Jumat, 06 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / AKADEMIKA / ‘Ulumul Qur’an dan Perkembanganya

‘Ulumul Qur’an dan Perkembanganya

Diposting pada 08/04/2019, 10:18 WIT


Usman Muhammad, SH. M. Pd.I
Dosen IAIN Ternate

Kuliah ‘Ulumul Qur’an oleh Usman Muhammad, SH. M. Pd.I.

Topik yang dibahas pada edisi kali ini mengenai 'Ulumul Qur’an dan Perkembanganya oleh Usman Muhammad, SH. M. Pd.I. Ini merupakan bagian dari mata kuliah ‘Ulumul Qur’an untuk mahasiswa Perbankan Sari’ah (PBS), dan  Manajemen Keuangan Syari’ah (MKS), Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam, IAIN Ternate. Berikut sajian materi oleh yang bersangkutan

A. Pengertian Ulumul Qur’an
    
Istilah Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yakni “’Ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata “’Ulum” adalah bentuk jamak dari kata “ilmu”. Sebagaimana yang didefenisikan oleh Abu Syahbah, ilmu adalah sejumlah materi pembahasan yang dibatasi kesatuan tema atau tujuan. Sedangkan Al-Qur’an, oleh para ulama ushul, ulama fiqih dan ulama bahasa, adalah “Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang lafadznya mengandung mukjizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, yang diturunkan secara mutawatir, dan yang ditulis pada mushaf, mulai dari awal surat Al-Fatihah (surat ke 1) sampai akhir surat An-Nas (surat yang ke 114). Dengan demikian, secara bahasa ‘Ulumul Qur’an adalah ilmu yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an.
      Berikut beberapa defenisi ‘Ulumul Qur’an yang dikemukakan oleh para ulama.

1. Manna’ al-Qaththan: “Ilmu yang meliputi beberapa pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur’an, baik dari segi pengetahuan tentang sebab-sebab turun ayat, pengumpulan Al-Qur’an dan penyusunannya, pengetahuan tentang makki dan madani, nasikh dan masukh, muhkam dan mutasyaabih dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Al-Qur’an.”

2. Muhammad ‘Abd al-‘Azhim az-Zarqani: “Beberapa pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur’an al-Karim, baik dari segi turunnya, susunannya, pengumpulannya, penulisannya, qiraahnya, tafsirnya, kemukjizatannya, nasikh dan mansuknya, dan menolak tuduhan-tuduhan terhadapnya dan lain-lain sebagainya.”

3. Abu Syahbah: “Sebuah ilmu yang memiliki banyak obyek pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an, mulai proses turunnya, urutan penulisan, kodifikasi, cara membaca, penafsiran, kemukjizatan, nasikh mansukh, muhkam-mutasyabih, sampai pembahasan-pembahasan lain.”
      
Dari berbagai defenisi yang dikemukakan oleh para ulama di atas, walaupun dari segi redaksi yang agak berbeda antara satu ulama dengan ulama lainnya. Namun mereka sepakat bahwa: “’Ulumul Qur’an adalah sejumlah pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur’an, dan pembahasan itu menyangkut materi-materi yang kemudian menjadi pokok-pokok bahasan ‘Ulumul Qur’an.

B. Ruang Lingkup Ulumul Qur’an
Hal pertama yang dibahas dalam ulumul Qur’an adalah tentang pengertian Al-Qur’an, baik ditinjau dari segi etimologis maupun secara terminologis. Kemudian pembahasan berikutnya adalah tentang bagaimana caranya Al-Qur’an diturunkan dari Allah SWT, ke Lauh Mahfuzh, dan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia, dan selanjutnya dari Baitul Izzah ke Nabi Muhammad SAW. Setelah itu kemudian dibahas tentang ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah, apa yang menjadi karakteristik suatu surat ataupun ayat dikategorikan sebagai ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah, apakah tempat turunnya atau waktu turunnya, atau sasaran kepada siapa ayat-ayat tersebut diturunkan. Selain itu para ulama juga tidak lupa membahas tentang ayat-ayat pertama dan terakhir turun dan juga yang pertama dan terakhir turun dalam hal tema-tema tertentu.    

      Kemudian pembahasan dilanjutkan tentang sejarah pengumpulan Al-Qur’an, baik dari sisi hafalan maupun penulisannya, baik dari zaman Rasulullah SAW, zaman Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq dan zaman Khalifah Utsman bin Affan. Di bagian ini pula dikemukakan beberapa tuduhan tentang pengumpulan Al-Qur’an dan jawaban terhadap tuduhan-tuduhan tersebut. Selain itu juga dibahas tentang ayat dan surat, meliputi berapa jumlah ayat dan surat-surat Al-Qur’an, susunan ayat dan surat-surat, dan juga penamaan masing-masing surat.

      Masih dalam ruang lingkup Ulumul Qur’an yaitu, Asbabun-nuzul, yakni peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat Al-Qur’an. Kaitan dengan hal ini juga dibahas tentang turunnya Al-Qur’an dalam tujuh huruf, sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits Rasulullah SAW. Apakah yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh dialek bahasa Arab, atau ada pengertian lain lagi? Dalam hal ini, ulama tidak satu kata, selain itu juga dibahas tentang qira’ah atau cara baca Al-Qur’an yang bersumber dari contoh Nabi Muhammad SAW, dalam membaca Al-Qur’an. Qira’ah mana yang dapat diterima dan mana yang ditolak, apa kriteria dan siapa saja imam-imam yang qira’ahnya yang paling populer (masyhur).

      Selanjutnya tentang persoalan nasikh dan mansukh, apakah dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat nasikh mansukh. Sebahagian ulama menolak adanya nasikh mansukh dalam Al-Qur’an, sedangkan sebahagian lagi menerima dan mengakui ada bahkan dengan mudah menetapkan suatu ayat telah dimansukhkan oleh ayat-ayat yang lain, sehingga jumlah nasikh mansukh sangat banyak. Namun ada juga sebahagian mengambil jalan tengah, yaitu menerima dengan sangat hati-hati dan seselektif mungkin, setelah mencoba menggabungkan ayat-ayat yang kelihatannya bertentangan dengan menggunakan pendekatan tahapan hukum, takhsihish hukum yang umum dan sejenisnya. Kemudian dibahas dengan muhkam dan mutasyaabih, apa yang dimaksud dengan muhkan dan mutasyaabih, apa saja aspek-aspek tasyaabuh, bagaimana sikap para ulama terhadap ayat-ayat mutasyaabihat dalam Al-Qur’an. Selain itu juga dibahas tentang munaasabah dalam Al-Qur’an, yaitu hubungan antara satu ayat dengan ayat sebelumnya maupun sesudahnya, begitu juga hubungan antara satu surat dengan surat sebelum maupun sesudahnya. Selain itu dibahas juga tentang kisah-kisah di dalam Al-Qur’an.

      Mukjizat Al-Qur’an dari aspek bahasa, sejarah, ramalan masa depan dan aspek ilmu pengetahuan. Bagian terakhir dari ruang lingkup ulumul Qur’an adalah tentang tafsir Al-Qur’an, pengertian tafsir, bentuk, metode dan corak atau warna penafsiran. Termasuk juga dalam pembahasan ini adalah pembahasan tentang tafsir tematis atau dengan istilah at-tafsir al-maudhu’i.
      Demikian gambaran singkat tentang ruang lingkup pembahasan Ulumul Qu’an dalam kajian yang singkat ini. Tentunya masih ada beberapa ruang lingkup yang belum tersaji di sini, seperti amtsal Al-Qur’an (perumpamaan di dalam Al-Qur’an), aqsham Al-Qur’an (sumpah-sumpah dalam Al-Qur’an), jadal Al-Qur’an (debat-debat dalam Al-Qur’an) dan pembahasan-pembahasan lain yang lebih spesifik. Bagi para pembaca khususnya mahasiswa yang berkeinginan untuk lebih mendalami lagi silahkan membaca dan menelaah secara langsung buku-buku atau kitab-kitab Ulumul Qur’an baik yang tersedia di perpustakaan maupun terjual di toko-toko buku.

Demikian uraian singkat terkait topik pada edisi kali ini. Semoga bermanfaat dan menjadi pembelajaran bersama. (tr-04/nty)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan