Minggu, 20 Oktober 2019

 Headline
MALUT POST / INTERNASIONAL / ”Chaos” di Australia, Menggigil di Belanda

”Chaos” di Australia, Menggigil di Belanda

Diposting pada 15/04/2019, 09:06 WIT
MEMBEKU: WNI di Belanda Antre Nyoblos 3 Jam di Suhu 5 Derajat Celcius Suasana Pemilu di Belanda
MEMBEKU: WNI di Belanda Antre Nyoblos 3 Jam di Suhu 5 Derajat Celcius Suasana Pemilu di Belanda


SYDNEY - Ratusan WNI di Sydney, Australia masih dirundung perasaan kecewa. Pasalnya ratusan WNI dipaksa berstatus golput lantaran tidak diberikan kesempatan untuk mencoblos. Di Australia, WNI secara serempak melakukan pemilu pada Sabtu, 13 April 2019. Kekecewaan massa yang tidak dapat mencoblos ditumpahkan di sosial media. WNI juga banyak yang mengeluh perihal pelaksanaan pemilu di Sydney di grup Facebook The Rock yang beranggotakan WNI yang tinggal di Australia.

Bahkan, saat ini lebih dari 3.000 WNI sudah menandatangani petisi untuk mendesak pemilu ulang di Sydney. "Kami sudah melaporkan soal ratusan WNI yang tidak bisa mencoblos ke KPU. Apakah akan dilkukan pemilu tambahan atau tidak kami tunggu keputusan KPU pusat," ujar Heranudin, Ketua Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Sydney.

Heranudin mengaku, pihaknya tidak mengantisipasi massa akan membludak. Dia memperkirakan, lebih dari 400 WNI tidak dapat melakukan pencoblosan karena waktu yang tidak memungkinkan.

Ratusan orang yang "dipaksa" berstatus golput ini berstatus daftar pemilih khusus (DPK). Sejatinya, dalam aturan main pemilu disebutkan bahwa pemilih yang berstatus DPK berhak mencoblos pada satu jam terakhir atau sebelum pukul 18.00 waktu Sydney. Namun, faktanya PPLN Sydney tidak sanggup menampung lonjakan massa sehingga antrean membeludak.

Salah satu TPS yang mengalami lonjakan massa adalah TPS Town Hall. "Panitia kewalahan karena satu TPS hanya ada tujuh orang petugas. Antrean di luar ekspektasi kami," ujar Heranudin kepada Kompas.com, Minggu (14/4).

Heranudin menambahkan, pihaknya tidak bisa melanjutkan proses pemilu setelah pukul 18.00 Waktu Sydney karena menyewa ruangan di Town Hall hingga pukul 20.00. Dia juga mengklaim bahwa meski kemarin ratusan WNI tertahan di luar gedung Town Hall, keputusan untuk menutup proses pemungutan suara dilakukan lewat musyawarah mufakat antara PPLN, Panwaslu, perwakilan Mabes Polri, saksi dari masing-masing paslon dan saksi parpol.

Melisa, WNI yang melakukan pencoblosan suara di Town Hall mengatakan, PPLN tidak profesional dalam melakukan tugas. Dia bercerita, dia tiba di Town Hall pada pukul 16.00 dan kemudian tidak ada kejelasan untuk bisa mencoblos. "Status saya sebenarnya sudah DPT tambahan berdasarkan informasi dari KPU tapi di sistem masih berstatus DPK jadi saya mengantri berjam-jam hingga jam 18.00 tanpa ada kepastian. Panitia di lapangan kurang komunikatif," ujar Melisa.

Sebagai gambaran, PPLN di Sydney menyelenggarakan pemilu di lima lokasi yang terdiri dari 18 TPS. Satu TPS diklaim mampu menampung 1.300 pemilih.

Beku
Sementara itu, cuaca dingin dengan suhu 5 derajat celcius tak menyurutkan niat Jeanne Tamara, WNI yang tinggal di Belanda untuk menggunakan haknya memilih dalam Pemilu 2019. Ia bahkan rela menempuh jarak 200 kilometer untuk mencapai tempat pencoblosan di Sekolah Indonesia Den Haag (SIN), Wassenaar pada Minggu (14/4).

Di Belanda, pemungutan suara dapat dilakukan dengan dua metode, yakni melalui pemungutan di TPS dan melalui pos. Namun, Jeanne yang tinggal di Belanda sejak 2010 memilih untuk melalukan pencoblosan langsung di TPS.

Jeanne mengaku memilih datang langsung ke tempat pencoblosan untuk mendapat suasana pemilu layaknya di Indonesia. Ia juga mengaku takut surat suaranya tak sampai jika melalui pos. "Saya kemarin datang sama anak saya karena suami saya harus bekerja. Kebetulan mertua saya sedang tidak bisa mengawasi anak saya, jadi saya bawa ke pencoblosan," ujar Jeanne yang bekerja paruh waktu di kantin sebuah perusahaan kaca saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Saat ini ia tinggal di Venlo, provinsi Limburg. Perlu waktu sekitar 2-3 jam bagi perempuan berusia 43 tahun asal Bekasi Barat itu untuk bisa mencapai lokasi pencoblosan. Jeanne berangkat menggunakan mobil pukul 07.45 pagi waktu setempat dan tiba di lokasi sekitar pukul 10.00. "Kami jalan dari lokasi parkir, tidak terlalu jauh. Pukul setengah 11 pagi sampai TPS, itu antrean sudah 100 meter dari gerbang masuk SIN dan masih banyak orang datang. Sampai ke tempat TPS, itu saya dan teman-teman lain menunggu hampir 3 jam di TPS," ungkapnya.

Agar bisa mencoblos, Jeanne tidak lupa membawa formulir C6 dan paspor. Ia memperkirakan ada ribuan orang yang mengantre untuk mencoblos. Sebagian dari ribuan orang tersebut ada yang berhasil mencoblos, sementara sebagian yang lain ada yang menyerah karena terlalu lama menunggu. Jeanne termasuk ke dalam golongan yang berhasil mencoblos karena niat yang besar dan semangat dari awal.

Ia mengaku tak duduk selama tiga jam. Panitia juga tak menyediakan konsumsi sehingga WNI yang antre berbaur, sambil saling menukar makanan. "Sayangnya persiapan panitia kurang maksimal dan sistematis. Lokasi (pemilihan) sebetulnya besar, tapi pembagian dan pengaturan TPS kurang maksimal. Kami antre panjang berliku-liku, lalu kami baru dibagi ke TPS (nomor) 1, 2, 3, 4, dan 5," ungkapnya.

Ia mengaku mendapat tempat di TPS nomor 2 untuk mencoblos. Mesti membutuhkan waktu 3 jam, antrean tersebut masih lebih baik dibandingkan di TPS nomor 5 dan 6 yang membutuhkan waktu hingga 4 jam. "TPS (nomor) 1, 2, dan 3 masih cukup cepat, tetapi TPS 4 dan 5 sampai 4 jam saking banyak orang," jelasnya.

Setelah mencoblos, Jeanne memutuskan pulang ke rumah pada pukul 17.00 waktu setempat. Meski begitu, ia menyampaikan masih banyak orang yang datang hingga akhirnya pemilihan diperpanjang sampai pukul 21.00. "Terus terang teman-teman pemilih di sini sebetulnya agak kecewa dengan cara kerja panitia, sepertinya persiapan mereka tidak maksimal. Mereka sudah tahu data, harusnya tahu juga apa yang perlu dilakukan," ungkap Jeanne.

Sekretariat PPLN Den Haag menyampaikan 11.744 WNI di Belanda telah menggunakan hak pilihnya dalam kegiatan Pemilihan Umum. Khusus di Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) Den Haag yang berlokasi di Sekolah Indonesia Den Haag (SIDH) terdapat 9.700 pemilih. Sementara pemilihan melalui pos sebanyak 2.044 pemilih.(kmp/cnn/kai)

Share
Berita Terkait

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan