Jumat, 22 Maret 2019

 Headline

3 Perempuan Ditetapkan Tersangka

Diposting pada 09/03/2019, 12:12 WIT
RILIS KASUS: Kapolda Brigjen (Pol) Suroto saat memimpin jumpa pers didampingi Dirkrimum Kombes (Pol) Dian Harianto dan Kabid Humas AKBP Hendry Badar, Jumat (8/3) HUMAS POLDA FOR MALUT POST
RILIS KASUS: Kapolda Brigjen (Pol) Suroto saat memimpin jumpa pers didampingi Dirkrimum Kombes (Pol) Dian Harianto dan Kabid Humas AKBP Hendry Badar, Jumat (8/3) HUMAS POLDA FOR MALUT POST

TERNATE – Tiga pimpinan rombongan yang diduga melakukan pembaptisan massal di Maluku Utara akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah Gresia Dedana alias Greis (36), Liem Sioe Lan alias Grace Liem (54), dan Endang Retnasari (48). Saat ini, para tersangka masih berada di Jakarta lantaran mendadak jatuh sakit saat hendak dibawa ke Ternate, Malut.
Gresia merupakan pimpinan Yayasan Barokah Surya Nusantara (YBSN) yang beraktivitas meresahkan masyarakat di Pulau Morotai. Sementara Grace adalah ketua rombongan Garda Mengobati daripada Mencegah (GMDM) yang turun di Kota Ternate, sedangkan Endang ketua rombongan GMDM yang diduga membaptis siswa-siswi di Kota Tidore Kepulauan.
Kapolda Malut Brigjen (Pol) Suroto dalam konferensi pers kemarin (8/3) menuturkan, para tersangka dikenakan Pasal 263 ayat (1) dan ayat (2) subsider Pasal 378 Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1e KUHPidana tentang Pemalsuan dan Penipuan. Tak hanya itu, pihak kepolisian daerah Malut juga hingga kini masih terus melakukan pengembangan penyidikan untuk mendalami unsur pidana lainnya seperti dugaan penistaan agama.
Untuk itu, Polda Malut telah mengirimkan surat kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Malut untuk meminta penjelasan apakah berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh peristiwa tersebut masuk dalam unsur pidana penistaan agama atau tidak. “Hal itu masih terus kami proses. Anggota kami masih terus melakukan pemeriksaan secara mendalam, dan kami akan periksa saksi-saksi ahli untuk menguatkan,” kata Kapolda yang didampingi Direktur Reserse Kriminal Umum Kombes (Pol) Dian Harianto dan Kabid Humas Polda AKBP Hendri Badar dalam jumpa pers di Mapolda Malut.
Di Kabupaten Pulau Morotai, penyidik telah memeriksa 24 orang saksi. Di Ternate, ada 52 saksi yang diperiksa, sedangkan di Tikep 38 saksi.
Saksi-saksi di Morotai antara lain Sekretaris Dinas Pendidikan Morotai Maudin Wahab, Wakil Kepala Sekolah Gotalamo Muhajir M. Usman, sopir yang menjemput rombongan YBSN Syafrudin Kharie, Kepala Sekolah SD Inpres Daruba Zahra Jamaludin, Kepsek Mts 1 Daruba Jamin M. Nur, dan Guru Mts 1 Daruba Mursina Sente. Lalu ada Kepsek SMA Negeri 1 Daruba M. Hatta, Wakasek SMA 1 Daruba Jabir, Guru SD GMIH Yulianti Tambiran, dua PNS masing-masing Prisilia Tri Irawati dan Samjar P., serta sopir yang rumahnya ditempati YBSN Satria Pribadi. Sedangkan saksi-saksi di Tikep antara lain Kepala Diknas Ismail Dukomalamo, Fatir, Zainal, Suryatin, Suryadi, Hawa, dan Anwar Nur Hasan.
Kapolda menuturkan, rencananya tersangka Gresia Dedana dibawa ke Ternate Rabu (6/3) kemarin. Hanya saja kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Ia tiba-tiba jatuh sakit. “Kami waktu itu sudah beli tiket. Pas di bandara yang bersangkutan sakit. Setelah diperiksa oleh dokter bandara, dokter tidak mengizinkan tersangka untuk diterbangkan ke Ternate karena sakit itu. Kalau tersangka sudah sembuh maka kami akan segera bawa ke Ternate,” tegasnya.
Brigjen Suroto menilai, kelompok yang melakukan aktivitas di Ternate dan Tikep beberapa waktu lalu merupakan satu kelompok GMDM. Memang, lanjut Kapolda, kedatangan rombongan itu ke Ternate dan Tidore membawa serta rekomendasi dari Badan Koordinasi Nasional GMDM. Namun setelah penyidik melakukan pengecekan serta melakukan pemeriksaan saksi-saksi di Jakarta, saksi-saksi yang diperiksa mengaku tidak mengenal orang-orang GMDM yang datang ke Ternate dan Tidore. “Memang GMDM pernah memberikan rekomendasi kepada salah satu orang, tapi bukan kepada orang-orang itu. Jadi GMDM tidak bertanggung jawab terhadap kegiatan itu,” ungkap Kapolda.
Setelah ditelusuri, penyidik menemukan hal yang dilakukan oleh rombongan yang mengatasnamakan GMDM di Ternate dan Tidore itu sama. Yakni membuat data palsu dan melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan izin yang disampaikan. Antara lain memberikan biskuit kepada anak-anak kemudian melakukan ritual di pantai. “Sekarang orang-orang ini sedang kami lakukan pemeriksaan secara intens di Jakarta,” tutur Kapolda.
selain menelusuri dugaan adanya unsur penistaan agama, pihak kepolisian juga menelusuri kandungan dari biskuit yang dibagikan. Sampel biskuit tersebut pun sudah dikirim ke laboratorium. “Barang buktinya sudah kami serahkan untuk diperiksa di laboratorium forensik dan kami masih menunggu hasilnya,” aku Kapolda.
Tak hanya itu, jenderal bintang satu tersebut mengaku pihaknya kini juga sedang mengembangkan proses penyidikan terkait motif kegiatan dilakukan di pantai dan mengapa harus ke Maluku Utara. “Soal motifnya itu juga masih kami dalami lebih dalam, termasuk keterlibatan beberapa oknum mahasiswa dalam kegiatan itu,” tuturnya.
Kapolda menegaskan, proses penyidikan hingga kini masih terus dilakukan. Tidak menutup kemungkinan tersangka dalam kasus ini bisa lebih dari tiga orang tersebut. “Sekarang kami masih tetapkan penanggung jawab kegiatan sebagai tersangka. Nanti kami kembangkan lagi, bila ditemukan unsurnya siapa yang turut melakukan akan ditetapkan tersangka juga,” jelasnya.
Polda Malut, lanjut Kapolda, juga sedang melakukan penelusuran terkait legalitas yayasan-yayasan tersebut. “Kami juga menyurat ke Kemenkumham untuk memastikan legalitas yayasan-yayasan tersebut,” pungkasnya.

Bikin Resah
Sebelumnya, ketiga perempuan yang telah ditetapkan sebagai tersangka bersama rombongan mereka membuat geger masyarakat Malut. Pasalnya, mereka menyasar sekolah-sekolah sambil membawa izin menggelar sosialisasi bahaya narkoba dan seks bebas. Nyatanya, dalam kegiatan dimaksud justru diselipi ritual agama tertentu seperti pembaptisan dan bagi-bagi “roti hidup”.
Sontak aktivitas itu membuat resah warga. Elemen masyarakat berdemonstrasi berulang kali hingga polisi resmi menyidik kasus tersebut.
Berdasarkan penelusuran polisi, Gresia Dedana dan rombongan YBSN-nya masuk ke Diknas dan Dinas Pariwisata pada 15 Februari 2019. Kedatangan mereka untuk meminta rekomendasi menggelar sosialisasi dan karnaval merah putih di Pantai Army Dock. Usai mengantongi rekomendasi, kegiatan digelar pada 21 Februari atau enam hari kemudian. Siswa yang dilibatkan berasal dari Mts Negeri 1 Morotai, SMAN 1 Morotai, SD Inpres Daruba, SD GMIH LOC, dan MA Nurul Huda Gotalamo.
Saat berlangsungnya kegiatan yang diikuti 700 siswa itu, ada pula kegiatan seremoni yang belakangan dipersoalkan publik. Yakni peniupan trumpet, makan krispi sambil mengacungkan krispi ke atas, serta berikrar dengan bunyi “hari ini kami anak Indonesia berkata tidak ada lagi gempa bumi, tidak ada lagi korban tsunami, tidak ada lagi korban bencana di Indonesia, di Morotai. Kami percaya hari ini kami menahan bencana, kami sampaikan kami bersatu sebagai bangsa Indonesia. Kami berkata Indonesia diselamatkan”. Selanjutnya para siswa disuruh menceburkan diri ke laut.
Hal yang sama terjadi di Ternate dan Tidore. Dimana siswa-siswa diberi biskuit bergambar tangan menyembah dan diminta menceburkan diri ke laut yang kemudian diinterpretasikan publik sebagai ritual pembaptisan. Aktivitas Gresia cs ini menyebabkan unjuk rasa masyarakat muslim selama berhari-hari.(cr-04/kai)

Tiga Perempuan Tersangka

Gresia Dedana alias Greis
Jakarta, 10 Agustus 1983
Kristen

Liem Sioe Lan alias Grace Liem
Semarang, 26 Juli 1965
Katolik

Endang Retnasari
Malang, 15 Agustus 1971
Kristen

Pasar yang Dilanggar:
Pasal 263 ayat (1) dan (2) Subsider Pasal 378 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1e KUHPidana

Sumber: Polda Malut

Share
Berita Terkait

Pelaku Pembaptisan Massal Ditangkap

04/03/2019, 14:26 WIT

Player CV Ubay Jaya Ditahan

08/03/2018, 13:02 WIT

Dana Ratusan Miliar Menguap

09/03/2018, 12:54 WIT

Ayah Perkosa Anak Kandung

15/02/2018, 09:18 WIT

E-Paper

Berita Populer

Vote Pilpres

(82,68%)       :       (17,32%)

Dahlan Iskan