Jumat, 22 Maret 2019

 Headline

Dana Karapoto Rp 3 T Terancam

Diposting pada 20/02/2019, 13:07 WIT
BERSITEGANG: Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda bersitegang dengan nasabah yang mengancam membakar rumah pengelola Karapoto, Selasa (19/2). Foto lain, nasabah menjarah barang dari rumah pengelola Karapoto HIZBULLAH MUJI/MALUT POST-HILMAN IDRUS FOR MALUT POST
BERSITEGANG: Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda bersitegang dengan nasabah yang mengancam membakar rumah pengelola Karapoto, Selasa (19/2). Foto lain, nasabah menjarah barang dari rumah pengelola Karapoto HIZBULLAH MUJI/MALUT POST-HILMAN IDRUS FOR MALUT POST

TERNATE – Kemarahan nasabah perusahaan penghimpunan dana masyarakat PT Karapoto Financial Technology kian memuncak. Jangankan mencairkan dana seperti yang dijanjikan, Direktur Karapoto, Fitri Puspita Hapsari dan kroni-kroninya bahkan tak menampakkan batang hidung di depan nasabah hingga kemarin (19/2). Total dana nasabah sekira Rp 3 triliun pun terancam raib begitu saja.
Kemarahan nasabah dilampiaskan dengan merusak dan mempreteli barang-barang di rumah orang tua Fitri, Hamid. Rumah di Kelurahan Dufa-dufa, Ternate Utara itu dirusaki fasilitasnya. Sedangkan barang-barang yang bisa diangkat dibawa tanpa sisa. Sofa, lemari, televisi, kasur, hingga peralatan rumah tangga. Bahkan tangga besi pun dicabut dan diangkut dengan mobil pikap dan sepeda motor yang telah disiapkan.
Tak hanya rumah Hamid yang jadi sasaran kemarahan nasabah. Rumah //leader// lain, yakni La, Tanti dan Anti yang semuanya bertetangga dengan Hamid juga “ditelanjangi”. Barang-barangnya diambil dan fasilitas lain yang tak bisa diangkut dirusaki. Petugas polisi yang berjaga tak bisa berbuat apa-apa menghadapi banyaknya nasabah yang murka.
Sedangkan rumah Yana, saudara kandung Fitri, di Kelurahan Tubo, Ternate Utara juga mengalami nasib serupa. Bahkan seng di rumah itu pun dilepas dan disita nasabah. Nasabah juga memasang patok di depan rumah bertuliskan “rumah ini milik nasabah”.
Sementara barang-barang milik pengelola diambil nasabah, polisi mengamankan tiga brankas dalam kondisi terkunci. Ketiga brankas diamankan dari dua rumah berbeda. Satu di rumah La yang selama ini dijadikan kantor Karapoto, duanya lagi di rumah Tanti. Brankas lalu dibawa ke kantor polisi. Ketika rumah-rumah tersebut dipreteli, pemilik rumah tak ada satu pun di tempat.
Salah satu nasabah menyebutkan, dirinya mengambil lemari pakaian dan pegangan tangga. Menurut dia, benda-benda yang diambilnya tidak sebanding dengan modal miliknya sebesar Rp 150 juta. Modal itu dijanjikan cair pada 18 Februari kemarin. “Harga kas hanya berapa juta. Ini tidak sebanding, tapi ini merupakan bentuk kekecewaan dari kami karena saya yakin pasti (uang) tidak akan dikembalikan sehingga paling tidak ada barang yang saya ambil,” ujarnya.
Dia juga menuturkan nasabah mengambil barang-barang karena diizinkan pihak kepolisian. Karena itu, dia sengaja mendatangkan alat untuk membongkar pegangan tangga yang terbuat dari besi lalu diangkut menggunakan pikap.
Sementara Wa, nasabah satunya lagi, membawa pulang meja. Dia bilang, harga meja itu hanya berkisar Rp 3 juta. Sedangkan uang yang ia investasikan ke Karapoto mencapai Rp 200 juta sehingga amat jauh perbandingannya. “Saya terlambat dapat informasi kalau nasabah mengambil barang-barang, sehingga saya datang hanya dapat satu meja,” ucapnya.
Senada, Lid yang juga datang terlambat tidak kebagian apa-apa lagi. Alhasil dia mencongkel dua kosen jendela dan membawa pulang.
Mu, nasabah lain, memilih tidak mengambil barang. Pasalnya, dana yang ditanamkan tergolong besar dan dia tetap berharap uangnya dikembalikan. “Saya tanam Rp 100 juta, anak saya Rp 2 miliar. Jadi kalau ambil barang juga sangat tidak sebanding,” katanya dengan nada marah.
Hingga kini, besaran tepatnya dana yang dihimpun Karapoto tak pernah dipublikasikan. Para pengelola juga bersikap amat tertutup terkait data jumlah nasabah dan total dana yang mereka kelola. Namun diperkirakan total penghimpunan dana di seluruh Maluku Utara mencapai Rp 3 triliun.
Usai merusak rumah-rumah tersebut, nasabah lantas mengalihkan perhatian pada rumah Jani, leader lainnya. Rumah itu terletak di Kelurahan Tubo. Namun sesampainya di sana polisi sudah lebih dulu mengepung sehingga tak ada nasabah yang berhasil mendekat.
Penjarahan tersebut nyatanya tak membuat nasabah puas. Apalagi para pengelola Karapoto tak diketahui keberadaannya dan tak bisa dihubungi. Mereka pun hendak membakar rumah leader namun dicegah polisi. Nasabah dan polisi pun sempat bersitegang karenanya.
Kepada Malut Post para nasabah mengatakan, ada banyak leader di luar sana. Setidaknya ada 10 leader di Kota Ternate. Mereka adalah Ning, Anti, Yana, Karmila, Wowo, Ros, Tanti, La, Jani dan Hamid. Di setiap kabupaten/kota juga ada leader.
Kabag Ops Polres Ternate AKP Ishak Tanlain mengatakan, 107 personil yang diturunkan sejak Senin (18/2) terus berupaya mengamankan rumah pengelola. Namun nasabah terus memaksa masuk agar bisa mengambil barang-barang. Jumlah nasabah yang begitu banyak membuat mereka berhasil menerobos. “Kita sudah berupaya tapi mereka terus ngotot sehingga bisa masuk dan mengambil barang-barang,” ujarnya.
Dia juga membantah pihaknya telah mengizinkan nasabah masuk seperti informasi yang beredar. Selain itu, dia menuturkan telah berupaya datangkan pengelola Karapoto namun belum berhasil.
Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda yang juga datang mengamankan akhirnya membuat kesepakatan dengan nasabah. Perwakilan nasabah diminta bertemu Kapolres pagi ini jam 9 di Mapolres. Dalam pertemuan nanti, nasabah dapat menyampaikan tuntutan mereka yang akan diteruskan kepada Direktur Karapoto. “Nasabah rapatkan dulu tuntutannya apa saja, kemudian besok (hari ini, Red) disampaikan kepada saya dan saya akan sampaikan ke Bos Karapoto. Lalu kebijakan Fitri itu kemudian disampaikan kembali ke nasabah,” katanya.
Azhari meyakinkan pihaknya mengetahui dimana keberadaan Fitri. Hanya saja lokasinya tak bisa diungkapkan kepada nasabah dengan alasan keamanan dan keselamatan. “Siapa pun dia, walaupun kejahatan yang dia lakukan tapi kita berkewajiban untuk melindungi,” jelasnya. Para nasabah akhirnya membubarkan diri setelah ada kesepakatan tersebut.

Bisa Meluas
Menanggapi aksi agresi para nasabah Karapoto, Psikolog Sosial Syaiful Bahri mengatakan, tindakan tersebut merupakan dampak negatif dari manic society yang kemudian mengarah kepada agresivitas kelompok. Hal ini didorong oleh obsesi, sikap impulsif dan dorongan serba ingin cepat terpenuhi yang tertunda. “Ditambah dengan kekecewaan akan janji-janji oleh pihak Karapoto,” tuturnya kepada Malut Post,
Selasa (19/2).
Menurut alumni Universitas Gadjah Mada ini, perilaku agresi yang dilakukan oleh nasabah merupakan respons untuk mencari pengurangan ketegangan dan frustrasi melalui perilaku menuntut, memaksa bahkan merusak. “Dengan begitu pihak nasabah sebagai korban akan sedikit terpuaskan,” sambungnya.
Dia mengkhawatirkan, situasi sosial tersebut kian meluas. Pasalnya, nasabah Karapoto tidak sedikit jumlahnya. “Korban investasi bodong cenderung mudah tersulut dan terpengaruh oleh salah satu agresor, dlaam hal ini janji Karapoto yang tidak ditepati. Dan ini (agresi, Red) dapat menular ke korban-korban lain,” jelasnya.
Makin meluasnya tindakan agresi bisa juga dilampiaskan kepada para pengelola. Hal ini yang dikhawatirkan Syaiful. “Ini bisa sangat mengancam pihak pengelola Karapoto. Nasabah bisa mudah diprovokasi untuk melakukan agresi terhadap pihak pengelola Karapoto setelah melakukan agresi terhadap barang-barang mereka,” ungkapnya.
Sementara itu, leader Karapoto di Tobelo, Halmahera Utara, Dian Apriani dan timnya akhirnya memenuhi panggilan polisi. Dalam pemanggilan tersebut mereka ditanyai tentang perkembangan rencana pembayaran kembali modal nasabah. "Kita minta penjelasan mereka. Walaupun sebelumnya ada janji dari Bos Karapoto Ternate akan ada pembayaran lanjutan kepada nasabah yang ada, utamanya di Tobelo," ujar Kasat Reskrim AKP Rusli Mangoda.(mg-02/tr-04/kai)

 

Share
Berita Terkait

Pelaku Pembaptisan Massal Ditangkap

04/03/2019, 14:26 WIT

Player CV Ubay Jaya Ditahan

08/03/2018, 13:02 WIT

Dana Ratusan Miliar Menguap

09/03/2018, 12:54 WIT

Ayah Perkosa Anak Kandung

15/02/2018, 09:18 WIT

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(82,68%)       :       (17,32%)

Dahlan Iskan