Senin, 19 Agustus 2019

 Headline
MALUT POST / FEATURE / Korban Pelecehan Bukan Hanya Perempuan, tapi Juga Laki-Laki

Korban Pelecehan Bukan Hanya Perempuan, tapi Juga Laki-Laki

Diposting pada 15/04/2019, 12:42 WIT
Anindya Restuviani, Penggerak Hollaback! Jakarta  HANUNG HAMBARA
Anindya Restuviani, Penggerak Hollaback! Jakarta HANUNG HAMBARA

Anindya Restuviani, Penggerak Hollaback! Jakarta yang Berikan Rasa Aman di Ruang Publik

Memanggil perempuan dengan sebutan cantik di jalanan bukanlah pujian. Hal terpenting yang diinginkan perempuan saat mengakses ruang publik adalah keamanan dan kenyamanan.

DINDA JUWITA, Jakarta

’’Suit-suit, hai cewek.’’
’’Neng, cantik, sini dong maen sama abang.’’
’’Psstt, cewek, semalam berapa nih?’’

LELAKI itu berusaha memegang paha saya di bus. Saat saya mendokumentasikan dan meneriakinya, dia kabur. Pelecehan yang dialami seorang perempuan di dalam bus jurusan Poris Plawad itu hanya sekelumit cerita pilu perlakuan di ruang publik. Pelecehan dengan berbagai bentuk pun jamak ditemui.

Catcalling atau godaan verbal di jalanan seperti memanggil-manggil dengan nada menggoda pun sejatinya termasuk pelecehan. Meskipun sepertinya sepele, hal itu membuat perempuan merasa direndahkan. Seolah-olah mereka tidak bernilai.

Sedihnya, para perempuan yang mendapat gangguan sering bingung bagaimana harus bereaksi. Apakah menanggapi, menegur, atau marah kepada para pelaku. Atau, mengacuhkan mereka?
Berbagai kisah pilu itu membuat Hollaback! Jakarta tak ingin duduk manis saja. Gerakan yang dimotori aktivis lokal tersebut berupaya mengakhiri kekerasan di ruang publik. ’’Semua kekerasan seksual, sekecil apa pun itu, sudah kebangetan. Jadi, kita nggak bisa nolerir itu,’’ ujar Co-Director Hollaback! Jakarta Anindya Restuviani saat ditemui Jawa Pos di Gandaria City, Jakarta Selatan, Senin (8/4).

Perempuan yang akrab disapa Vivi itu menjelaskan, dari data yang dihimpun pihaknya, ada dua jenis kekerasan yang paling banyak. Verbal dan fisik. Kekerasan verbal termasuk catcalling dan candaan bernada seksual. ’’Misalnya, kayak montok banget sih lu, sejam berapa. Kadang, itu sama teman sendiri. Lalu, kalau marah dibilang lu jangan baper lah,’’ jelasnya.

Sementara itu, untuk kekerasan fisik, pihaknya menerima banyak aduan kekerasan di transportasi umum. Termasuk diraba-raba. Atau, pelaku menempelkan alat kelaminnya.

Tak jarang, Vivi dan para relawan Hollaback! Jakarta juga mendapat laporan perkosaan anak di bawah umur. Bahkan, korban baru berani menceritakan kejadian yang dialami saat berusia 3 tahun setelah beranjak dewasa. Mirisnya, korban diperkosa pengurus musala di lingkungannya.

Kisah-kisah pilu tersebut semakin membuat Vivi miris. Sebab, salah satu kebutuhan utama korban pelecehan dan kekerasan seksual adalah ruang aman untuk menceritakannya.

Vivi juga tak membatasi. Siapa saja bisa terbuka dan menceritakan hal itu kepada Hollaback! Jakarta. Baik perempuan maupun laki-laki. ’’Tapi, kami nggak bisa memungkiri bahwa 80 persen korban kekerasan seksual adalah perempuan. Itu data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) 2017,’’ jelas perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, itu.
Secara global, data itu tak jauh berbeda. Siapa pun tak memungkiri bahwa mayoritas pelaku adalah laki-laki. ’’Sekarang, kalau dipikir-pikir, kayak saya deh, kalau jalan di luar, siapa yang catcalling? Selalu laki-laki,’’ tambahnya.

Namun, Vivi dan relawan lain juga membuka tangan jika ada laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual dan ingin mencari ruang untuk menumpahkan unek-uneknya. Hal itu juga bukan isapan jempol.

Sebab, dia menemukan banyak kaum adam yang menjadi korban dan mau terbuka kepada Hollaback! Jakarta. Menurut Vivi, ada stigma bahwa laki-laki harus kuat. ’’Laki-laki kan harus kuat, bisa melawan juga. Hal itu beban tersendiri yang membuat mereka mengurungkan niat untuk cerita dan terbuka,’’ tutur perempuan 28 tahun itu.

Pelaku pelecehan dan kekerasan seksual terhadap laki-laki bukan hanya lawan jenis. Tidak sedikit korban laki-laki yang dilecehkan pelaku laki-laki. Vivi dan tim juga pernah menemukan data dan laporan bahwa mayoritas pelecehan seksual terhadap laki-laki terjadi ketika mereka mengenakan seragam sekolah. Hal itu membuktikan bahwa di tingkat sekolah pun, kekerasan juga dapat menjadi momok yang mengerikan.

Dengan adanya ruang aman tersebut, Vivi ingin memberikan rasa lega kepada para korban. Sebab, korban yang menceritakan kejadian tak menyenangkan cenderung disalahkan dan dihakimi.
Ruang aman tersebut mampu meringankan trauma korban. ’’Supaya merasa oh aku tuh nggak sendirian. Sebab, terkadang, saat mengalami kekerasan seksual, kita cenderung menyalahkan diri sendiri. Misalnya, apa karena aku pakai baju begini ya? Atau karena aku keluar malam?’’ tuturnya.
Padahal, lanjut Vivi, korban tak seharusnya merasa bersalah. Dia ingin membuang jauh-jauh prasangka itu.

Banyak juga stigma yang menyebutkan bahwa pakaian perempuan adalah pemicu pelecehan dan kekerasan seksual. Hal itu ditepis Vivi. Sebab, banyak korban yang mengenakan pakaian tertutup. Bahkan, banyak juga korban pelecehan yang mengenakan jilbab syari.

Dia ingin menanamkan mindset bahwa apa pun pakaian dan penampilan, hal itu tidak menjadi legitimasi seseorang untuk dilecehkan. ’’Supaya mereka juga bisa melepaskan beban menyalahkan diri sendiri itu,’’ sambungnya.

Salah satu aspek penting yang menurut Vivi harus terus menjadi upaya penetrasi adalah edukasi. Tak hanya edukasi individu, Hollaback! Jakarta juga menjadi mitra beberapa operator penyedia layanan transportasi.

Perempuan lulusan Universitas Diponegoro itu menyebutkan, beberapa mitra yang menggandeng Hollaback! Jakarta adalah Go-Jek dan PT MRT Jakarta. Edukasi yang diberikan bukan sekadar pengetahuan tentang kekerasan seksual, melainkan juga tindakan preventif.

Selain itu, diberikan pengetahuan mengenai tindakan yang bisa dilakukan untuk membantu korban di ruang publik. Jadi, siapa pun seh

harusnya tidak diam saat melihat pelecehan dan kekerasan seksual di depan mata.
Vivi memerinci, ada pendekatan 5D yang ditawarkan Hollaback! Jakarta. Yakni, direct, distract, delegate, delay, dan document. Dengan langkah itu, diharapkan, tindak pelecehan dan kekerasan dapat dilawan.

Menurut dia, direct (langsung) adalah merespons secara langsung untuk menghadapi pelaku pelecehan. Distract (distraksi) adalah metode menginterupsi kejadian yang sedang terjadi. Misal, hal itu dilakukan dengan berpura-pura bertanya jalan dan lainnya serta berpura-pura mengenal korban. Hal itu diharapkan bisa meminimalkan tindak pelecehan dan kekerasan seksual.

Delegate (delegasi), terkait dengan waktu untuk meminta bantuan. Hal itu bisa dilakukan untuk bekerja sama dengan seseorang di sekitar yang juga memperhatikan apa yang tengah terjadi. Delay (ditunda), yakni menunggu sampai situasi usai, lalu mengajak bicara orang yang telah menjadi target atau korban.

Document (dokumentasi), bisa dilakukan dengan merekam terjadinya pelecehan yang sedang berlangsung. Hal itu amat membantu. ’’Namun, ada yang harus diingat saat mendokumentasikan, yakni apakah ada yang membantu orang yang sedang dilecehkan? Jika tidak, lakukan salah satu dari 4D yang lain,’’ jelas perempuan yang juga aktif di berbagai forum pemberdayaan perempuan tersebut.

Dia ingin, ke depan, masyarakat juga bisa berpartisipasi dalam menciptakan ruang aman. Masyarakat juga tidak boleh menghakimi korban. Menurut dia, masyarakat harus berkontribusi untuk melakukan sesuatu dalam melawan kekerasan dan pelecehan seksual. Vivi juga mengimbau agar metode 5D bisa diterapkan di media sosial. Sebab, menurut dia, media sosial merupakan ruang publik yang paling luas. ’’Misal, kalau mau delete comment, jangan di-delete dulu sebelum di-capture,’’ tuturnya.

Ke depan, dia ingin semakin banyak orang yang peduli untuk mencegah dan melawan pelecehan seksual. Terutama di ruang publik. Sebab, kepedulian sesama amat penting untuk mencegah hal itu terjadi.

Dia juga terus menampung berbagai cerita yang masuk dan memberikan edukasi. ’’Kami tidak bisa menjamin semua orang bisa sadar. Tapi, setidaknya sudah ada pendidikan di awal agar bisa saling aware,’’ jelasnya.(jpc/kai)
 

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan