Kamis, 17 Oktober 2019

 Headline
MALUT POST / AKADEMIKA / Masa Awal Kekhalifahan Islam (Jahiliyah pasca Wafatnya Rasulullah Muhammad SAW dan Langkah Pemurniannya)

Masa Awal Kekhalifahan Islam (Jahiliyah pasca Wafatnya Rasulullah Muhammad SAW dan Langkah Pemurniannya)

Diposting pada 15/04/2019, 09:24 WIT


Kuliah  Sejarah Islam Klasik oleh Misbahuddin, S.Pd.I., M.Hum.

Misbahuddin, S.Pd.I., M.Hum.

Dosen Sejarah Peradaban Islam FUAD,IAIN Ternate

Topik yang dibahas pada edisi kali ini mengenai Masa Awal Kekhalifahan Islam (Jahiliyah pasca Wafatnya Rasulullah Muhammad SAW dan Langkah Pemurniannya) oleh Misbahuddin, S.Pd.I., M.Hum.  Ini merupakan bagian dari mata kuliah Sejarah Islam Klasik untuk Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) Semester III. Berikut sajian materi oleh yang bersangkutan.

Pendahuluan
   Sejak hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dan kaum Muhajirin ke Yatsrib, kota ini dikukuhkan sebagai kota Islam dengan mengubah namanya menjadi Madinah. Pada periode ini, Islam telah menjadi agama yang memiliki pemerintahan dan komunitas masyarakat sendiri. Semua persoalan sosial dan pemerintahan diatur sesuai tatanan masyarakat Islam. Tidak hanya di itu, dalam segi perkembangan akidah dan wilayah pemerintahannya, Islam bahkan telah meluas hingga sebagian besar Jazirah Arab. Wilayah yang semakin meluas dan kehidupan masyarakat yang beragam di dalamnya, menjadi warisan khusus yang diterima oleh pemimpin-pemimpin Islam pasca wafatnya Rasulullah. Ini salah satu tantangan para pelanjut tonggak pemerintahan Islam dalam mempertahankan konsistensi dan eksistensi Agama Allah di tengah masyarakat yang mencoba kembali “jahil” di awal masa kekhalifahan Islam.

 

Pembahasan

Wafatnya Rasulullah Muhammad SAW mengakibatkan beberapa masalah bagi kalangan masyarakat Islam. Beberapa orang Arab yang lemah imannya justru menyatakan murtad, yaitu keluar dari akidah Islam. Mereka melepaskan kesetiaan dengan menolak memberikan baiat kepada khalifah Abu Bakar, bahkan menentang agama Islam. Mereka menganggap perjanjian-perjanjian yang dibuat bersama Rasulullah dengan sendirinya batal setelah sang Nabi wafat. Tidak mengherankan, jika banyak suku Arab yang melepaskan diri dari ikatan agama Islam dan berusaha mengembalikan masa jahiliyah mereka. Mereka adalah orang-orang yang baru memeluk Islam. Belum cukup waktu bagi nabi dan para sahabatnya untuk mengajari mereka prinsip-prinsip keimanan dan ajaran Islam yang kokoh.

Memang suku-suku Arab dari padang pasir yang jauh itu telah datang kepada nabi dan mendapatkan kesan mendalam tentang Islam, tetapi mereka hanyalah setitik air di samudera yang tidak begitu memahami inti ajaran Islam. Di dalam waktu beberapa bulan tidaklah mungkin bagi Nabi dapat mengatur pendidikan atau pelatihan yang efektif untuk masyarakat yang tersebar di wilayah-wilayah yang sangat luas dengan sarana komunikasi yang terbatas.

Mereka melakukan Riddah, yaitu gerakan pengingkaran terhadap Islam. Riddah berarti murtad, beralih agama dari Islam ke kepercayaan semula. Keadaan ini secara politis merupakan pembangkangan (distortion) terhadap lembaga pemerintahan Islam dan khalifah. Sikap mereka itu adalah perbuatan makar yang melawan agama sekaligus pemerintahan. Oleh karena itu, khalifah dengan tegas melancarkan operasi pembersihan terhadap mereka. Mula-mula hal itu dimaksudkan sebagai tekanan untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, lalu berkembang menjadi perang merebut kemenangan atas penolakan dan pembangkangan mereka. Tindakan pembersihan juga dilakukan untuk menumpas nabi-nabi palsu dan orang-orang yang enggan membayar zakat.

Selama tahun-tahun terakhir, kehidupan Nabi, telah muncul nabi-nabi palsu di wilayah Arab bagian selatan dan tengah. Orang pertama yang mengaku dirinya memegang peran kenabian muncul di Yaman, ia bernama Al-Aswad Al-Unsi. Berikutnya ialah Musailamah Al-Kadzab di Yamamah, yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad telah mengangkat dirinya sebagai mitra (partner) di dalam kenabian untuk memperoleh dukungan massif. Penganggap lainnya adalah Tulaihah dan Sajah Ibnu Haris, seorang wanita dari Bani Tamim di Arab Tengah. Adapun orang-orang yang tidak mau membayar zakat, diantaranya karena mereka mengira, zakat serupa pajak yang dipaksakan penyerahannya ke perbendaharaan pusat di Madinah. kondisi tersebut menurut mereka sama artinya dengan ‘penurunan kekuasaan’; suatu sikap yang dianggap tidak sesuai dengan suku-suku Arab karena bertentangan dengan karakter mereka yang independen. Alasan lainnya ialah menempati golongan terbesar karena kesalahan memahami ayat Alquran yang menerangkan mekanisme pemungutan zakat (Surah At-Taubah: 301). Mereka menduga bahwa hanya nabi yang berhak memungut zakat, dengan itu kesalahan seseorang dapat dihapuskan dan dibersihkan.

Penumpasan terhadap orang-orang murtad dan para pembangkang tersebut ternyata banyak menyita konsentrasi khalifah, baik secara moral maupun politik. Terutama setelah mereka (para pembangkang) mendapat dukungan dari suku Gatafan yang kuat. Mereka semakin merasa mampu melawan dan membinasakan Islam. Atas keadaan yang demikian, situasi keamanan Madinah menjadi kacau sehingga banyak sahabat tidak terkecuali Umar yang dikenal keras–menganjurkan untuk menggunakan kebijakan yang lunak dalam menghadapi  keadaan yang sangat kritis. Terhadap ini khalifah menjawab dengan marah. “Kalian begitu keras di masa Jahiliah, tetapi sekarang setelah Islam, kalian menjadi lemah. Wahyu-wahyu Allah telah berhenti dan agama kita telah memperoleh kesempurnaan. Kini haruskah Islam dibiarkan rusak dalam masa hidupku? Demi Allah, seandainya mereka menahan sehelai benang pun (dari zakat) saya akan memerintahkan untuk memerangi mereka. ”Langkah Abu Bakar merupakan bukti ketegasan seorang pemimpin Islam. ia telah menetapkan kembali kokohnya kebenaran atas bentuk-bentuk kebatilan yang mencoba melemahkan Islam pasca wafatnya Rasulullah. Meskipun dalam keadaan yang genting sekalipun, ia tetap memegang teguh prinsip-prinsip kemurnian Islam yang telah dimulai dalam pemerintahan Rasulullah sebelumnya. Tidak ada sedikitpun rasa takut atas pembangkangan dan pengingkaran berbagai golongan, sebab satu-satunya rasa takut baginya adalah ketika Islam melemah di masa pemerintahannya. Ia takut tidak dapat mempertanggungjawabkan amanah yang diemban Allah SWT padanya.

   Ketika memerangi kaum murtad dan meraih kemenangan, dari kaum muslimin banyak hafizh (penghafal Alquran) yang syahid.Mereka merupakan bagian-bagian Alquran, Umar cemas jika angka kematian itu bertambah, yang beberapa bagian lagi dari Alquran musnah. Oleh karena itu, ia menasihati Abu Bakar untuk membuat suatu “kumpulan” Alquran. Mulanya khalifah agak ragu melakukan tugas ini, karena tidak menerima otoritas dari nabi, tapi kemudian ia setuju dan menugaskan Zaid bin Tsabit. Penunjukan Zaid bin Tsabit dalam tugas ini karena kredibilitasnya, pemuda yang cerdas dan tidak terdapat prasangka buruk terhadapnya. Pada masa hidup Rasulullah SAW, Zaid juga menjadi pencatat wahyu. Perang melawan kaum murtad dan pembangkang Islam memang dimenangkan kaum muslimin, tetapi di lain sisi juga menimbulkan kekhawatiran besar atas banyaknya penghafal Alquran yang syahid. Meskipun tidak pernah dilakukan pada masa nabi sebelumnya, langkah yang diputuskan oleh khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Alquran sudah sangat tepat. Menurut Jalaludin As-Suyuti, pengumpulan Alquran ini termasuk salah satu jasa terbesar dari khalifah Abu Bakar.


Kesimpulan

Masa awal kekhalifahan Islam memang ada tantangan khusus untuk dihadapi. Lahirnya pemurtadan, pembangkangan, dan munculnya nabi-nabi palsu, merupakan ujian berat bagi penerus tonggak pemerintahan Islam sepeninggal Rasulullah. Belum mantapnya akidah yang dibangun dalam diri mereka menjadi penyebab umum lahirnya berbagai distorsi atas agama dan pemerintahan Islam. Tekanan untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar tidak diindahkan, sehingga berkembang menjadi perang terbuka sebagai implementasi tindakan pemurnian. Hal tersebut juga dilakukan untuk menumpas nabi-nabi palsu dan orang-orang yang enggan membayar zakat.

Kemenangan dalam melawan para pengacau tersebut telah meneguhkan kembali khalifah Abu Bakar sebagai “Penyelamat Islam”, seorang sosok pemimpin yang berhasil menyelamatkan Islam dari kekacauan dan kehancuran dari dalam. Dibantu sahabat lainnya ia mampu memurnikan Islam, memulihkan situasi sosial, dan menstabilkan kondisi pemerintahan yang berada dalam situasi genting pasca wafatnya Rasulullah Muhammad SAW, Ia membuat agama Islam dan pemerintahan Madinah kembali memperoleh kesetiaan dari seluruh Jazirah Arab.

Demikian ulasan singkat terkait topik  pada edisi kali ini. Semoga bermanfaat dan menjadi pembelajaran bersama. (tr-04/nty)

 

 

 

 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan