Selasa, 21 Mei 2019

 Headline
MALUT POST / OPINI / Perempuan si Buta Kuasa

Perempuan si Buta Kuasa

Diposting pada 11/04/2019, 12:09 WIT

Oleh :Asterlita T. Raha
(Perempuan Loloda)

Bukan cuma kekurangan kekuasaan, perempuan juga takut pada kekuasaan itu sendiri. Sinisme perempuan terhadap kekuasaan yakni dengan mengangap kekuasaan berkaitan dengan penaklukan dan penindasan yang merupakan kebutaan sekaligus penyebab perempuan memalingkan wajah dari persimpangan kekuasaan. Gagasan bahwa ketakutan terhadap kekuasaan akan memblokir seluruh hidup perempuan memang benar adanya, ketakutan telah berhasil membuat perempuan tersingkir dari kediriannya dan menjadi lyan.

Kemapuan atau kesanggupan (untuk berbuat sesuatu) kekuatan; serta wewenang untuk menentukan sesuatu merupakan definisi atau batasan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tentang kuasa itu sendiri. Sehingga kekuasaan tidak lain selain kekuatan, kesanggupan bahkan suatu kemampuan untuk melakukan sesuatu sebagai potensi dari diri sendiri(intrisik), bukan proses penaklukan ataupun hegemoni terhadap pihak diluar dari kediriannya. Konsep ini sejalan dengan teori kekuasaan menurut Michel Foucault.

Apa itu perempuan?
Pertanyaan ini sama dengan apai tulaki-laki?,dan jawabannya akan merujuk pada dua hal, yaitu Gender dan seks. Berbicara gender berbeda dengan jenis kelamin (seks), berbicara gender harusnya membawa nalar jelajah kita pada suatu tatanan (kebiasaan) peradaban yang terkonstruksi sejak peradaban dini sampai sekarang, culture dan berbagai teks pengetahuan turut melegitimasi gender. Gender pada dasarnya baik, namun yang menjadi masalah adalah kesalahan dalam menafsirkan (bias gender) akibatnya terdapat ketimpangan dalam relasi antara sesama manusia. Ketimpangan relasi yang diakibatkan oleh bias gender merugikan kelompok manusia lain yang berbeda jenis kelamin, dimana menempatkan laki-laki sebagai manusia yang bebas nilai sedangkan perempuan yang patuh terhadap nilai. Masyarakat pun masih banyak yang tak mampu membedakan mana jenis kelamin (seks) atau yang kodrati dan gender yang terkonstruksI. Sedangkan seks atau jenis kelamin adalah karakteristik biologis dan fisiologis laki-laki dan perempuan seperti organ reproduksi, kromosom, hormondll (WHO). Sehingga jika menganggap bahwa masak-masak, bersolek dan manak (melahirkan) adalah kodrat atau seks perempuan, maka kita telah mencederai bagian mata serta turut membutakan perempuan terhadap kuasa.

Tuna netra Kekuasaan (Buta kuasa)
“Cogito Ergo Sumatau saya berpikir maka say aada (Rane Descartes; 1596-1650) merupakan model Cartesian sebagai cara berpengetahuan sekaligus menjadi jurang pemisah antara yang mengetahui (knower) dan yang diketahui (known), yang berakibat pada pengobejektifikasi ansisubjek dan merugikan perempuan. Logika selalu mendikte, laki-laki berpikir dan perempuan merasa. Sehingga Interpretasi dictum I thing there fore I’am adalah “laki-laki berpikir maka laki-laki ada”. Tak hanya Cartesian, jauh sebelumnya Aristoteles berasumsi bahwa perempuan merupakan yang cacat dan juga inferior. Filsuf Gilles Deluze (1925-1995)  pun turut menyumbangkan tikaman bahwa laki-laki adalah sebuah ‘konsep Ada’ (concept of being), tetapi perempuan menjadi (becoming). Pertanyaan fundamental: Apakah tuna netra kekuasaan yang dialami oleh perempuan adalah permanen dan kodrati atau dibentuk dan dikonstrusi?

Di berbagai bidang. Baik sosial, ekonomi, budaya, politik, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Perempuan takut mengaktualisasikan kuasanya sehingga tak mengherankan jika perempuan tersingkir dari kekuasaan. Bahkan dalam ruang paling privat sekalipun perempuan telah buta terhadap kuasa dan kehilangan kekuasaan, sebab setingkat cara berbusana dan bertutur tak lepas dari tatakrama yang berasal dari luar dirinya. Perempuan kehilangan wewenang dan otoritas terhadap dirinya karena menjadi objek serta tahanan moralitas dan etika kebenaran. Menurut acatatan KOMNAS perempuan dan anak sepanjang tahun 2018 terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan sebesar 14 persen dari tahun 2017 yaitu 406.178 kasus dan kekerasan paling tinggi terjadi pada ranah privat atau personal.

Tubuh perempuan adalah ruang politik, bukan otoritas diri bahkan tempat penguasaan beroperasi melalui mekanisme budaya, akhirnya perempuan kehilangan kekuatan dan kemampuan dalam dirinya sehingga untuk menguasai ranah publik, perempuan mengalami kebutaan dan tak jarang dijadikan alat politik untuk berkuasa. Arogansi atas tubuh perempuan telah lama ditelanjangi oleh filsufSimone de Beauvoir dengan istilah the second sex atau the other dan bagaimana perempuan kehilangan kuasa untuk bereksistensi.

Melek Kuasa
Perempuan telah ada di jalan simpang kekuasaan,  lalu siapkah perempuan melek kekuasaan?
Mari mengobati kebutaan dengan membasuhkan konsep eksistensialisme Beauvoir. “One who is not born is the other, but a women.” Ya, perempuan tidak terlahir, melainkan dicetak, dibentuk. Beauvoir ingin mengatakan bahwa konstruksi sosiallah yang membutakan perempuan dan di depak menjadi lyan, sehingga perempuan tak punya hak atas dirinya, atas tubuh dan pikirannya, bahkan kesantunanpun harus menyesuaikan dengan standar lingkungannya. Kebutaan kuasa mengakibatkan ketidakberdayaan dan bersarang seluruh ketertindasan dan diskriminasi. Mengacu pada teori eksistensialisme Jean Paul Satre, tentang modus ada pada manusia terbagi menjadi 3 bagian, yakni ada pada dirinya (entre ensoi), ada bagi dirinya (entre poursoi) dan ada untuk orang lain (entre pour les autres). Laki-laki dan perempuan seharusnya secara sadar mengetahui potensi dalam dirinya (entre ensoi), seperti menstruasi, mengandung dan melahirkan bukan merupakan kodrati perempuan namun potensi yang dimiliki oleh perempuan karena memiliki organ yang berpeluang menghasilkan,demikian laki-laki bukan pencetak uang dan pelindung kemudian ada bagi dirinya (entre poursoi), artinya setelah mengetahui potensi dalam dirinya laki-laki dan perempuan harus mampu menyediakan keperluan bagi dirinya sendiri sebagai perwujudan. Yang terakhir, ada untuk orang lain (entre pour les autres),merupakan kesadaran untuk berelasi dengan sesama manusia untuk mencapai kebahagiaan bersama,sehingga dibutuhkan sebuah medium untuk memfasilitasi sebagai perwujudan dari “Eksistesialisme”. Sehingga puncak tertinggi eksistensi manusia adalah politik, merujuk dari konsep Aristoteles “Zoon Politikon” atau manusia politik, Hanna Arendt kemudian medefenisikan manusia politik adalah manusia tindakan, dengan menggunakan ruang public dan prularistik, dimana setiap manusia berada pada tataran kesetaraan (equality). Makna sebenarnya politik adalah kebebasan, bebas dari pengendalian mekanisme alamiah, bebas dari dominasi hirarkis, dan masuk ke ruang publik sebagai manusia yang otentik dan otonom.Sehingga untuk bereksistensi sebagai manusia tidak berkaitan dengan jenis kelamin tertentu atau politik tak berjenis kelamin laki-laki. Berpicara politik berbicara kebebasan, sebab politik mengingkari hegemoni dan dominasi. Politik adalah alat pendistribusi keadilan sebagai perwujudan ada untuk orang lain (entre pour les autres), perempuan pun harus secara sadar dan melek terhadap politik. Sebagai demografi yang hampir sama dengan laki-laki, perempuan harus turut dan terlibat bereksistensi, baik secara politik, ekonomi, sosial bahkan IPTEK. Aktualisasi inipun dapat kita lihat pada konstelasi politik 2019 ini, sekitar 3.194 caleg perempuan yang ikut berkotestasi dari 16 partai politik dan menurut data KPU, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Hasil Perbaikan (DPTHP) III Pemilu 2019, pemilih perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki, yakni 95.406.271 orang sedangkan laki-laki 95.373.698 orang. Buta kuasa bukan kodrat perempuan tetapi hasil konstruksi sosial, perempuan harus melek kuasa agar menjadi manusia otentik dan otonom. Perempuan adalah manusia yang sama dengan laki-laki, yang membedakan adalah organ reproduksi, hormon dan kromosom bukan kebebasan dan hak asasi untuk hidup. Dengan terus mencerahkan akal dengan literasi niscaya” perempuan buta kuasa” akan menjadi mitos usang diatas kokohnya kehidupan yang egaliter (*)

 

 

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan