Selasa, 10 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / AKADEMIKA / Melindungi Hutan melalui Pendidikan Hutan dan Hutan Pendidikan

Melindungi Hutan melalui Pendidikan Hutan dan Hutan Pendidikan

Diposting pada 05/04/2019, 09:42 WIT


Tamrin Salim, S.Hut.,M.Hut
Dosen Prodi Kehutanan UNNU Tidore

Kuliah Perlindungan Hutan  oleh Tamrin Salim, S.Hut.,M.Hut.

Topik yang dibahas pada edisi kali ini mengenai Melindungi Hutan melalui Pendidikan Hutan dan Hutan Pendidikan oleh Tamrin Salim, S.Hut.,M.Hut. Ini merupakan bagian dari mata kuliah Perlindungan Hutan untuk mahasiswa Semester IV Prodi Kehutanan UNNU. Berikut sajian materi oleh yang bersangkutan.

Hutan Sebagai Sumber Daya Alam Potensial

Hutan merupakan Sumber Daya Alam (SDA) potensial yang hingga saat ini masih menjadi tumpuan masyarakat dan Pemerintah Indonesia. Dalam ekosistem hutan terdapat fungsi lingkungan, yang mencakup fungsi ekologis, sosial, dan ekonomis. Ekosistem hutan amat penting, tidak hanya bagi kehidupan manusia tapi juga bagi kelangsungan flora dan fauna di dalamnya. Berdasarkan UU RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, ada 3 fungsi hutan yaitu konservasi, lindung, dan produksi.
Kesadaran tentang pentingnya perlindungan dalam pengelolaan hutan baru muncul ketika pembangunan hutan tanaman dilakukan dalam skala besar. Di Amerika, pada pertengahan abad 20, ketika hutan tanaman dibangun secara luas, kerusakan hutan mulai dirasakan sebagai salah satu masalah penting, karena banyak yang menyebabkan kematian hutan tanaman. Kondisi yang sama terjadi di Indonesia pada tahun 1980-an, yaitu pada saat dimulainya program pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). Perkembangan pembangunan HTI menunjukkan, masing-masing daerah pengembangan HTI memiliki masalah kerusakan hutan yang berbeda-beda. Hingga saat ini laju kerusakan hutan terus ditekan dengan berbagai kegiatan seperti Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL), pelibatan masyarakat secara penuh melalui Perhutanan Sosial, dan pengelolaan hutan berbasis ekowisata.

Masalah Pengelolaan Hutan
Sejak Konferensi Perubahan Iklim tahun 2007 di Nusa Dua, Bali, hingga kini masih ditemukan masalah hutan yang harus diselesaikan di Indonesia, jika ingin mendapat porsi dana besar dari skema REDD. Inti utama masalahnya adalah Indonesia belum bisa membuktikan melindungi hutannya dari ancaman kerusakan, bukan hanya akibat pembalakan liar, tapi  juga karena keputusan-keputusan pemerintah.

Pada Forest Day 5 di Durban, Afrika Selatan, peneliti kehutanan dari lembaga penelitian CIFOR yang berkantor di Bogor, Daju Pradnja Resosudarmo memetakan lima masalah utama perlindungan hutan di Indonesia yang bisa menghambat kemajuan skema REDD.
1. Penebangan hutan dalam skala besar masih terus terjadi di Indonesia. Salah satu penyebab penebangan hutan yang terus terjadi adalah karena lahan hutan yang berubah fungsi, salah satunya untuk memenuhi kebutuhan perkebunan.

2. Ekonomi Indonesia yang masih sangat tergantung pada sumber alam. Kekayaan alam (hutan, tambang) masih menjadi pilar penyokong utama pemasukan di Indonesia. Daju menyebut, sekitar 70 persen pendapatan non-pajak Indonesia berasal dari kekayaan alam. Pelestarian hutan untuk persiapan proyek REDD pun belum menjadi prioritas. Singkatnya, masih lebih menguntungkan menebang hutan daripada menjaga hutan alami.

3. Perluasan wilayah pertanian, perkebunan, serta tambang. Banyaknya investor asing di bidang kelapa sawit dan tambang batubara menyebabkan ekspansi besar-besaran, beban hutan pun bertambah karena lahan perkebunan kelapa sawit biasanya berasal dari kawasan hutan yang kemudian berubah fungsi. Selain itu, deposit batubara kebanyakan terletak di kawasan hutan.

4. Tabrakan administrasi. Sekitar 70 persen dari lahan di Indonesia adalah hutan, dan ini menjadi milik negara. Dengan desentralisasi, hak pengelolaan hutan pun dikembalikan ke pemerintahan lokal. Sayangnya, situasi ini malah memunculkan tubrukan antara izin penggunaan lahan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah regional. Tumpang-tindih izin pengelolaan hutan pun bisa menambah beban pada upaya pelestarian.

5. Keputusan-keputusan politik. Proses pengambilan keputusan politik menjadi kelemahan terbesar. Salah satu yang menjadi sorotan adalah tidak transparannya pemberian izin pengelolaan untuk industri yang bersifat mengeruk kekayaan alam. Selain itu, proses pengambilan keputusan juga jarang melibatkan partisipasi masyarakat lokal.


Pentingnya Melestarikan Hutan
Hutan di Indonesia termasuk hutan hujan tropis yang sering digambarkan sebagai hutan yang lebat padahal tidak selalu demikian, karena hutan tropis di Indonesia sangat bervariasi mulai dari hutan primer sampai hutan mangrove. Perlu diketahui, potensi sumber daya hutan Indonesia sangatlah besar, yakni 125.922.474 hektar dari keseluruhan wilayah Indonesia (Menurut data KLHK 2017). Hutan di Indonesia masih bisa dijumpai di Kalimantan, Sumatra, Papua atau Sulawesi. Sedangkan di Pulau Jawa komposisi luas hutan telah banyak mengalami penurunan karena pengalihan lahan untuk pemukiman penduduk dan pertanian. Selain hutan yang sangat luas, di dalam hutan Indonesia juga terdapat berbagai flora dan fauna yang bahkan ada diantaranya jenis endemik yang hanya dapat ditemukan di Indonesia. Mirisnya, banyak kasus seperti kebakaran hutan dan Penebangan liar besar-besaran yang dilakukan secara sengaja demi mengekplorasi sumber daya hutan, mengakibatkan beberapa areanya gundul dan menyebabkan pemanasan global. Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan bagi kehidupan manusia membuat proses ini masih saja berjalan di hutan kita.

Pentingnya melestarikan hutan
1. Setiap pohon besar mampu memproduksi 4580 oksigen per tahun. Sedangkan seseorang membutuhkan oksigen 2,9 kg/hari yang berarti sekitar 1058,5 kg/tahun. Jadi jika rumah dihuni oleh 4 orang dibutuhkan sekitar 4234 kg oksigen per tahunnya. Ini bisa dipraktikkan dengan menanam 1 pohon besar di pekarangan rumah, tentunya kebutuhan oksigen tercukupi dan udara di rumah terasa segar sepanjang tahun.

2. Setiap pohon mempunyai kapasitas mendinginkan udara sama dengan rata-rata 5 unit ac yang dioperasikan selama 20 jam/hari.

3. Setiap hektar hutan dapat menetralisir karbondioksida (CO2) yang diakibatkan oleh 20 kendaraan bermotor. Setiap hektar hutan memiliki potensi untuk mengikat 1000 kg debu per tahun yang diakibatkan oleh polusi udara (debu, asap, aerosol, dll) dan mengolahnya menjadi humus.

Memang ada banyak faktor pendorong yang mempercepat kerusakan hutan di Indonesia. Misalnya pengusahaan hutan yang dilakukan secara tidak berkelanjutan (unsustainable). Kemudian, tidak adanya kesadaran menanam kembali hutan yang sudah diusahakan/dikelola. Belum lagi adanya inefisiensi yang sering kali terjadi mulai dari penebangan sampai kepada pemakaiannya. Sementara ini, kenyataan di lapangan juga berbicara secara jelas bahwa jumlah jenis pohon kayu yang disukai pasaran hanya sebagian dari jumlah jenis kayu komersial yang telah diketahui. Ini tentu mempercepat habisnya jenis kayu tersebut. Ada efek penggandaan (multiplier effect) yang terjadi akibat hutan yang sebelumnya tidak pernah dijamah kini telah menjelma menjadi daerah yang mudah ditembus. Hutan rentan dirusak dan ‘dikotori’.

Kita  harus niat menghindari semakin meluasnya kerusakan hutan di Indonesia. Kita sudah sepatutnya segera melakukan upaya pelestarian hutan, diantaranya dengan meningkatkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat. Apalagi masyarakat yang memang tinggal di sekitar hutan. Melakukan hal ini dengan sendirinya akan memberikan dampak sangat positif bagi masyarakat itu sendiri, juga untuk lingkungan yang kita tinggali. Di satu pihak mereka dapat membangun kehidupan yang lebih baik, tetapi di pihak lain juga mereka dapat melestarikan dan menggunakan sumber daya alam (sumber daya kehutanan) secara berkelanjutan dan berkesinambungan.

Pengenalan Pendidikan Hutan dan Hutan Pendidikan Melalui Sekolah Alam Sejak Usia Dini

Pendidikan adalah bagian krusial dalam menyelamatkan hutan dunia terutama di Indonesia. Orang-orang harus bisa melihat keindahan dan mengerti tentang pentingnya hutan, sehingga merasa ingin melindunginya. Banyak cara menjaga kelestarian lingkungan hidup, termasuk kelestarian hutan yang semakin terancam oleh ulah tangan manusia. Di antaranya dengan mengajarkan sedini mungkin kepada anak-anak akan pentingnya hutan. Selain itu, melalui hutan pendidikan yang merupakan wahana bagi masyarakat khususnya pelajar, mahasiswa dan peneliti untuk mempelajari hutan dan hubungan timbal balik antar komponen ekosistemnya.

Beberapa hutan pendidikan di Indonesia biasanya dikelola oleh Universitas, misalnya Hutan Pendidikan Gunung Walat (IPB), Hutan Pendidikan Wanagama (UGM), dan Hutan Pendidikan Gunung Wirawan (Unhas).  Informasi penting yang mutlak ada dalam rangka pengelolaan hutan pendidikan adalah keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Melalui sekolah alam, murid-murid sekolah dasar diajak bermain di alam terbuka atau yang dikenal dengan school visit. Program ini merupakan sebuah pendidikan konservasi non-formal untuk mengenalkan alam sejak dini. Para murid diperkenalkan cara sederhana menjaga kelestarian hutan, misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan serta tidak memetik tanaman yang ada. Pada tingkat pelajar SMP/SMA Pendidikan lingkungan dapat dilakukan dengan kegiatan Pendidikan Pelestarian Lingkungan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK). Dalam kegiatan ini para pelajar dapat melakukan penanaman pohon dan mempelajari kultur jaringan. (tr-04/nty)

 

 

 

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan