Jumat, 19 Juli 2019

 Headline
MALUT POST / OPINI / MERAJUTASA ERA BARU DATA JAGUNG MALUKU UTARA

MERAJUTASA ERA BARU DATA JAGUNG MALUKU UTARA

Diposting pada 15/04/2019, 09:16 WIT

Ranggi Aditya Nugraha, SST
ASN BPS Kabupaten Kepulauan Sula

Sektor pertanian, khususnya subsektor tanaman pangan, memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang kehidupan sebagian besar penduduk Indonesia tidak terkecuali Provinsi Maluku Utara.

Namun, berbagai isu penting yang perlu menjadi perhatian khusus kita, salah satunya jumlah rumah tangga padi dan palawija terus mengalami penurunan. Pada Sensus Pertanian (ST) 2013, rumah tangga padi di Provinsi Maluku Utara sekitar16,5 ribu, namun pada Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018 turun menjadi 4,7ribu. Selain itu, rumah tangga palawija pada tahun 2018 turun menjadi 36 ribu dari sekitar57,2 ribu pada 2013.Selain itu, isu gejolak harga pangan yang saat ini terjadi semakin menjadi tantangan pemerintah dalam program reformasi agraria untuk menjadikan kembali kedaulatan pangan Indonesia, tidak terkecuali Maluku Utara.

       Salah satu isu penting dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan ini adalah data produksi pangan. Permasalahan data pangan masih menjadi polemik berkelanjutan di negara kita, khususnya dalam menentukan berapa banyak ketersediaan pasokan dan kebutuhan akan pangan itu sendiri.

Penentuan pasokan dan kebutuhan ini yang menjadi landasan apakah harus melakukan impor atau tidak. Setiap kali pemerintah melakukan impor, disanalah akan selalu ada perdebatan. Ketersediaan data statistik pangan yang berkualitas, objektif dan akurat sangat diperlukan untuk dasar rujukan dalam perencanaan, pemantauan, dan evaluasi agar segala kebijakan yang diambil pemerintah tidak salah sasaran sehingga pengambilan keputusan yang dilakukan menjadi lebih efektif dan efisien.

       Salah satu data pangan yang menjadi polemik ialah beras. Namun, permasalahan data beras itu telah terjawab tahun 2018 lalu oleh Badan Pusat Statistik melalui Kerangka Sampel Area yang mendapat banyak pujian mengenai hasilnya termasuk dari wakil Presiden, bapak Jusuf Kalla. Namun tidak hanya beras saja polemik data pangan. Salah satunya data yang menjadi polemik ialah data jagung. Kelangkaan jagung yang sempat terjadi membuat industri peternakan sulit mendapatkan pasokan pakan jagung.

       Pemerintah mengakui bahwa data jagung sampai saat ini masih bermasalah. Pada bulan Januari kemarin misalnya, Kementrian Pertanian (kementan) menyebutkan bulan Januari hingga Maret ada panen jagung namun dilapangan tidak sesuai faktanya. Hal ini yang membuat polemik tentang keputusan untuk impor jagung demi memenuhi kebutuhan pakan para peternak. Selain itu, Menurut Musdhalifah Machmud selaku Deputi bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenenterian Koordinator Perekonomian (Kemenko Perekomonian), masalah yang terjadi pada data jagung terletak pada metode pengukuran konsumsi dalam negeri yang masih berfokus pada perusahaan pakan besar. Namun pengukuran kebutuhan dari industri menengah dan kecil akan jagung itu sendiri masih belum optimal.

       Permasalahan data pangan khususnya tentang impor jagung pun menjadi salah satu isu utama yang diangkat pada debat capres kemarin. Hal ini mengindikasikan bahwa ada masalah dari pada data jagung. Mengenai mengapa data jagung khususnya untuk pakan masih bermasalah ialah berasal dari perhitungan estimasi produksi data jagung yang dianggap sering overestimate atau melebihi dari capaian produksi yang sebenarnya. Ketika produksi jagung surplus, pemerintah mengurangi impor jagung namun kenyataan dilapangan masih banyak peternak yang sulit mendapatkan pakan tersebut dan inilah yang disebut sebagai overestimate.
Asa perbaikan data jagung Maluku Utara.

       Badan Pusat Statistik (BPS) sejak tahun 2016 sudah puasa untuk memproduksi jagung. Terakhir data produksi jagung yang dirilis ialah tahun 2015. Pada tahun 2015, Provinsi Maluku Utara menyumbang produksi jagung sebesar 11,7 ribu ton jagung. Puasa produksi data jagung tersebut dikarenakan perlu metodologi baru yang lebih relevan dalam menghitungnya.

       Sejak tahun 2018 lalu, pemerintah memfokuskan tiga sektor utama yang dikembangkan. Dari tiga sektor itu, salah satunya ialah sektor pertanian. Sektor pertanian ini diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dan investasi Indonesia. Dengan adanya fokus terhadap sektor pertanian, kebutuhan data yang akurat menjadi salah satu prioritas agar dapat menentukan kebijakan yang tepat. Salah satu upaya perbaikan data pertanian, yaitu data tanaman jagung.

       Setelah Badan Pusat Statistik merilis hasil data beras dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area pada tahun 2018, BPS ditantang untuk memperbaiki data produksi jagung. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan yang membuat BPS menjadi sorotan untuk memperbaiki data jagung ini. Usai melakukan penelitian yang cukup panjang, asa menuju era baru data jagung terbuka lebar. Pada tahun 2019 ini, Badan Pusat Statistik kembali bergandengan dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam penyusunan sistem dan kerangka sampel area Jagung yang juga akan mengawali perbaikan data jagung ini dengan metode kerangka sampe area (KSA) pada bulan April ini.

       Seperti apa Kerangka Sampel Area (KSA) Jagung itu? KSA Jagung merupakan metode yang dilakukan dalam rangka memperbaiki data luas panen Jagung. Sebelumnya data luas panen hanya dikumpulkan melalui hasil pandangan mata petugas pengumpul data atau yang disebut eye estimate. Metode tersebut sangat subjektif dan rendah jaminan dari tingkat akurasinya. Namun KSA Jagung ini dilakukan dengan suatu metode yang sifatnya objektif dan menggunakan teknologi modern melalui perangkat smartphone sebagai alat ukurnya. Yang canggihnya dari KSA ini ialah tidak membutuhkan sinyal dalam penggunaannya. Selain itu, dalam pengumpulan datanya dilakukan pengamatan terhadap fase tumbuh tanaman jagung pada segmen-segmen terpilih yang berukuran 100m x100m atau seluas 1 hektar dalam setiap segmennya. Setiap bulan akan dipantau fase pertumbuhan tanaman jagung pada titik yang sama. Pemantauan ini membuat kita dapat mengestimasi seberapa luas lahan panen jagung yang ada pada setiap bulannya diberbagai tempat.

       Melihat pentingnya KSA dan telah menjadi harapan dari berbagai pihak untuk memperbaiki data pangan. Semoga dengan adanya upaya untuk perbaikan data jagung ini, polemik yang terjadi akibat ketidakakuratan data akan teratasi. Selain itu, hasil dari KSA Jagung ini kita nantikan untuk menjadi bahan pijakan pengambilan kebijakan pemerintah. Oleh sebab itu, mari kita dukung bangkitnya asa era baru data jagung ini demi Indonesia yang lebih baik. (*)
       

 

 

 

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan