang didorong oleh salah satu sektor yang berkontribusi langsung terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), kini sektor keuangan serta lembaga keuangan dan perbankan mengalami peningkatan yang cukup pesat. Investasi yang masuk di Maluku Utara didominasi sektor keuangan dan jasa keuangan, pertambangan serta sektor ikutan lainnya memberi dampak positif terhadap naiknya PDRB per sektor. “Walau begitu masih perlu diikhtiarkan terkait dampak-dampak yang terjadi,” ujarnya.
Thahrim mencontohkan, investasi besar yang berdampak buruk terhadap perputaran uang di Malut adalah Karapoto yang belakangan viral. Karapoto merupakan investasi yang menggiurkan dan berhasil menarik perhatian publik dan membuat publik terlena. “Mereka berbondong-bondong menjadi konsumen atau pelanggan. Karapoto berhasil meyakinkan konsumen dan setia menunggu. Dan akhirnya Karapoto pun menjadi salah satu perusahaan yang tidak mampu bertahan dalam waktu lama,” terangnya.
Sejak awal, sambung dia, dirinya selalu mengikhtiarkan soal investasi. Pasalnya sudah banyak modus usaha yang membuat masyarakat tergiur. “Dan pada saatnya bila pengelolaan dan manajemennya baik dan sehat maka usaha ini bisa bertahan. Dan ikhtiar ini terbukti, karena investasi di bidang keuangan dan jasa keuangan atau perbankan memerlukan manajemen dan pengelolaan yang strategis serta memiliki orientasi yang jelas terukur,” jabarnya.
Thahrim menjelaskan, dampak yang bisa timbul dari kejadian seperti Karapoto adalah hilangnya kepercayaan masyarakat pada investasi jenis ini. Karena itu, perlu menjadi catatan khusus bagi pemerintah dan Otoritas Jasa keuangan (OJK) agar tidak main-main dalam menerbitkan izin dan operasional pelaksanaan. OJK dan Bank Indonesia diminta mengawasi secara ketat investasi ilegal, lantaran kejadian seperti ini akan mempengaruhi tingkat peredaran uang pada suatu daerah atau wilayah. “Mengingat syoknya konsumen yang berimplikasi pada lesunya aktivitas ekonomi masyarakat dalam belanja akan barang dan jasa, terlebih pada aktivitas lembaga keuangan, jasa keuangan dan lainnya dan perbankan,” jelasnya.
Dia menambahkan, pemerintah harus memfasilitasi pihak Karapoto dan konsumen atau nasabah. Hal ini guna memastikan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya agar menghindari gesekan sosial.(mg-02/kai)

 

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(82,46%)       :       (17,54%)

Dahlan Iskan