Senin, 19 Agustus 2019

 Headline
MALUT POST / NASIONAL / Dari Penjara Politik hingga Terjerat Narkoba

Dari Penjara Politik hingga Terjerat Narkoba

Diposting pada 05/03/2019, 13:26 WIT
TANGKAP: Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief ditangkap lantaran terlibat penggunaan narkoba, Minggu (3/3) malam ISTIMEWA
TANGKAP: Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief ditangkap lantaran terlibat penggunaan narkoba, Minggu (3/3) malam ISTIMEWA

JAKARTA - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief terjerat kasus narkoba. Pria kelahiran Bandar Lampung pada 1970 silam itu diduga ditangkap polisi ketika sedang mengonsumsi narkoba jenis sabu di sebuah hotel di kawasan Jakarta Barat.
Dilansir dari CNNIndonesia.com, Andi yang dikenal sebagai aktivis 1998 itu dulu sempat 'diculik aparat' pada masa Orde Baru terkait aktivitasnya sebagai Ketum Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Kini, ia dicokok aparat karena berurusan dengan benda terlarang yakni narkoba.
Perjalanan pendidikan Andi Arief lebih banyak dihabiskan di kota kelahirannya, Bandar Lampung. Dia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1989 silam.
Di dunia mahasiswa itulah, pemikiran Andi Arief semakin berkembang dan terlibat dalam pergerakan di kampus. Ia tercatat pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fisipol UGM pada 1993-1994. Kemudian, dia menjadi Ketua SMID cabang Yogyakarta pada 1994.
Memasuki 1996, Andi Arief menjadi Ketum SMID dan mulai aktif di Partai Rakyat Demokratik. Akibat PRD dinilai mengancam rezim Orde Baru, sejumlah tokohnya lalu diculik termasuk Andi Arief.
Andi Arief dicokok segerombol pria berambut cepak pada 28 Maret 1998 di ruko milik kakaknya di Bandar Lampung. Kisah penculikan para aktivis, termasuk Andi Arief, itu setidaknya bisa dibaca dalam buku karya Erros Djarot dkk berjudul Prabowo Sang Kontroversi: Kisah Penculikan, Isu Kudeta, dan Tumbangnya Seorang Bintang (2007)
Andi disebut disekap selama 17 hari, di mana ia diinterogasi para penculik yang meminta keterangan perihal tokoh-tokoh yang dianggap beroposisi pada rezim Orde Baru. Ia bebas dari 'tahanan politik' itu pada Juli 1998.
Memasuki masa reformasi, Andi Arief kembali terlibat dalam politik. Pada Pemilu Presiden 2004, ia turut berperan memenangkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla.
Oleh SBY, Andi sempat dijadikan sebagai salah satu komisaris PT Pos Indonesia. Selain itu, ia pun didapuk SBY menjadi staf khusus presiden bidang bantuan sosial dan bencana.
Salah satu yang fenomenal dari kiprah Andi Arief di Istana adalah menginisiasi tim terpadu riset mandiri untuk meneliti situs megalitik Gunung Padang, Cianjur.
Di kontestasi pemilu, Andi Arief pernah terlibat dalam Pilgub Lampung 2008. Kala itu Andi Arief maju sebagai calon wakil gubernur bersama Muhajir Utomo dari jalur independen. Pada akhirnya, dia gagal menjadi Wagub Lampung.
Jelang kontestasi Pilpres 2019, Andi Arief sempat beberapa kali memanaskan suhu politik Indonesia lewat kicauan-kicauannya di Twitter.
Beberapa di antaranya menyebut Prabowo Subianto sebagai 'jenderal kardus'. Pun menuding Sandiaga Uno menyetor uang ke partai pendukung Prabowo agar memilihnya sebagai calon wakil presiden.
Itu dilakukannya sebelum Partai Demokrat memilih turut dalam koalisi pengusung Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019.
Terbaru, adalah soal kicauan dirinya perihal tujuh kontainer surat suara telah tercoblos di dermaga tanjung priok. Kabar tujuh kontainer surat suara itu belakangan diketahui hoaks.

Tanpa Babuk
Sementara itu, polisi menyatakan tidak menemukan barang bukti narkoba saat menangkap  Andi Arief di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat, Minggu (3/3). "Saudara AA hanya sebatas pengguna. Jenis narkoba yang ada di ruangan tidak kami temukan. Kemungkinan dia direhabilitasi," kata Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal kepada wartawan di Mabes Polri, Senin (4/3).
Iqbal meminta agar masyarakat tak mempercayai informasi yang beredar di media sosial, termasuk soal foto-foto penangkapan Andi Arief. Menurut Iqbal, petugas hanya mengamankan Andi Arief. "Sedang didalami soal penggunaan narkoba, dari mana. Saya sampaikan tidak ada upaya penghilangan barang bukti," katanya.
Andi Arief ditangkap Minggu (3/3) pukul 18.30 WIB. Menurut Iqbal, penangkapan tersebut berawal dari informasi masyarakat. "Setelah dilakukan mapping sesuai strategi yang ada pada kami, petugas menggerebek dan melakukan upaya kepolisian berbentuk penangkapan," kata dia.
Iqbal menambahkan berdasarkan tes urine, Andi Arief dinyatakan positif menggunakan narkoba jenis metaphetamine atau sabu. Saat ini, Andi Arief masih menjalani pemeriksaan. Polisi juga menyatakan, belum menemukan hubungan antara Andi Arief dengan mafia narkoba. "Saat ini kami sedang dalami," katanya.(cnn/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan