Jumat, 06 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / AKADEMIKA / Meningkatkan Semangat Persatuan dan Kesatuan Bangsa melalui Pembelajaran PKn

Meningkatkan Semangat Persatuan dan Kesatuan Bangsa melalui Pembelajaran PKn

Diposting pada 06/04/2019, 10:16 WIT


Oktosiyanti MT. Abdullah, S.Ag. M.Pd  
Dosen  PKn FKIP Unkhair

Topik yang dibahas pada edisi kali ini mengenai Meningkatkan Semangat Persatuan dan Kesatuan Bangsa melalui Pembelajaran PKn oleh Oktosiyanti MT. Abdullah, S.Ag. M.Pd. Ini merupakan bagian dari mata kuliah PKn untuk mahasiswa Semester II PKn Unkhair. Berikut sajian materi oleh yang bersangkutan.    


Pengantar

Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang kita rasakan saat ini, terjadi secara dinamis dan berlangsung lama, karena terbentuk dari proses yang tumbuh dari unsur-unsur sosial budaya masyarakat Indonesia. Unsur-unsur sosial budaya itu antara lain kekeluargaan dan jiwa gotong-royong. Kedua unsur itu merupakan sifat pokok bangsa Indonesia yang dituntun asas kemanusiaan dan kebudayaan.

Kesatuan bangsa sangat intens dilakukan dan dipelihara sayangnya, modal sosial yang sangat kuat dan tumbuh bersama-sama dengan kebangkitan nasional bangsa ini, dikelola secara simultan dengan aspek- kehidupan yang lain, pendekatan politik yang relatif represif dan mengedepankan stabilitas politik, misalnya strategi “trilogi pembangunan”. Dengan demikian persoalan persatuan dan kesatuan bangsa juga merasakan imbas negatif di era reformasi.

Persoalan yang bernuansa separatisme kedaerahan yang sempit pada saat itu, dapat diredam dengan pendekatan stabilitas politik, dengan nuansa pembangunan pertumbuhan ekonomi yang secara artifisial cukup memuaskan, untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) rakyat, disertai dengan sistem pemerintahan yang sentralistik.

Membina Semangat Persatuan dan Kesatuan di Sekolah

Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia diwujudkan dalam semboyan ”Bhinneka Tunggal Ika”, berdasarkan PP No. 66 Tahun 1951, ini mengandung arti beraneka tetapi satu (Ensiklopedia Umum, 1977).  Semboyan tersebut Supomo, menggambarkannya sebagai gagasan dasar yaitu menghubungkan daerah dan suku bangsa di seluruh nusantara menjadi kesatuan raya. Bila dirujuk kepada asalnya yaitu Kitab Sutasoma, yang ditulis oleh Empu Tantular abad ke XIV, ternyata semboyan tersebut menekankan pada pentingnya kerukunan antarumat beragama yaitu agama Siwa dan Budha.  Lengkapnya Bhinneka Tunggal Ika berbunyi  Bhinneka Tunggal Ika Tanhana Dharmma Mangrva. Inilah tujuan kehidupan yang ideal dalam masyarakat yang serba majemuk. Keberagaman bersifat alami dan merupakan sumber kekayaan budaya bangsa. Setiap perwujudan mengandung ciri-ciri tertentu yang membedakannya dari perwujudan yang lain, tidak mungkin satu perwujudan mengandung semua ciri yang ada.

Di dunia ini yang ”tetap” adalah perubahan terus menerus mengikuti hukum evolusi (Charles Darwin) yang ditegaskan oleh Herakletos, bahwa satu-satunya realitas ialah perubahan. Atas dasar pemahaman tersebut, perbedaan-perbedaan yang ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia sebenarnya untuk memenuhi kepentingan bersama agar dapat hidup sejahtera.

     Dalam kehidupan masyarakat yang serba majemuk, berbagai perbedaan seperti suku, agama, ras atau antargolongan, merupakan realita yang harus didayagunakan untuk memajukan negara dan bangsa Indonesia, menuju cita-cita nasional, yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD RI 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Menumbuhkan Persatuan dan Kesatuan Siswa

Persatuan adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian terbesar individu dimana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa. Berdasarkan pengertian di atas, sikap siswa setelah menerima materi dan mendalami ilmu sikapnya lebih baik, dan sadar bahwa tidak ada kehidupan tanpa bantuan orang lain. Sebagai contoh: kesatuan bangsa Indonesia berarti satu bangsa Indonesia dalam satu jiwa bangsa seperti yang diputuskan dalam kongres Pemuda pada tahun 1928, dalam keadaan utuh dan tidak boleh kurang, baik sebagai subjek maupun objek dalam penyelenggaraan kehidupan nasional.  Sedangkan kesatuan wilayah Indonesia berarti satu wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari daratan, perairan dan dirgantara di atasnya seperti yang dinyatakan dalam deklarasi Juanda 1957, dalam keadaan utuh dan tidak boleh kurang atau retak.

Pengalaman sejarah telah membuktikan, betapa semangat persatuan dan kesatuan nasional mampu menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi segala tantangan, hambatan, gangguan bahkan ancaman dari berbagai pihak yang ingin merongrong kedaulatan negara. Dengan semangat persatuan dan kesatuan, segala persoalan dan permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia dapat diselesaikan secara baik. Persatuan sebagai perasaan cinta/bangga terhadap orang lain dan tanah air dan bangsanya, tetapi tidak memandang rendah terhadap orang lain dan bangsa lain. Sikap toleransi ini sangat baik untuk dikembangkan dan diterapkan dalam kehidupan sekolah, bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Menempatkan persatuan dan kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan, menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara, bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri, menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia, tidak semena-mena terhadap orang lain, dan menganggap pentingnya sikap saling menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.

Faktor-faktor yang mendorong  siswa untuk bersikap toleransi di antaranya sebagai berikut :(1) merasa satu agama, suku, ras, budaya sehingga selalu bersatu, (2) bertekad dengan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, (3) rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, (4) adanya persatuan dan kesatuan, serta keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan, (5) adanya jiwa pembaharu, (6) tidak mudah menyerah, (7) merasa cinta pada tanah air, dan (8) mengingat jasa para pahlawan.

 

Peranan Guru dalam menanamkan sikap kebersamaan di lingkungan sekolah

Guru adalah salah satu faktor penting dalam pembelajaran yang ikut menentukan jalannya proses pembelajaran dan keoptimalan hasil yang diperoleh siswa. Begitu pentingnya sikap toleransi bagi kehidupan siswa di lingkungan sekolah, tidak mengherankan jika hal ini terus menerus ditanamkan pada siswa. Tujuannya agar nilai-nilai kebersamaan sungguh-sungguh dihayati dan diamalkan oleh segenap warga negara, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial.

Ada beberapa cara untuk ditempuh dalam menanamkan  sikap kebersamaan dan persahabatan kepada generasi bangsa di lingkungan sekolah yaitu; (1) melakukan pendidikan politik dalam rangka meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang penuh dengan tanggung jawab, (2) meningkatkan disiplin nasional dan tanggung jawab sosial dalam rangka menumbuhkan sikap mental kesetiakawanan sosial, tenggang rasa, dan rasa tanggung jawab, dan (3) memelihara semangat, tekad, disiplin serta meningkatkan partisipasi aktif dalam pelaksanaan pembangunan.

Proses membangkitkan dan mempertahankan kesadaran persatuan dan kesatuan siswa sangat fundamental, guna mempertahankan identitas nasional di tengah arus globalisasi nilai budaya saat ini. Untuk itu mata pelajaran PKn, sejarah dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan  diberikan kepada peserta didik. Karena minat belajar sejarah yang disandarkan pada nilai-nilai kemanusiaan dan mampu mengklarifikasikan nilai-nilai sejarah secara bersama-sama, sehingga mampu menjelaskan perubahan di kalangan siswa.

Pengalaman sejarah penanaman nilai-nilai Pancasila, dapat dibuktikan dengan toleransi dapat membangkitkan dinamika kekuatan sosial yang dapat dianggap sebagai etos, atau “tenaga” dalam membedakan perbedaan pada kalangan siswa. Selama ini etos bangsa yang bersumber pada semangat kebangsaan kebersamaan yang bersandar pada nilai Pancasila mampu mewujudkan sikap toleransi seseorang yang baik.

Kesimpulan

Wujud persatuan dan kesatuan siswa di lingkungan sekolah, seperti; rasa cinta sesama manusia, melaksanakan tata tertib sekolah, saling menyayangi dan menghormati sesama pelajar, berkata sopan, tidak berbicara kotor, atau menyinggung perasaan orang lain, menghormati guru, dan menjaga keamanan lingkungan kelas. Kedua, sikap siswa dalam membina semangat kebersamaan, ketika siswa berhadapan dengan orang yang bukan  sesuku dan seagama yang sama, bersikap dengan baik, saling menghargai, menghormati, dan saling membantu ketika siswa dalam kesulitan dan kesusahan, tidak memandang antara satu dengan yang lain, karena walaupun siswa tersebut memiliki agama dan suku yang berbeda tatapi tetap teman dan siswa tersebut adalah warga Negara Indonesia, dan merasa senasib seperjuangan dan memiliki tujuan yang sama. Ketiga, faktor yang mendorong siswa untuk bersikap toleransi, siswa merasa cinta pada tanah air, Memiliki cita-cita bersama yang mengikat warga sekolah menjadi satu kesatuan, memiliki sejarah hidup bersama sehingga tercipta rasa senasib sepenanggungan di sekolah, memiliki adat, budaya, dan kebiasaan yang sama sebagai akibat pengalaman hidup bersama, menempati suatu sekolah tertentu yang merupakan kesatuan wilayah, dan terorganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat sehingga mereka terikat dalam suatu masyarakat hukum.

Demikian ulasan singkat terkait topik pada edisi kali ini. Semoga bermanfaat dan menjadi pembelajaran bersama.  (mg-04)

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan