Senin, 16 Desember 2019

 Headline
MALUT POST / / Sosialisasi Pemanfaatan dan Penggunaan Kawasan Hutan

Sosialisasi Pemanfaatan dan Penggunaan Kawasan Hutan

Diposting pada 10/04/2019, 12:27 WIT
 SOSIALISASI: (Dari kiri) Kapolsek Weda Tengah Iptu Hasan Abasah, Kanit Tipiter Bripka Juventus JS, Kepala Kantor Pertanahan Nasional Munsyarief, Kabid Perencanaan Samsu, Camat Weda Tengah Muhammad Riski Hasyim
SOSIALISASI: (Dari kiri) Kapolsek Weda Tengah Iptu Hasan Abasah, Kanit Tipiter Bripka Juventus JS, Kepala Kantor Pertanahan Nasional Munsyarief, Kabid Perencanaan Samsu, Camat Weda Tengah Muhammad Riski Hasyim

WEDA - Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara menggelar sosialisasi pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan di Desa Sawai Itepo, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah. Sosialisasi itu bertempat di SMK Negeri 2 Halteng, Selasa (9/4) kemarin. Diikuti 62 peserta yang terdiri dari Kepala Desa se-Kecamatan Weda Tengah dan masyarakat. Pemateri dalam acara sosialisasi ini Kepala Kantor Pertanahan Nasional Halteng Munsyarief, Kepala Bidang Perencanaan Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara Samsu, Kanit Tipiter Polres Halteng Bidang Penegak Hukum Bripka Juventus JS dan moderator Camat Weda Tengah Muhammad Riski Hasyim.     

Ketua Panitia penyelenggara Fachrurrazhi menyatakan, kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang fungsi kawasan hutan dan tata cara pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan. “Ini supaya masyarakat tahu fungsi kawasan hutan dan cara mengelolanya,” singkat Kepala KPH Halteng itu.

Kepala Bidang Perencanaan Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara Samsu menyatakan, hutan itu dibagi atas hutan lindung, hutan konservasi dan hutan produksi.

Menurutnya, hutan lindung merupakan hutan atau lahan luas yang berisikan kumpulan jenis flora dan fauna yang terbentuk secara alamiah maupun tidak. Kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung mempunyai peran sebagai penyedia cadangan air bersih, pencegah banjir, penahan erosi, paru-paru kota dan lainnya. “Fungsi hutan lindung adalah mengatur tata air,” ujarnya.
Adapun hutan konservasi, berdasarkan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan konservasi didefinisikan sebagai kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. “Fungsi konservasi mempertahankan keanekaragaman hayati,” ucapnya.

Sedangkan hutan produksi adalah kawasan hutan yang memiliki fungsi pokok menghasilkan hasil hutan baik hasil hutan kayu maupun hasil hutan non kayu. “Hutan produksi bisa memproduksi kayu dan hutan bukan kayu. Ada juga Hutan negara yang diatur pemerintah dan hutan hak yang dikelola masyarakat,” terangnya.  

Sementara itu, Kepala Kantor Pertanahan Nasional Halteng Munsyarief menyatakan, minat masyarakat untuk memiliki sertifikat sangat minim. “Kita sudah berulang kali melakukan sosialisasi tetapi minat masyarakat untuk membuat sertifikat masih minim,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, konflik kerap terjadi karena persoalan tanah. Karenanya, masyarakat harus memiliki kesadaran supaya menyertifikatkan tanahnya. “Nanti anak cucu kita yang merasakan akibatnya kalau kita tidak memiliki sertifikat,” ungkapnya.

Lanjutnya, tanah yang tidak memiliki sertifikat disebut tanah negara. “Jangan katakan itu tanah kepemilikan kalau tidak ada sertifikat,” tandasnya.  

Di tempat terpisah Kanit Tipiter Polres Halteng Bidang Penegak Hukum Bripka Juventus JS menyebutkan, kebanyakan kasus yang dihadapi karena tidak ada dokumen. “Sudah banyak kasus yang ditangani tetapi tidak ada dokumen,” katanya.

Pihaknya pernah menangani kasus //illegal logging// dan pelakunya sudah divonis. “Yang paling parah pelaku usaha terkait //illegal logging//. Karenanya supaya tidak berhadapan dengan kepolisian maka harus mengurus dokumen kelengkapan,” pintanya.(adv/mpf)

 

Share
Berita Terkait

Panwascam Temukan Pemilih Ganda

05/04/2018, 12:34 WIT

18 Perusahaan Beroperasi di Halteng

28/03/2019, 12:18 WIT

WBN Siap Serap 15 Ribu Tenaga Lokal

31/08/2018, 12:40 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan