Senin, 16 September 2019

 Headline
MALUT POST / OPINI / PERSONA “Deskripsi di Tahun Politik”

PERSONA “Deskripsi di Tahun Politik”

Diposting pada 15/04/2019, 09:19 WIT

Bahrun Ibrahim
Camerad Samurai-Malut

Perihal kesejahteraan adalah dambaan tiap-tiap masyarakat, setiap hari orang bermimpi tentang kedamaian dalam pikiran maupun realitas, namum perang terus saja didesain dalam arena sosial masyarakat. Perang demikian bertumpuh pada setiap ingatan indifidu, tentang masa lalu yang begitu rapuh berpengaru dan bahkan menjadi doktrin kekerasan masa kini. Akar kekerasan yang dialami manusia tentunya diakibatkan ada semacam gangguan psikologi hingga menciptakan agresifitas dalam arena sosial masyarakat.

Kondisi demikian memungkinkan kita membaca persona yang ada dalam setiap jiwa manusia. Persona atau sering diterjemahkan sebagai kepribadian, secara etimologi “Pesona (latin), prosopon (Yunani) dimaknai sebagai Topeng, yang dalam mitologi yunani sering dipakai dalam pertunjukan teatrikal. Kita diperhadapkn dengan kondisi demikian, sebuah dinamika sosial yang mengabsatraksikan nilai kekuasaan tak terlepas dari pengguna topeng yang beragam ataupun selalu menampakkan banyak sisi untuk mendapatkan kekuasaan tersebut.

Dalam paradoks demokrasi, Persona kekuasaan selalu tampak, namun sulit untuk dibaca. Aktor politik selalu tampil dengan raut wajah yang bukan menunjukkan tampilan aslinya. Ingatan tentang tahun politik selalu saja ditampakkan dengan drama kekerasan (Konflik). Ingatan itu selalu saja diucapkan setiap saat ketika tiba momen politik, dengan doksa (Ucapan yang keluar dari mulut kekuasaa / janji).

Dalil Karl Gustav Jung benar, bahwa Persona merupakan “wajah sosial yang dihadirkan Indifidu kepada Dunia, semacam topeng, yang dirancang di satu sisi untuk memberikan kesan jelas pada orang lain, dan di sisi yang lain, untuk menyembunyikan sifat sebenarnya dari individu tersebut”.

Pada tahun politik begitu terlihat persona kekuasaan tampak ke permukaan social, apalagi kehidupan dalam babat informasi, ciri utama masyarakat sangatlah konsumtif ataupun menerima segala sesuatu yang serba instan. Titik pijak dari kondisi tersebut melahirkan corak kehidupan politik yang sangat beragam. Hal tersebut bisa dilihat pada peranan media, sebagai alat ukur pencapain elektabilitas actor politik dalam memainkan peranan. Pemasaran politik lewat media telah berhasil meciptakan panggung bagi daramatugi politik.

Dulu, dalam perspektif lama teori komunikasi model Erfing Goffman, media hanya bisa dipahami sebagai instrument untuk melanggengkan kekuasaan, yang dibedakan dalam dua sudut politik, yakni panggung depan dan panggung balakang. Panggung depan untuk actor berekspresi, namun ekspresi dari panggung depan diarahkan semuanya lewat panggung belakang.

jika dulu media hanya menjadi instrument untuk melanggengkan kekuasaan, berbeda dengan kodisi sekarang, ketika media sudah mengalam kemajuan yang pesat diikuti dengan arus perkembangan teknologi begitu tinggi justru medialah yang menagkap bahkan membingkai actor dan menjadikan dirinya menjadi ruang publik baru.

Di era kini, dimana ruang politik justru di bawah kendali media, yang menangkap dan membuat persona untuk aktot politik. Dalam politik informasional telah memperlihatkan juga persona lainnya, sebagai “politik Panggung” atau yang disebutkan Manuel Castells sebagai “Show Politics” atau politik pertunjukkan.  

Politik pertunjukan yang dimaksud Castells begitu jelas, perdebatan di televise-televisi, di media cetak maupun media lainnya menjadi ciri khas media untuk mengarahkan aktor berdasarkan persona yang diinginkan publik. Tak bisa dipungkiri jika banyanyak Ucapan yang terdegar bahwa para aktor politik tak ubahnya seperti para infotainntment, yang mengejar popularitas bukan menunjukkan kualitasnya. Persona yang diberikan media kepada para aktor dianggap bisa dan bahkan berhsil mempengaruhi pikiran masyarakat.

Media mengambil peranan dalam rungan politik tersebut diakibatkan kerana merosotnya nilai kepercayaan rakyat terhadapap otoritas kekuasaan  (Pemerinahan), dari kondisi itu pula lahirlah konsepsi Post Truth yakni sebuah konsepi diman segala bentuk akses informasi didapatkan lebih cepat. Namun dalam kensepsi, akses informasi yang diterima memiliki kadar kebenaran lebih kecil. Atau yang biasa diucapkaan bahawa informasi tersebut Hoax.

Deskripsi politik saat ini jika di abstraksikan, merupakan sebuah bentuk persona yang dipakai sebagai bentuk doktrinitas. Internalisasi ideologis kepada masyarakat juga merupakan bagian dari persona yang ditunjukkan lewat ekspresi sang actor atau Role (Peran) ketika berada di panggung politik yang diatur lewat panggung belakang aga agar memberikan sensasi tersendiri dalam ruang publik. Itulah mengapa kita selalu terjebakan dalam pkiran tetang pilihan yang tepat, karena persona yang sering dipakai sang aktor selalu menjanjikan.

Bila demikian jadinya, maka cara terbaik untuk membaca setiap persona yang dipakai dalam tahun politik, hanyalah meningkatkan moralitas public serta meningkatkan kapasitas intelektual masyarakat dalam membaca setiap peronalitas. Dimana anggapan bahwa di tahun politik bulan doktrin tentang konflik melainkan sebuah pertunjukan teatrikal yang disimak oleh rakyatyang setiap prtunjukan bukan hanya terlihat pada nilai estetika melainkan esensi dari pada pementasan  tersebut. Jika tidak demikian, maka anggap saja bahwa para aktor hanyalah Badut, maka penghargaan terbaik badut hanyalah tertawa. Country Is Our (Negara Adalah Kita). (*)

 

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan