Selasa, 16 Juli 2019

 Headline
MALUT POST / / Warga Taliabu Mengungsi

Warga Taliabu Mengungsi

Diposting pada 13/04/2019, 13:41 WIT
AMANKAN DIRI: Warga Pulau Taliabu yang mengungsi di Bukit Ratahaya tak jauh dari ibukota Bobong, Jumat (12/4) malam pascagempa mengguncang Sulawesi Tengah SALIM GANIRU FOR MALUT POST
AMANKAN DIRI: Warga Pulau Taliabu yang mengungsi di Bukit Ratahaya tak jauh dari ibukota Bobong, Jumat (12/4) malam pascagempa mengguncang Sulawesi Tengah SALIM GANIRU FOR MALUT POST

TERNATE – Gempa berkekuatan 6,9 Skala Richter (SR) mengguncang Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah pukul 20:40 WIT malam tadi. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami pasca gempa. Di Maluku Utara, Pulau Taliabu yang hanya berjarak sekitar 257 kilometer ikut merasakan dampak lindu tersebut.
Di Taliabu sendiri, BMKG mencatat terjadi gempa berkekuatan 5.0 SR tak lama setelah gempa Sulteng. Kasno, warga Desa Kawalo, Kecamatan Taliabu Barat mengungkapkan, guncangan terjadi berulang kali sehingga warga berhamburan ke luar rumah. “Kencang sekali guncangannya. Sempat takut karena kampung kami berhadapan langsung dengan lautan bebas,” tuturnya malam tadi.
Sekretaris Daerah Pulau Taliabu, Salim Ganiru kepada Malut Post menyatakan warga sekitar ibukota Bobong mengungsi di Bukit Ratahaya di Desa Ratahaya. Desa tersebut terletak tak jauh dari Bobong. “Yang mengungsi warga Desa Wayo dan Bobong di ibukota kabupaten. Tapi ada juga di desa lain seperti Bapenu (Kecamatan Taliabu Selatan) di selatan dan Desa Todoli (Kecamatan Lede) di utara,” terangnya.

Salim sendiri sempat ikut mengungsi dengan warga. Menurut dia, warga memutuskan mengungsi setelah mendengar adanya peringatan dini tsunami dari BMKG. “Warga tahu ada peringatan dini. Diumumkan di masjid-masjid,” tuturnya.

Meski peringatan dini kemudian dicabut BMKG sekira pukul 21:47 WIT, warga tetap memilih bertahan di lokasi pengungsian. Pasalnya, desa mereka rata-rata terletak di pesisir. “Kami imbau warga agar jangan panik. Tetap waspada dan siaga terus, serta berdoa supaya tidak terjadi apa-apa,” imbau Salim.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Taliabu, Sutomo Teapon mengungkapkan, begitu terjadi gempa masyarakat langsung berhamburan ke luar rumah dan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Pemerintah daerah mencatat, ada tiga titik pengungsian, yakni di SPBU Bobong, Bukit Ratahaya dan tower Telkomsel di . “Sekitar 500 orang mengungsi. Setelah menerima laporan peringatan dini tsunami berakhir, kami sudah mengimbau warga untuk kembali ke rumah masing-masing. Tapi sampai malam ini (tadi malam, Red) sebagian besar masih memilih untuk tetap berada di zona yang dianggap aman,” ungkapnya.

Sejauh ini, sambung Sutomo, tak ada laporan dampak kerusakan dan korban jiwa.

Staf Operasional BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Basri Kamarudin menjelaskan, gempa bumi yang melanda Banggai berada di kedalaman 87 km Barat daya Banggai Kepulauan. Gempa tersebut dirasakan di Kolaka Utara dengan kekuatan sampai III-IV MMI; Sumalata, Kotamobagu, Palopo, Kolaka dan Kep. Konawe III MMI; Gorontalo dan Kendari II-III MMI; Manado, Pinrang, Konawe dan Makassar II MMI; sementara Taliabu III-IV MMI.

Untuk wilayah Maluku Utara sendiri, hanya Taliabu dan Kepulauan Sula yang berdekatan dengan Sulteng tersebut. ”Hanya dua daerah itu saja. Sanana kami belum dapat info apakah gempa tadi juga dirasakan atau tidak,” kata Basri.

Terpisah, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Kustoro mengimbau masyarakat Taliabu agar waspada dan siaga. Masyarakat yang tinggal di pesisir pantai juga diminta menjauhi pantai. ”Kami juga berharap agar masyarakat tidak percaya dengan informasi yang tidak benar, yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya,” pungkasnya.

Waspada Tsunami
Kepanikan juga melanda warga Luwuk, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah pascagempa 6,9 SR tersebut. Khawatir pesisir Luwuk dihantam tsunami, ribuan warga berbondong-bondong mengungsi ke daratan yang lebih tinggi. Terutama warga dari pesisir pantai di desa-desa dan kelurahan sepanjang garis pantai Kota Luwuk.

Amatan Harian Luwuk Post (Indonesia News Network), warga berbondong-bondong mengungsi ke wilayah Keles dan Tontouan. Dengan pakaian dan barang bawaan seadanya, warga mulai dari anak-anak, orang dewasa maupun lansia bergegas mengungsi dengan berjalan kaki, berlari maupun mengendarai kendaraan roda dua dan roda empat.

Kepanikan massal itu terjadi menyusul trauma dengan gempa, tsunami, dan likuifaksi yang melanda Kota Palu beberapa bulan lalu. Apalagi, waktu terjadinya gempa sama, yakni di hari Jumat dan ba’da magrib.  

Beberapa pemuda dari Desa Awu dan Desa Biak, Kecamatan Luwuk Utara menuturkan mengungsi ke wilayah Keles karena khawatir tsunami. “Kencang sekali gempanya. Saya takut tsunami,” kata salah seorang pemuda kepada koran ini.

Demikian halnya warga yang bermukim di sekitar pelabuhan rakyat maupun warga Kelurahan Bungin, Soho dan Lumpoknyo. “Saya takut. Masjid Al Hikmah Soho saya lihat sudah bergoyang, kencang sekali gempanya,” tutur Melly, salah satu warga.

Dengan ketakutan, ia berlari menuju ke Kelas Kelurahan Kaleke, Kecamatan Luwuk. Lokasi itu merupakan daratan yang lebih tinggi dan relatif aman dari jangkauan tsunami.

Amatan Harian Luwuk Post, sekira pukul 21.00, atau dua jam setelah gempa, ribuan warga memadati jalur dua keles. Sementara ruas jalan utama cenderung lebih sunyi. Begitu pun di pelabuhan rakyat yang terletak di teluk Lalong, pusat kota Luwuk, terlihat lebih sepi dari biasanya. Hanya beberapa kapal yang dikabarkan sudah diberangkatkan ke Banggai Laut. Sementara kapal yang melayani rute Luwuk Salakan, masih terlihat berlabuh. “Torang berangkat menunggu perintah dari pemilik kapal,” kata salah seorang ABK yang ditemui di tempat penjualan tiket.

Sementara itu, warga Banggai, Kabupaten Banggai Laut juga panik akibat gempa. Masyarakat berhamburan keluar dari rumah. Pusat gempa yang hanya berjarak 113 kilometer membuat daerah ini merasakan guncangan cukup keras.

Tercatat, sebanyak dua kali gempa keras mengguncang dan membuat panik masyarakat. Setelah guncangan pertama, warga kembali masuk ke rumah. Tiba-tiba gempa kedua melanda, warga pun pontang-panting melarikan diri ke dataran tinggi.

Hal ini menyusul adanya informasi akan terjadi tsunami. “Cepat lari-lari. Tutup (kedai, Red) cepat,” ujar Tendra, pemilik Joki Café, lalu keluar dari kedai itu.

Pantauan Harian Luwuk Post, setelah gempa, warga berbondong-bondong menuju dataran tinggi. Di antaranya di Keraton Kerajaan Banggai, kantor Bupati Banggai Laut, dan kantor TVRI.

Hingga pukul 22.00 Wita, warga masih berada di titik berkumpul. Adapun yang kembali ke rumah hanya untuk mengemasi pakaian dan beberapa aset lainnya yang bisa diamankan di pengungsian.
Di sisi lain, akibat gempa tadi malam, calon penumpang yang hendak berlayar ke Luwuk, Kabupaten Banggai menggunakan armada ASPD di Dusun Tinakin Laut, Kecamatan Banggai, membatalkan keberangkatan. “Saya sudah siap-siap tadi ke kapal, sudah beli tiket tapi tidak jadi berangkat,” jelas Kepala Bagian Umum dan Setda Banggai Laut, Hasbullah Talaba.

Kepanikan massal juga melanda warga Salakan, ibu kota Banggai Kepulauan. Ribuan warga berbondong bondong mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Terutama ke lokasi perkantoran bupati Banggai Kepulauan.(ikh/aya/lwk/kai)

 

Share
Berita Terkait

Tiga Pejabat Dicopot

22/02/2018, 11:59 WIT

Prabowo-Sandi Unggul di Lapas Sanana

18/04/2019, 12:56 WIT

Hendrata: 11 ASN Tetap Dipecat

26/03/2018, 12:33 WIT

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan