Senin, 23 September 2019

 Headline
MALUT POST / HUKUM / Pegawai Puskesmas Tersangka Investasi Bodong

Pegawai Puskesmas Tersangka Investasi Bodong

Diposting pada 19/02/2019, 14:48 WIT
JUMPA PERS: Direktur Karapoto saat jumpa pers bersama kuasa hukumnya Fahruddin Maloko.HASBI KONORAS/MALUT POST
JUMPA PERS: Direktur Karapoto saat jumpa pers bersama kuasa hukumnya Fahruddin Maloko.HASBI KONORAS/MALUT POST

TERNATE - Selain kasus investasi ilegal Dufa-dufa, aduan penghimpunan dana masyarakat bodong lainnya juga bermunculan. Polda Maluku Utara melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) kini sedang menangani kasus investasi ilegal yang menjadikan oknum pegawai Puskesmas Kalumata Ternate, Suhesti alias Hesti, sebagai tersangka. Investasi yang digagas Hesti ini dikenal dengan sebutan investasi Tanah Misi.
Direktur Reskrimsus Polda Kombes (Pol) Masrur mengatakan, kasus investasi itu kini sudah sampai pada tahap satu. Berkas perkara kasus tersebut itu juga telah dilimpahkan ke jaksa peneliti Kejaksaan Tinggi Maluku Utara untuk diteliti. “Berkasnya sudah tahap satu, kami kirim ke jaksa sekitar dua minggu lalu dan kini masih menunggu petunjuk dari jaksa,” katanya saat dikonfirmasi kemarin (18/2).
Masrur menjelaskan, investasi yang dilakukan oleh Hesti tidak menggunakan perusahaan melainkan dimainkan sendiri. Model investasinya dilakukan dengan cara tersangka menghimpun dana dari masyarakat yang tidak mendapatkan izin dari Bank Indonesia. Kegiatan menghimpun dana masyarakat itu dengan mengiming-imingi profit atau keuntungan dalam batas tertentu. “Modusnya sama dengan investasi ilegal yang lainnya,” jelasnya.
Dalam kasus tersebut, kerugian nasabah diduga mencapai Rp 1,5 miliar. Jumlah nasabah Hesti, menurut Masrur lagi, lebih dari 100 orang. “Mereka sebagian besar adalah rekan kantor tersangka di Puskesmas Kalumata Ternate. Atas perbuatan itu, tersangka Hesti dikenakan Pasal 46 Undang Undang Perbankan,” tuturnya.
Saat ini, Hesti mendapat penangguhan penahanan. Salah satu nasabah yang enggan namanya dikorankan mengatakan perempuan yang berdomisili di Kelurahan Ubo-ubo itu juga masih berkantor seperti biasa. Masrur membenarkan adanya penangguhan penahanan tersebut. “Alasannya tersangka kooperatif dalam pemeriksaan, baik penyelidikan maupun penyidikan. Pertimbangan lainnya adalah pertimbangan kemanusiaan, karena tersangka ini memiliki anak kecil. Posisinya dalam kasus ini sebagai bos investasi dan juga leader karena tersangka ini berdiri sendiri,” jelasnya.
Selain investasi dengan tersangka Hesti, Ditreskrimsus Polda juga menangani enam kasus investasi bodong lainnya yakni investasi dengan tersangka Lili yang diduga merugikan keuangan nasabah sekitar Rp 600 juta. Kasus tersebut kini sudah dinyatakan lengkap oleh jaksa (P21) dan tinggal dilakukan tahap dua penyerahan tersangka dan barang bukti.
Kasus kedua adalah kasus investasi dengan tersangka Dedi. Kasus tersebut kini sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Ternate dan kerugiannya sekitar Rp 6 miliar. Ketiga, kasus investasi ilegal dengan tersangka Naila yang kasusnya kini baru dinaikkan ke tahap penyidikan.
Keempat, kasus dugaan investasi ilegal dengan tersangka Uni, salah satu staf di Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang kasusnya kini masih dalam tahap penyidikan. Kelima, kasus investasi dengan tersangka Anti dan Joko. Keenam, kasus investasi yang sekarang masih penyelidikan. “Jadi yang sidik (penyidikan, red) itu kasus Naila, pegawai BPN itu dan lainnya yang disebutkan tadi. Jadi semua yang ditangani itu ada enam. Dan kami lakukan penyelidikan itu di akhir 2018 kemarin,” pungkas Masrur.(cr-04/kai)

Share
Berita Terkait

Pelaku Pembaptisan Massal Ditangkap

04/03/2019, 14:26 WIT

Player CV Ubay Jaya Ditahan

08/03/2018, 13:02 WIT

Dana Ratusan Miliar Menguap

09/03/2018, 12:54 WIT

TKW Tewas Jatuh Saat Berusaha Kabur

07/09/2019, 12:18 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan