Senin, 27 Mei 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Karya Seninya Berbahan Sampah Tembus Bali dan Iran

Karya Seninya Berbahan Sampah Tembus Bali dan Iran

Diposting pada 13/04/2019, 13:37 WIT
SI TANGAN KREATIF: Ismit Syukur Ismail Arif (pakai peci) bersama Didit binaannya yang kini mulai rambah usaha produk kerajinan. Foto lain, karya kerajinan menggunakan limbah dan sampah ISMIT ALKATIRI/MALUT POST
SI TANGAN KREATIF: Ismit Syukur Ismail Arif (pakai peci) bersama Didit binaannya yang kini mulai rambah usaha produk kerajinan. Foto lain, karya kerajinan menggunakan limbah dan sampah ISMIT ALKATIRI/MALUT POST

Lepas Peluang Emas di Tambang, Ismit Syukur Ismail Arif  Pilih ”Menambang” Limbah
 

Tak membayangkan, di tengah sulitnya peluang kerja, ada sosok yang menyandang gelar magister geologi malah melepas peluang emas sebagai tenaga ahli di perusahaan tambang. Ismit Syukur Ismail Arif, sosok dimaksud, justru resign (keluar dari perusahaan) dan pilih “menambang” limbah dan  sampah. Kini, dia malah merasakan lebih berarti dengan karya-karya seninya berbahan limbah dan bisa berinteraksi dengan ratusan binaannya di daerah pelosok.

Ismit Alkatiri, Ternate

DARI penampilan dan gaya bicaranya, orang mungkin tak membayangkan seorang Ismit Syukur Ismail Arif adalah magister lulusan UGM. Pria yang menekuni ilmu spesifikasi rekayasa mineral itu berpenampilan sederhana, gaya tuturnya sederhana, dan low profile. Saking sederhana hidupnya, pria kelahiran Weda Halmahera Tengah itu enggan dirinya dipublikasikan. Padahal, tiga tahun terakhir sejak dia mundur dari PT Fajar Bakti Lintas Nusantara, sejumlah karya unik lahir dari tangannya. “Bukan apa-apa; saya tidak mau promosi karena apa yang saya lakukan sesungguhnya bukan karena kehebatan saya. Semua ini anugerah Sang Khaliq,” ujar Ismit.

Beberapa media online pernah memburunya untuk menulis tentang dia. “Saya mau diwawancarai tapi saya tolak karena takut riya’. Hanya saja Abang (penulis, Red) masuk dengan alasan untuk motivasi dan kampanye sampah, saya akhirnya mengalah,” tutur pria yang ditemui di rumah kreatifnya di Kelurahan Toboleu Ternate.

Perjalanan berkreatifitas Ismit terbilang unik. Pendidikan S1 dan S2 terkait pertambangan. Wajar, dia memilih berkarir sebagai tenaga ahli di perusahaan pertambangan. Namun, Ismit tiba-tiba memutuskan keluar dari perusahaan saat pengapalan perdana hasil mineral di perusahaan tersebut. ”Sejak sekolah di Jogja, hari-hari kami diwarnai kampanye lingkungan. Begitu bekerja di perusahaan tambang, seperti bertolak belakang dengan bathin. Saya akhirnya memilih mundur,” tandasnya.
Telisik punya telisik, sejak menimba ilmu di Kota Gudeg, Ismit aktif mengasah bakat seni baik seni rupa maupun musik yang digunakan sebagai medium kampanye sadar sampah. Bakat itu yang kemudian menjadi pilihan terakhirnya untuk berkarir sambil mengajarkan apa yang dimilikinya ke masyarakat.

Semenjak 2016, dia mulai fokus mengembangkan seni rupa daur ulang (recycle) dari limbah dan sampah. Berbagai produk seni baik lukis maupun seni rupa 4 dimensi diolahnya. Setiap hari dia sering jalan kaki memulung limbah dan sampah. Barang bekas tersebut disulap menjadi karya seni yang indah. Sebut saja vas bunga dari handuk bekas, cangkir mambu, dan aneka lukisan di atas kayu-kayu bekas. Dia juga membuat pajangan dan mebel dari limbah percetakan. ”Paling dominan yang saya gunakan adalah limbah dari Malut Post. Mulai dari bekas gulungan kertas, ember tinta, sisa tinta dan lain-lain sudah diubah menjadi kursi, meja, vas bunga dan lainnya,” katanya.

Ismit juga memanfaatkan sisa bambu dan driftwood (kayu apung). Beberapa karyanya telah dikoleksi di luar negeri, seperti di Iran. Karya seni rupa berbasis sejarah armada Perang Kesultanan Ternate berupa funai, belang, dan juanga serta phinisi Buton yang juga terkait sejarah Moloku Kieraha. Selain bambu dan kayu bekas, seni rupa 4 dimensi ini dibuat dari kulit ubi, batang cengkih, dan daun kelapa.

Selain seni rupa, Ismit juga mengembakan potensi musik perkusi yang alatnya menggunakan bahan-bahan recycle. Di markasnya ada dua potong driftwood yang baru ditemukan di pantai. Kedua kayu itu bakal dijadikan alat musik biola dan harpa.

Dia tidak sendiri. Di bawah payung Rumah Kotak, Ismit mendedikasikan ilmu dan pengalaman kepada warga di beberapa kawasan. Selain di Ternate, dia juga membina masyarakat Kelurahan Mado Kecamatan Hiri, khusus kerajinan dengan nama Mado City Creative. Sementara untuk Kecamatan Hiri secara umum, Ismit membina kerajinan dan musik perkusi bagi remaja.
Dia juga membina masyarakat di Oba dan 5 Desa di Loloda untuk mengembangkan kerajinan dan pertanian organik. “Alhamdulillah, sudah ada di antara mereka yang mulai mengembangkan usaha,” tutur pria yang saat ini sudah 400 orang binaannya.

Karena aktifitasnya itu, Ismit sebulan berada di daerah binaan dan seminggu di rumah bersama keluarga sambil produksi karya seni. ”Dengan sedikit hasil dari karya dibeli pemesan, sebagian untuk kebutuhan keluarga, dan sisanya saya manfaatkan untuk kepentingan pembinaan di luar,” tambahnya.

Akhir 2018 kemarin, Ismit mengaku agak lega. Bank Indonesia Perwakilan Maluku Utara yang concern terhadap ekonomi kreatif dan masalah sampah mulai mendorongnya. Juga ada LSM Wahana Visi yang mau bersinergi mengembangkan potensi kearifan lokal.

Di antara binaannya, ada seorang yang sore itu muncul di Rumah Kotak. Namanya Didit Tauisa. Pria berdarah Tidore yang lahir dan besar di Jakarta itu kini mengembangkan usaha yang berawal dari sentuhan kreatifitas Ismit. Didit adalah lulusan perguruan tinggi kepariwisataan dan bekerja di sebuah hotel di Jakarta. Ketika ke Tidore untuk silaturahim, dia malah merasa betah. Apalagi setelah ketemu Ismit dan ikut mengembangkan kerajinan berbahan limbah. “Saya akhirnya memutuskan menetap di sini serta membuka usaha produksi kerajinan,” tukas Didit sambil merapikan vas bunga yang dibuat dari pakaian bekas.

Ismit sendiri mengakui, di antara perajin binaannya kini sudah mulai merasakan manfaat; meminimalisir limbah sekaligus pendapatan bagi keluarga. Perjalanan hidupnya yang sederhana bagi Ismit adalah suatu keputusan Allah untuk melahirkan kebahagiaan. ”Bahagia bukan diiukur dari seberapa banyak harta dan popularitas namun ketika langkah mau mengikuti kata hati. Apalagi, soal sampah ini memiliki nilai filosofi bagi kami di daerah. Kata orang tua-tua, sampah itu adalah harta karun. Kata bijaknya: guraci no ige ua, karabanga no bonofo yang maknanya  yang asli kau tak terima, tapi yang palsu yang kau terima. Ini filosofi kreatifitas kami dalam menjadikan limbah dan sampah sebagai bahan seni kerajinan,” tutur seraya berharap semoga gerakan seni recycle ini bisa mendorong terus kampanye sadar sampah sekaligus membawa berkah bagi banyak orang.(*)

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan