Rabu, 20 November 2019

 Headline
MALUT POST / AKADEMIKA / Perjuangan Sultan Babullah dalam Mengusir Portugis dari Maluku Utara

Perjuangan Sultan Babullah dalam Mengusir Portugis dari Maluku Utara

Diposting pada 13/02/2019, 13:13 WIT


Dr. Syahril Muhammad. M.Hum

Dosen Prodi PKn FKIP Unkhair

 


Topik yang dibahas pada edisi kali ini mengenai Perjuangan Sultan Babullah  dalam Mengusir Portugis dari Maluku Utara oleh Dr. Syahril Muhammad. M.Hum. Ini merupakan bagian dari mata kuliah Pendidikan Sejarah dan Kebudayaan untuk Mahasiswa Prodi PKn Unkhair, Semester tiga. Berikut sajian materi yang disarikan secara bertutur oleh yang bersangkutan.
  

Pengantar
Sejarah telah mengungkapkan bahwa kedatangan Bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris untuk mencari dan menguasai daerah rempah-rempah. Seperti cengkih, pala dan lainnya, ini menyebabkan Maluku terlibat dalam percaturan dan pergaulan dunia perdagangan antar bangsa-bangsa Asia dan Eropa.
Sebelum kedatangan Bangsa Portugis dan Spanyol di nusantara, pada abad ke VII orang-orang Cina, Arab, Persia dan Gujarat sudah lebih dulu berdagang dan melakukan perkawinan dengan pribumi serta mendirikan komunitas. Para pedagang Arab juga melakukan islamisasi atau menyebarkan agama Islam.  
Kedatangan orang-orang Eropa yang pertama di Asia Tenggara pada awal abad XVI kadang dipandang sebagai titik penentu yang paling penting dalam sejarah kawasan ini. Meskipun kedatangannya terutama orang-orang Belanda sangat berdampak terhadap Indonesia. Bagaimanapun juga, pengaruh orang-orang Eropa pada awal kehadiran mereka sangat terbatas pada daerah dan pesisir pantai. Cengkih adalah komoditi yang mahal di Eropa, karena digunakan di dunia medis, parfum dan bumbu masakan. Salah satunya sebagai pengawet daging agar bisa bertahan lama.  Kedatangan Portugis dan Spanyol di nusantara juga merupakan bukti perdebatan antara ilmuwan dan pihak gereja.
Pembuktian teori Copernicus (Holiosentris) bahwa bumi berputar pada porosnya melawan pihak Gereja (Geosentris) yang membenarkan bahwa bumi ini datar. Pada abad ke 17 tepatnya pada tahun 1609, Galileo menyatakan kepercayaan bahwa Copernicus benar tetapi, waktu itu ia tidak tahu cara membuktikannya. Namun demikian, tujuan utama kedatangan bangsa Eropa ke nusantara pada awalnya untuk berdagang dan mencari daerah penghasil rempah-rempah.

Kedatangan Portugis dan Spanyol di Maloku Kie Raha

Penemuan alat navigasi seperti kompas dan peta lebih mempermudah bangsa Eropa dalam mengarungi lautan. Portugis sampai ke Maluku pada tahun 1512. Kala itu, Spanyol dan Portugis merupakan dua pesaing dalam urusan penemuan dunia baru. Agar tidak terjadi konflik yang lebih parah maka keduanya di pertemukan oleh Paus Alexander VI tahun 1493 dan memberikan perjanjian, atau yang lebih dikenal dengan Traktat Tordesiles. Amerika dan sekitarnya milik Spanyol sedangkan Asia milik Portugis.
Ajaran Copernicus dan Galileo yang menyatakan bahwa “bumi ini bulat” sangat mempengaruhi dan mendorong pelaut Spanyol, Portugis serta negara-negara Eropa lainnya berlayar mengarungi samudra mencari daerah baru. Bahkan, Galileo dengan ajaran Holiocentrismenya telah membuka jalan bagi usaha untuk mempelajari ruang angkasa yang dilaksanakan oleh para ilmuwan pada abad ke-20.

Ada misi yang dibawa bangsa Eropa yang dinekal dengan 3G, yaitu  Emas (Gold), Kejayaan atau Kekuasaan (Gospel) dan Penyebaran Agama (Glory). Untuk melaksanakannya, mereka melakukan kontrak dengan penguasa setempat sekaligus melegitimasi keberadaan mereka.

Setelah kawasan Malaka dikuasai pada tahun 1511, Jenderal Alfonso de Albuquerque memberi tugas kepada Antonio d’Abreu untuk mencari kepulauan rempah-rempah. Dalam perjalanan Antonio d’Abreu kembali ke Malaka tanpa ke Ternate karena kondisi kapal yang rusak parah. Di rombongan itu ada Francisco Serrao, tetapi dalam kondisi kapal yang rusak dia terhempas dan diselamatkan oleh penduduk Hitu di Ambon.
Mendengar kabar bahwa Antonio d’Abreu dan Francisco Serrao berada di Ambon, Sultan Ternate Bayan Sirullah mengutus Kaicil Darwis untuk mengundang orang-orang Portugis ke Ternate. Mereka pun datang dan Francisco Serrao diangkat menjadi penasihat dalam kerajaan Ternate. Kedatangan Serrao di Ternate adalah kedatangan pejabat pertama Eropa. Serrao adalah fungsionaris pertama yang berhasil merundingkan hak-hak monopoli negerinya atas perniagaan rempah-rempah dan hak eksklusif pendirian Benteng Portugis di Gamlamo dengan Sultan Bayanullah.


Sementara itu, kerajaan Tidore juga tidak ketinggalan dengan mengirim utusan dan  mengundang orang Portugis ke kerajaannya tetapi sudah didahului Ternate. Tahun 1521, barulah armada Spanyol datang ke Tidore atas undangan Sultan Tidore, Almansur.
Maloku Kie Raha yakni Jailolo, Tidore, Bacan, dan Ternate dalam sejarah dan perkembangannya kaya akan sumber rempah-rempah yang melimpah (emas hijau). Tanpa rempah-rempah di Maluku Utara tidak mungkin bangsa ini dijajah. Pencarian rempah-rempah awalnya dimotori oleh Cina, Arab, Gujarat, dan  Persia melalui perdagangan pada abad ke 7 dan pada abat ke -15 saat Portugis tiba, itulah awal masa kejatuhan (colleps) wilayah tersebut.

Ekspansi Portugis menyeberangi  lautan merupakan penjelamaan visi rakyatnya untuk mencari daerah-daerah baru.

Terbunuhnya Sultan Khairun, Awal Perjuangan Babullah

Sambutan yang baik dari rakyat dan penguasa menjadi faktor utama Portugis menjelajahi negeri ini. Kericuhan mulai terjadi saat Portugis mulai campur tangan urusan dalam negeri kerajaan Ternate. Harapannya agar posisi politik mereka lebih dominan di empat kejaraan tersebut. Kesempatan itu timbul saat  perubahan pemerintahan setelah Kolano Bayan Sirullah meninggal tahun 1522.
Portugis menggunakan intrik politiknya untuk mempengaruhi pewarisan tahta dan berhasil memberikan tahta kepada Tabariji pada tahun 1535, tetapi akhirnya ia juga ditahan dan diasingkan ke Goa, dan sebagai penggantinya oleh Portugis ditunjuk Sultan Khairun.
Dalam melaksanakan tugasnya di Maluku, Misi Jesuit memperoleh berbagai kemudahan dari Sultan Khairun. Fasilitas itu antara lain berbentuk sarana transportasi, berupa Juanga berikut awak pendayung, yang membawa personil mereka ke Moro. Bantuan transportasi seperti ini lazimnya diajukan melalui Gubernur. Karena semua logistik misi dikirim dari Malaka, apabila kapal logistik belum tiba, kerajaan lazimnya memberikan bantuan darurat berupa beras, ikan dan lain-lain. Tetapi, sikap yang paling mendasar yang diberikan oleh Khairun adalah diperbolehkannya kristenisasi di kalangan rakyat pribumi – baik yang belum maupun yang sudah beragama (Islam).
Khairun sedikitpun tidak merasa risih, ketika beberapa anggota keluarga keraton berpindah ke agama Kristen- seperti Dona Catarina, Done Isabella (Nyai Cili Nukila) beserta suaminya, Pati Sangaji, dan Dom Manuel Tabariji. Begitu pula, sejumlah Bobato kerajaan Ternate, Seperti Sangaji Moti, Gamkonora, dan Kolano Sabia. Sultan Khairun adalah tokoh dan pemimpin yang terbuka (plural), memberikan peluang kepada agama lain untuk menyebarkan agama di wilayah kerajaannya. Dia juga patutu diteladani sebagai sosok yang  konsisten. Misalnya ketika masih di Malaka, Khairun diberitahu bahwa Sultan Tabariji telah berpindah agama, dengan enteng Khairun menjawab: hak Tabariji menjadi Sultan telah gugur sejak ia berpisah dengan Islam. Tentang proklamasi Tabariji yang menyatakan Kerajaan Ternate sebagai Kerajaan Kristen dan menjadi vazal Portugis, Khairun hanya menyatakan bahwa telah terjadi persekongkolan jahat antara Tabariji dan de Freitas.
Ternyata, Sultan Khairun hanya dijadikan batu sandungan oleh Portugis. Gubernur De Mesquita  yang sudah sudah sejak awal berencana menghilangkan nyawa Sultan Khairun. Mengabarkan kalau misi Jesuit di daerah Moro telah dihalangi orang-orang Islam, dengan melakukan pembakaran dan pembunuhan Kristen lokal. Kecurigaan Sultan Khairun bahwa ada provokasi Marramaque terbukti. Bukan melindungi misi Jesuit dan penduduk Kristen lokal, malah melenggangkan kekuasaan Portugis di Moro. Mesquita membayangkan keamanan Moro bila ditinggalkan Marramaque, hal ini akan merugikan buat Portugis, petimbangannya militer yang dimiliki Portugis akan menjadi bulan-bulanan pasukan Khairun yang begitu banyak.
Oleh karena itu, Gubernur Portugis Masquita mengadakan perdamaian dengan Sultan Khairun di depan umum. Kemudian di depan umum mereka saling berpelukan dan bersumpah dengan mempergunakan kitab suci masing-masing. Sultan Khairun bersumpah menggunakan Al-Quran. Mesquita juga melakukan hal yang sama dengan mempergunakan Injil. Setelah itu sultan Khairun diundang agar menengoknya yang sedang sakit keras dan sekaligus membicarakan sesuatu yang rahasia.Tetapi hanya tipu daya untuk membunuh Sultan Khairun. Tanpa didampingi pengawal, Sultan Khairun memberanikan diri masuk dalam Benteng Gamlamo, tapi naas Sultan Khairun di tikam menggunakan keris oleh Antonio Pimental, kemanakan Mesquita,
Pada tanggal 25 Februari 1570.

Sultan Khairun (1537-1570), Kolano ke 25 atau Sultan yang ke-7 Ternate, yang selama ini toleran dan banyak memberi kemudahan pada misi Jesuit, dikhianati oleh Portugis, dibunuh secara keji. Akibatnya sangat tragis, bagi keberadaan Portugis dan misi Jesuit di Maluku. Setelah Sultan Babullah (1570-1584), anak Sultan Khairun dilantik pada 28 Februari, ia bersumpah menuntut balas pada Portugis atas kematian bapaknya. Dengan sadisnya Mesquita memerintahkan agar memenggal kepala Sultan Khairun dan ditancapkan di ujung tombak agar bisa ditonton oleh rakyat Ternate. Hal inilah yang membuat Babullah yang kian genjar dalam mengusir Portugis.

Perjuangan Babullah Mengusir Portugis
Babullah Datu Syah dilahirkan di Ternate pada 10 Februari 1528, putra tertua dari Sultan Khairun dengan permaisurinya Boki Tanjung, putri tertua Sultan Bacan Alauddin I. Dalam usianya yang masih muda, Babullah diangkat sebagai Kapita Laut, jabatan militer tertinggi dalam struktur kerajaan Ternate. Karena jabatan itu pula, ia terlibat dalam berbagai ekspedisi penaklukan, terutama ke wilayah Sulawesi Utara dan Tengah. Bahkan, setelah menjadi Sultan pun Babullah masih memimpin ekspedisi ke Buton, Tobungku, Banggai dan selayar. Prestasi terbesarnya adalah mengusir Portugis keluar dari Maluku dan tak kembali untuk selamanya.

Dalam bidang pengetahuan agama Islam, para mubalig istana juga tak jemu-jemunya membimbing Baabullah. Anak muda gagah perkasa ini memang dipersiapkan untuk memegang tampuk kerajaan Ternate. Jadilah ia, selain menguasai ketatanegaraan dan kemiliteran, juga terdidik secara mental sebagai calon Sultan pengganti Khairun. Satu lagi, kelak ia diharapkan mampu melaksanakan tugas suci memimpin perang fi sabilillah melawan kecongkakan Eropa. Saat diangkat menjadi Sultan Ternate yang ke-25, usia Baabullah sudah cukup matang,

Setelah menjadi Sultan,  segala hak dan  kemudahan yang tadinya diberikan kepada Portugis berbalik dengan dikepung di dalam benteng Gamalama selama hampir 5 tahun dengan kondisi yang mengenaskan. pasukan Portugis, Misionaris, dan Pribumi Kristen  didalam benteng Gamlamo, banyak yang meninggal karena kekurangan makanan, keterbatasan akses keluar benteng, amunisi, dan penyakit yang menyerang. Bahkan, anjing, kucing, tikus, cecak pun dimakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Babullah menuntut agar pembunuh ayahnya– Gubernur Diego Lopez de Mesquita diajukan ke pengadilan Portugis di Ternate, dan apabila terbukti bersalah agar dijatuhi hukuman setimpal. Tuntutan ini disampaikan Babullah kepada Raja Portugis di Lisbon maupun Raja Muda di Goa. Apabila tuntutan dipenuhi Maluku siap memulihkan kembali hubungan dengan semua hak-hak yang telah diberikan kepada Portugis, seperti yang berlaku selama ini. Tetapi, Portugis sukar memenuhi tuntutan itu, karena ada konvensi yang berlaku bagi seorang Gubernur, yakni ia tidak dapat dihukum untuk perbuatan yang ia lakukan selama masa jabatannya.
Tetapi diam-diam Mesquita dideportasi ke Ambon. Dalam perjalanan ke Malaka diantara Surabaya dan Jepara, kapal yang ditumapangi Mesquita dihantam angin kencang dan harus buang jangkar. Mesquita diserang sekelompok orang dan dibunuh, sementara keponakannya Antonio Pimental juga menemui ajalnya karena terserang penyakit beri-beri dalam pengepungan di dalam benteng Gamlamo.
pada tanggal 28 Desember 1575 Portugis keluar dari Maluku dengan. Sebelumnya pada 24 Desember, Babullah mengutus orangnya untuk memberitahukan agar Portugis menyerah dalam 24 jam. Dan perintah itu di dengarkan karena takut dalam kondisi lemah mereka di serang tanpa daya dan di bunuh dengan perlawanan yang tak berarti. Gubernur terakhir Portugis yakni Nuno Pereira de Lacerda memberikan perintah agar membuat persyaratan dengan Babullah. Dengan demikian pada tanggal 28 Desember 1575 tiga buah kapal Portugis berlabuh di Talangame dan mengangkut orang-orang Portugis.
Dalam catatan sejarah bangsa Indonesia harus dimuat satu-satunya Sultan yang berhasil mengusir penjajah. Babullah juga menguasai 72 pulau antara lain:

• Mindanau (Philipina) di mana Ternate mempunya hak atas sebagian besar pulau itu.
• Sarangan (dekat Minandanau)
• Pulau-pulau di sekitar Sangir
• Pulau-pulau di sekitar Manado
• Banggai dan pulau-pulau sekitarnya
• Kepulauan Sula, Taliabu, dan Seram serta kepulauan Ambon
• Sulawesi Tenggara
• Sekitar Halmahera


Catatan Akhir
Perjuangan Sultan Babullah tidak serta merta perjuangan pribadi. Perjuangannya mendapat tempat dari rakyat yang dipimpinnya, semangat yang tidak pernah luntur menjadi faktor yang sangat penting dalam sebuah perjuangan.
Sultan Babullah adalah perjuang membebaskan nusantara dari kolonialisme. Semangat perjuangan masih berbasis lokal, tetapi semangatnya melampuai kekuatan dan strategi kolonialisme. Kekuatan yang dimiliki sang sultan adalah kemampuan manajerial yang terletak pada kemampuan bernegosiasi dan memanfaatkan kekuatan atau tenaga rakyat antar pulau yang disebut dengan budaya menyambut pulau. Tenaga rakyat yang dipakai dalam mengarungi laut dan pulau-pulau untuk mengusir penjajah hingga Portugis angkat kaki dari nusantara.
Dari sisi semangatnya Khairun dan Bubullah adalah embrio semangat perjuangan. Inilah yang menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh pejuang nusantara pada periode kebangkitan nasional. Babullah adalah Sultan Ternate terbesar, dengan terusirnya Portugis adalah sebuah pencapaian yang sangat maksimal. Rasa percaya diri telah menjadi senjata paling canggih dalam mengusir kekuasaan adidaya Portugis, yang bercokol di negerinya selama 53 tahun secara terus menerus- dihitung sejak Gubernur pertama Portugis, Antonio de Brito dilantik pada tahun 1522.
Demikian ulasan singkat terkait dengan materi kita pada edisi kali ini. Semoga bisa menjadi bahan pembelajaran bagi kita bersama. (mg-04/nty)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan