Kamis, 17 Oktober 2019

 Headline
MALUT POST / AKADEMIKA / Keluarga Sehat tanpa Asap Rokok

Keluarga Sehat tanpa Asap Rokok

Diposting pada 13/04/2019, 13:16 WIT


Rusny Muhammad, S.SiT,S.Pd,M.Kes

Dosen Keperawatan/ Direktur Poltekkes Kemenkes Ternate


Topik yang dibahas pada edisi kali ini mengenai Keluarga Sehat tanpa Asap Rokok oleh Rusny Muhammad, S.SiT,S.Pd,M.Kes. Ini merupakan bagian dari Kuliah Keperawatan Keluarga untuk mahasiswa semester VI Program Studi  D3 dan D4 Keperawatan Poltekkes Ternate. Berikut sajian materi oleh yang bersangkutan.

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Karena unit terkecil dari masyarakat, derajat kesehatan rumah tangga atau keluarga menentukan derajat kesehatan masyarakatnya. Sementara itu, derajat kesehatan keluarga sangat ditentukan oleh Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dari anggota keluarga tersebut. Artinya, setiap upaya program harus berdampak positif dalam membentuk perilaku sehat dan lingkungan sehat. Menurut peneliti Universitas Wageningen, ada empat gaya hidup sehat yang harus dijalankan yaitu berhati-hati dengan makanan (diet), menghindari alkohol, olahraga, dan menghentikan kebiasaan merokok.

Merokok merupakan masalah kesehatan utama bagi masyarakat terutama keluarga karena merokok merupakan faktor risiko dari berbagai macam penyakit, antara lain penyakit kardiovaskular, penyakit serebrovaskular, impotensi, dan berbagai jenis kanker yang penyebabnya terdapat dalam kandungan dari bahan kimia atau partikel yang terkandung dalam asap rokok. Laporan dari World Health Organization (WHO) tahun 2015 menyatakan bahwa angka kematian penyakit akibat rokok mencapai enam juta jiwa setiap tahunnya. Kurang lebih sebesar lima juta perokok pasif meninggal dunia dan lebih dari 600.000 perokok pasif di dunia meninggal akibat terpapar asap rokok. Hal ini berarti setiap satu menit tidak kurang sembilan orang meninggal akibat racun pada rokok atau dalam setiap enam detik di dunia ini akan terjadi satu kasus kematian akibat rokok. Menurut data WHO, Indonesia merupakan Negara ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India. Peningkatan konsumsi rokok berdampak pada makin tingginya beban penyakit akibat rokok dan bertambahnya angka kematian akibat rokok. Tahun 2030 diperkirakan angka kematian perokok di dunia akan mencapai 10 juta jiwa, dan 70% diantaranya berasal dari negara berkembang.
 
Berdasarkan data dari Global Youth Tobacco Survey (2014), sebanyak 57,3% anak sekolah usia 13-15 tahun terpapar asap rokok dalam rumah dan 60% terpapar  di tempat umum atau dengan kata lain enam dari sepuluh anak sekolah dengan usia 13-15 tahun terpapar asap rokok di dalam rumah dan di tempat-tempat umum. Hal ini didukung dengan hasil survei sebelumnya dari Global Youth Tobacco Survey (2006), enam dari sepuluh siswa usia 13-15 mempunyai satu atau lebih orang tua perokok, dan 65%  tinggal satu rumah dengan perokok. Hal ini menyatakan bahwa kebiasaan merokok di dalam rumah sangat tinggi, sehingga risiko penyebaran asap rokok dalam rumah dari perokok aktif terhadap perokok pasif juga tinggi.

Merokok menimbulkan beban kesehatan, social, ekonomi dan lingkungan, tidak saja bagi perokok tetapi juga bagi orang lain. Perokok pasif terutama bayi dan anak-anak perlu dilindungi haknya dari kerugian akibat paparan asap rokok. Asap rokok yang dihisap oleh si perokok dan orang lain yang menghirup asap rokok berdampak pada timbulnya berbagai gangguan kesehatan diantaranya rambut rontok, katarak, kanker hidung, gangguan pendengaran, kanker kulit, osteoporosis, karies, gigi berlubang dan berwarna kuning dialami oleh hamper semua perokok, kanker mulut, kanker payudara yang diderita oleh wanita yang suaminya adalah perokok, kanker leher Rahim, emphysema, kanker paru, PPOK, kanker ginjal, kerusakan sperma, amputasi kaki akibat penyumbatan pembuluh darah pada kaki dan penyakit pembuluh darah dan pembusukan jari-jari kaki.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, sebesar 85% rumah tangga di Indonesia terpapar asap rokok, estimasinya adalah delapan perokok meninggal karena perokok aktif, satu perokok pasif meninggal karena terpapar asap rokok orang lain. Berdasarkan rasio ini maka sedikitnya 25.000 kematian di Indonesia terjadi dikarenakan asap rokok orang lain. Hasil Riskesdas (2018) bahwa Prevalensi merokok pada populasi usia 10-18 tahun naik menjadi 9,1%. Oleh karena itu, perubahan perilaku dilakukan dengan pendekatan keluarga jadi artinya keluarga harus mempunyai edukasi dan dukungan yang kuat agar keluarganya menjadi sehat.

Keluarga mempunyai peran penting dalam menjaga kesehatan anggota keluarganya. Mulai dari membiasakan perilaku orang tua dengan tidak merokok. Karena terbentuknya perilaku seorang anak tergantung dari perilaku orang tuanya di rumah, termasuk kebiasaan merokok. Keluarga dengan anak remaja, harus memberikan perhatian dan edukasi yang kuat, karena usia remaja merupakan usia yang mudah terpengaruh oleh sesuatu yang baru, unik dan menarik, serta selalu mengikut trend mode, termasuk rokok. Edukasi untuk menghindari rokok yang diterapkan dalam keluarga yaitu hindari berkumpul dengan teman-teman yang sedang merokok, lakukan hal-hal yang positif lainnya seperti olahraga, membaca, atau hobi lain yang menyehatkan, yakin lah bahwa rokok bukan satu-satunya sarana pergaulan, jangan malu mengatakan bahwa diri kita bukan perokok, hindari sesuatu yang terkait tentang rokok, dan perbanyak mencari informasi tentang bahaya rokok.

Keluarga dapat menciptakan program langit biru, khususnya di dalam rumah. Program ini menjaga rumah agar terbebas dari paparan asap, terutama asap rokok. Sehingga keluarga dapat hidup sehat dan terbebas dari asap rokok. Agar terhindar dari asap rokok, mulai sekarang orang tua harus konsisten menjauhi rokok dan paparan asap rokok dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun tidak mudah, tetapi dengan kemauan yang kuat, dukungan lingkungan dan bantuan medis, seorang perokok dapat berhenti merokok.

    Perokok aktif dalam keluarga akan sulit untuk berhenti karena ketika sudah kecanduan rokok, nikotin yang terkandung dalam tembakau merangsang otak untuk melepas zat yang memberi rasa nyaman (dopamine). Dan saat seorang pecandu tidak merokok akan mengalami gejala putus nikotin seperti rasa tidak nyaman, sulit konsentrasi dan mudah marah. Sehingga untuk mempertahankan rasa nyaman, timbul dorongan untuk merokok kembali, inilah awal dari proses kecanduan. Oleh karena itu, untuk menjaga keluarga sehat tanpa asap rokok, perokok aktif harus niatkan tekad ingin melindungi keluarga (perokok pasif) dari risiko terkena kanker paru-paru, mintalah dukungan dari anggota keluarga (perokok pasif) dan kerabat dekat untuk selalu mengingatkan untuk tidak merokok, dan keluarga harus memegang prinsip bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati.

    Indonesia Sehat dapat diwujudkan melalui keluarga-keluarga yang sehat, sehingga membentuk masyarakat sehat. Peran keluarga dan kader untuk menciptakan rumah tanpa asap rokok diantaranya yaitu memberikan penyuluhan tentang pentingnya perilaku tidak merokok kepada seluruh anggota keluarga, menggalang kesepakatan keluarga untuk menciptakan rumah tangga tanpa asap rokok, menegur anggota rumah tangga yang merokok di dalam rumah, tidak memberi dukungan kepada orang yang merokok dalam bentuk apapun (seperti dengan tidak memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk merokok di dalam rumah, tidak menyediakan asbak, tidak menyuruh anaknya membelikan rokok untuknya), orang tua bisa menjadi panutan dalam perilaku tidak merokok, dan melarang anak tidak merokok bukan karena alasan ekonomi tetapi justru karena alasan kesehatan. Dengan peran keluarga inilah maka tercipta lah keluarga sehat tanpa asap rokok. Demikian, ulasan singkat terkait topik pada edisi kali ini. Semoga bermanfaat dan menjadi pembelajaran bersama.  (tr-04/nty)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan