Rabu, 24 Juli 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Bikin Peternakan Ular Berbisa di Belakang Laboratorium

Bikin Peternakan Ular Berbisa di Belakang Laboratorium

Diposting pada 09/04/2019, 10:18 WIT
HANYA UNTUK PROFESIONAL: Pawang ular beratraksi di Zona Naka Theatre, Bangkok, Thailand
HANYA UNTUK PROFESIONAL: Pawang ular beratraksi di Zona Naka Theatre, Bangkok, Thailand

Urusan antivenom, Thailand nomor wahid se-Asia. Sejak 1922 mereka meriset sekaligus memproduksi penawar racun ular. Di bawah payung Queen Saovabha Memorial Institute (QSMI). Wartawan Jawa Pos Amri Husniati beruntung mendapat kesempatan langka. Mengintip pembuatan antivenom tersebut.


FOR PATRIA, for scientia, for humanitate. Moto dalam bahasa Latin yang berarti demi negara, demi pengetahuan, dan demi kemanusiaan itu tertulis besar-besar di dinding yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai 2 gedung Queen Saovabha Memorial Institute (QSMI).

Bangunan bergaya klasik di kawasan Pathumwan, Bangkok, itu menjadi ”markas” institusi yang merupakan bagian dari Palang Merah Thailand (The Thai Red Cross Society). Seperti misinya yang memadukan antara pengabdian, pengetahuan, dan kemanusiaan, di gedung tersebut aktivitas yang dilakukan bukanlah profit oriented.

Yang paling menonjol adalah pembuatan antivenom. Bukan hanya pusat riset, produksi penawar racun gigitan ular tersebut juga dilakukan dalam skala massal. ”Produksi kami mencapai 200 ribu vial per tahun,” jelas Prof Dr Sumana Khomvilai, deputy director technical and administrative affairs QSMI.
Untuk antivenom tersebut, Indonesia tertinggal jauh. Di negeri ini baru ada satu macam SABU (serum antibisa ular) polyvalen. Yang bisa untuk mengatasi gigitan tiga macam jenis ular. Yaitu, ular kobra, welang, dan ular tanah. Padahal, jenis ular berbisa di Indonesia mencapai 76 jenis.

Adapun Thailand, mereka sudah memiliki 7 antivenom monovalen dan 2 antivenom polyvalen. Yang monovalen digunakan untuk gigitan king cobra (Ophiophagus hannah), cobra (Naja kaouthia), banded krait (Bungarus fasciatus), malayan pit viper (Calloselasma rhodostama), russels’s viper (Daboia russeli siamensis), green pit viper (Trimeresurus albolaris), serta malayan krait (Bungarus candidus).

Sementara itu, yang polyvalen adalah neuro polyvalen (untuk king cobra, cobra, dan malayan krait) serta haemoto (untuk malayan pit viper, green pit viper, dan russel’s viper). Ular-ular jenis itu kebanyakan ditemukan di Asia dan Afrika.

Negeri Gajah Putih memang memberikan perhatian lebih untuk pengembangan pengetahuan. Untuk pembuatan antivenom, misalnya, mereka sudah melakukannya sejak hampir seabad lalu. Kini mereka memiliki laboratorium yang modern.

Ketika Jawa Pos mengunjungi Sterile Pharmaceutical Production Department itu, pegawai di sana mengenakan pakaian kerja biru. Tertutup penuh. Hanya menyisakan mata. Mereka bekerja di ruangan yang udaranya difilter berlapis. Tingkat kelembapannya sangat dijaga. Demikian pula suhunya.

Kondisi mereka harus benar-benar sehat. Fit. Flu sedikit saja tidak boleh masuk,” tegas Lalida Skolpap, head of Sterile Pharmaceutical Production Department, yang menemani berkeliling.
Pegawai diminta bekerja dengan tenang, penuh kehati-hatian. Tidak boleh grusa-grusu. ”Work slowly,” ujar Lalida. Dalam sekali shift, mereka bekerja 4 jam saja.

Soal kesterilan memang sangat diutamakan. ”Karena manusia tidak akan terkontaminasi produk. Tapi, produk bisa terkontaminasi manusia,” tegasnya.

Dia lantas mencontohkan, ”Jika merasa akan bersin, harus cepat-cepat keluar ruangan. Jika hendak masuk ke ruangan lagi, harus berganti baju laboratorium, yang steril.”

Akses keluar-masuk ruangan itu pun sangat diperhatikan. Jangan bayangkan pintu ruang-ruang produksi industri antivenom tersebut seperti rumah kita. Yang tinggal putar handle pintu, kita sudah berada di luar ruangan. Demi menjaga kesterilan produk, ruang produksi antivenom didesain dengan sistem airlock. Ada ruang antara yang berfungsi sebagai buffer atau penyangga.

Jadi, ada dua pintu di sana. Cara bekerjanya, pintu harus dibuka bergantian untuk menjaga tekanan udara. Pintu seberang baru boleh dibuka untuk lewat jika pintu sisi masuk sudah tertutup.
Contoh lain yang menunjukkan keutamaan steril itu, pencucian barang atau alat laboratorium saja menggunakan purified water. Air yang kandungannya sudah dimurnikan dari mikroba maupun bahan pencemar lain.

Masih di satu kompleks, selain ruang-ruang produksi, QSMI punya peternakan ular sendiri untuk diambil bisanya. Berbagai jenis ular berbisa yang ada di negeri yang sedang menghelat pemilu tersebut dibiakkan. Misalnya, white-lipped pit viper, big-eyed pit vipet, dan siamese russel’s viper.
Menariknya, sebagian koleksi ular itu terbuka untuk umum. Warga lokal maupun turis mancanegara bisa datang untuk melihat ular-ular berbisa yang diletakkan dalam kandang tertutup dari kaca. ”Ini untuk mengedukasi masyarakat,” kata Dr Lawan Chanhome, head of Snake Farm.
Pengunjung dikenai tiket. Yang terhitung ramah di dompet. Yaitu, dewasa THB 200 (Rp 90 ribu) dan anak-anak THB 50 (Rp 22.500).

Tidak sekadar melihat koleksi ular, pada pukul 11.00 dan 14.30 ada pertunjukan. Selain mengenal jenis ular, pengunjung diberi tahu apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan hewan melata itu. Misalnya, usahakan diam. Jangan banyak bergerak. Juga, bagi orang awam, jangan pernah memegang ular dengan tangan kosong.

Sesi pertunjukan yang langka adalah melihat cara petugas memerah bisa ular untuk ditampung dalam wadah. Memerah? Iya. Racun ular diambil dari taringnya. Jelas, itu butuh keahlian tersendiri. Nanti, bisa tersebut disuntikkan ke tubuh kuda. Sistem kekebalan tubuh kuda akan menghasilkan antibodi pelawan bisa ular.

Nah, langkah berikutnya, darah kuda diambil untuk dijadikan serum. Sekali ambil, cukup 2 liter darah. Metode ular dan kuda ini ditemukan Albert Calmette, anak didik bapak vaksinasi dunia Louis Pasteur.
Karena di departemen produksi ini pembuatan antivenom dilakukan dari hulu ke hilir, di kompleks tersebut juga ada kuda. ”Kuda yang dipakai adalah kuda yang dipastikan sehat dan bebas dari antibiotika,” ungkap Lalida.

Koleksi kuda mereka mencapai 450 ekor. ”The horse is our princess. Karena itu, benar-benar dirawat. Tidak pernah ada kejadian kuda mati karena diinjeksi bisa ular. Dan kuda yang diinjeksi selalu diberi tanda,” lanjutnya.

Saat membicarakan kuda itu, Dr dr Tri Maharani MSi SpEm, pakar gigitan ular dan binatang berbisa lain dari Indonesia yang juga ikut dalam kunjungan ke QSMI itu, berbisik, ”Andai kata Indonesia punya pusat riset antivenom seperti ini, kita pinjam saja kuda Pak Prabowo. Koleksinya kan banyak. Pasti boleh,” ujarnya optimistis.

Belajar tentang ”perularan” saja kurang lengkap tanpa disertai selfie. Demi memuaskan hasrat itu, seluruh pengunjung yang bernyali diberi kesempatan untuk menggendong ular koleksi ”bonbin mini”. Tentu saja dicarikan ular yang berkode hijau alias tidak berbisa.

Yang jadi serbuan adalah ular piton albino. Berbobot setengah kuintal, ular berwarna kuning itu terasa makjleb ketika dipanggul. Serasa memanggul sekarung beras yang gedeee.

Tak ada lembaran baht yang dipungut dari pengunjung yang ingin berfoto. Pengunjung pun antre dengan tertib menanti giliran. Rampung selfie dengan si ular jumbo nan jinak, pengunjung wajib cuci tangan. Sudah disediakan wastafel yang dilengkapi sabun antiseptik.

Masih di area yang sama, pengunjung bisa melanjutkan wisata edukasi ke museum ular. Kendati sebutannya museum, kemasannya artistik. Jauh dari kesan membosankan.

JULI tahun lalu Rizky Ahmad, pemuda 19 tahun yang tinggal di Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekanraya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, digigit king cobra peliharaannya di ajang car free day (CFD) di Bundaran Besar Palangka Raya. Nyawa Rizky tak tertolong meski sempat dirawat di RSUD Doris Sylvanus.

Mundur lagi dua tahun, ada Irma Bule yang kematiannya tak kalah tragis. Penyanyi dangdut yang punya nama asli Irmawaty itu tewas setelah dipatuk king cobra saat manggung.

Dua kematian tersebut hanyalah sebagian kecil dari insiden yang bermula karena korban sengaja berakrab-akrab dengan hewan berbisa. Parahnya, mereka tidak siap dengan risikonya. Yaitu kematian.

Ya, memelihara ular berbisa itu berarti memang harus siap dengan kondisi jika sewaktu-waktu terjadi insiden. Paling buruk, digigit. Sayang, fakta di tanah air menunjukkan bahwa mereka yang “berurusan” dengan ular ternyata tak ada satu pun yang siap dengan antivenom.

Lantas, jika ada kejadian digigit ular bagaimana? Padahal, untuk ular berbisa, pengobatan paling tokcer ya diinjeksi antibisa ular. Jangankan Rizky, kebun binatang di Indonesia yang punya koleksi sejumlah ular berbisa pun hingga kini tidak mengantisipasi jika terjadi insiden tersebut. “Belum ada kebun binatang di Indonesia yang punya stok antivenom,” ujar Dr dr Tri Maharani MSi SpEm, pakar snake bite dan toksikologi Indonesia.

Jika ada kejadian, ya korban dilarikan ke rumah sakit. Ironisnya, hanya segelintir rumah sakit di tanah air yang punya antivenom. Itu pun jenisnya sangat terbatas. Sebab, Indonesia baru punya satu antivenom polivalen.

Kondisi itu jauh berbeda dengan Thailand. Negeri Gajah Putih tersebut punya 7 antivenom monovalen plus 2 antivenom polivalen. Ditambah manajemen penanganan korban gigitan ular maupun binatang beracun lain, sudah tertata rapi.

Ada Ramathibodi Poison Center yang siap melayani 24 jam. Cukup dengan tekan hotline 1367. Call center itu tidak sekadar menjadi “dinas penerima pengaduan”. Lembaga tersebut juga siap dengan solusi. Untuk korban gigitan ular, misalnya. Di sana sudah disediakan lemari penyimpanan khusus antivenom.

Mereka juga punya Thailand antidote network yang dibikin bertahap. Pada 2015 baru ada di Udon Thani, Tak, dan Chiang Mai. Tahun berikutnya bertambah di Rayong, Surat Thani, serta Nan. Pada 2017 dibikinlah di Songkha dan 2018 di Saraburee.

Dengan jaringan yang terhubung dari utara hingga ke selatan itu, mereka tahu rumah sakit mana saja di seantero Negeri Seribu Pagoda tersebut yang punya antivenom. Juga, berapa banyak stok yang dimiliki masing-masing.

Jadi, jika ada korban gigitan ular, misalnya, yang tinggal di kawasan Thailand Selatan, mereka tak perlu jauh-jauh menanti kiriman antivenom dari Bangkok. Sebab, ada rumah sakit di sisi selatan yang punya stok dan siap menangani. “Semua korban gigitan ular itu ditangani gratis oleh rumah sakit.

Negara yang menanggung,” jelas Panee dari Ramathibodi Poison Center.

Kesigapan penanganan korban gigitan ular memang ikut menentukan kelangsungan hidup korban. Apalagi jika yang menggigit itu ular berbisa jenis tertentu. Terlambat sedikit, nyawa melayang.

Seperti yang terjadi pada Rizky itu. Sudah ditangani medis. Namun, pihak rumah sakit belum punya serum king cobra. Kala antivenom akhirnya datang, terlambat sudah. Rizky telah meninggal secara klinis.

Bayangkan jika yang menggigit itu king cobra. Sementara di Indonesia SABU (serum antibisa ular) jenis tersebut belum diproduksi. Yang ada barulah antivenom polivalen untuk gigitan ular tanah, welang, dan kobra. Padahal, beda jenis ular berbisa, beda pula penawarnya.

Memang antivenom itu bisa dibeli di luar negeri, tapi kan butuh waktu untuk mendatangkannya. Seperti yang beberapa kali dilakukan dr Maha. Jauh-jauh dia terbang ke Bangkok, Thailand, hanya demi mendapatkan antivenom. Sebab, Thailand punya lebih banyak jenis penawar racun ular tersebut. “Begitu sampai di Bandara Suvarnabhumi, saya langsung ke Palang Merah Thai land untuk ambil antivenom ini. Setelah itu, balik ke bandara dan langsung terbang ke Indonesia lagi. Karena sudah ditunggu pasien yang sedang kritis karena digigit ular,” kenang dokter lulusan Universitas Brawijaya Malang itu.

Kesadaran pentingnya punya antivenom tersebut juga dimiliki Siam Serpentarium. Objek wisata edukatif di luar Kota Bangkok itu punya sejumlah koleksi ular yang jinak hingga yang berlabel merah alias berbahaya. Misalnya, king cobra (Ophiophagus hannah), malayan krait (Bungarus candidus), dan banded krait (Bungarus fasciatus). Mereka memelihara ular-ular berbisa itu, tapi juga siap dengan penawarnya.

Berkat riset mendalam disertai produksi antivenom serta manajemen snake bite yang keren itulah, Thailand berhasil menekan angka kematian korban gigitan ular. “Pada 1950-an kematian akibat gigitan ular ini mencapai 178 per tahun. Namun, kurun 2008-2016, sudah sangat jauh berkurang.

Kurang dari 2 orang per tahun,” jelas Prof Dr Sumana Khomvilai dari Queen Saovabha Memorial Institute yang menjadi bagian dari Palang Merah Thailand.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? “Tahun 2017 yang tewas karena gigitan ular ini 35 orang. Dan, tahun berikutnya melonjak menjadi 45 orang,” kata Maha yang juga penasihat WHO dalam hal gigitan ular itu.

Indonesia menjadi negeri “sarang ular”. Betapa tidak, ada 348 jenis ular, 76 di antaranya berbisa. Sudah saatnya dibangun pusat riset untuk binatang berbisa. Juga, diproduksi lebih banyak macam antivenom.

Memang, seperti dikatakan Sumana, produksi antivenom itu tidak mudah. Biayanya pun sangat mahal. Namun, untuk urusan nyawa, apakah pemerintah masih terus berhitung untung dan rugi? Sebab, ini bukan bisnis.(jpc/kai)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan