Rabu, 13 November 2019

 Headline
MALUT POST / AKADEMIKA / Konsep Dasar Perkembangan dan Pertumbuhan

Konsep Dasar Perkembangan dan Pertumbuhan

Diposting pada 16/04/2019, 11:59 WIT


Wawan Suprianto Nadra, S.Pd., M.Pd
Dosen PGSD, Unkhair

Topik yang dibahas pada edisi kali ini mengenai Konsep Dasar Perkembangan dan Pertumbuhan oleh Wawan Suprianto Nadra, S.Pd., M.Pd.  Ini merupakan bagian dari mata  kuliah  Pemahaman Perkembangan Peserta Didik untuk Mahasiswa, PGSD Unkhair, semester II. Berikut sajian materi oleh yang bersangkutan.

Pertumbuhan dan perkembangan, dua istilah yang berbeda dalam kajian ilmu psikologi. Namun, sebagian ahli Psikologi memaknainya terkait. Sebab, menyinggung  soal perkembangan maka di dalamnya  mencakup makna pertumbuhan. Jika ditinjau kembali, kedua istilah ini memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan keduanya berkaitan dengan perubahan pada individu, sedangkan perbedaannya pada jenis perubahan yang terjadi.

Pendapat tentang perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan seseorang ke arah yang lebih maju, dewasa, atau lebih matang. Menurut Syaodih (2009), perkembangan adalah penyempurnaan dan peningkatan fungsi secara kualitas. Perubahan ke arah yang lebih maju tidak serta merta mengalami perubahan langsung melainkan melalui proses dan pengalaman yang dialami individu.


Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan merupakan perubahan yang terjadi secara kuantitatif yang meliputi peningkatan ukuran dan struktur. Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam kategori besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur dengan berat, ukuran panjang, umur tulang, dan keseimbangan metaboliknya. Pertumbuhan merupakan suatu  proses bertambahnya jumlah sel tubuh suatu organisme yang disertai dengan pertambahan ukuran, berat, serta tinggi yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali pada keadaan semula). Jadi, dapat dikatakan bahwa pertumbuhan lebih bersifat kuantitatif, dimana suatu organisme yang kecil menjadi lebih besar seiring pertambahan waktu.

Perkembangan adalah bertambah kemampuan atau skill dalam struktur dan  fungsi tubuh  yang lebih kompleks dalam pola teratur sebagai hasil proses pematangan. Perkembangan menyangkut proses pematangan sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ, dan sistem organ yang berkembang dengan menurut caranya, sehingga dapat memenuhi  fungsinya.

Para ahli juga berpendapat bahwa perkembangan merupakan suatu kematangan individu (manusia) yang dilalui dengan proses kematangan adaptasi. Hurlock (1980), menyatakan perkembangan sebagai rangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat proses kematangan dan pengalaman. Hasan  (2006), menyatakan perkembangan berarti segala perubahan kualitatif dan kuantitatif yang menyertai pertumbuhan dan proses  kematangan manusia.


Prinsip-Prinsip Perkembangan

Manusia tidak pernah dalam keadaan statis. Dimulai sejak terjadi proses pembuahan hingga kematian, manusia selalu berubah dan mengalami perubahan. Selama proses perkembangan seorang  anak ada beberapa ciri perubahan yang mencolok, yaitu:

1. Perubahan Fisik
Perubahan fisik berkaitan dengan perubahan tinggi badan, berat badan, dan organ dalam tubuh lain, misalnya otak dan jantung. Sedangkan perubahan proporsi, misalnya perubahan perbandingan antara kepala dan tubuh pada seorang anak.

2. Perubahan Mental
Perubahan mental yaitu perubahan yang meliputi memori, penalaran, persepsi, emosi, sosial, imajinasi, dan hilangnya ciri-ciri sikap sosial yang lama dan berganti dengan ciri-ciri sikap sosial yang baru. Misalnya hilangnya egosentris yang berganti dengan  sikap pro-sosial.
Prinsip-prinsip perkembangan juga dijelaskan oleh Hurlock (1980) yang menurutnya terdapat sembilan prinsip yaitu;

1. Dasar-dasar permulaan adalah sikap kritis.
Pertama dalam perkembangan adalah sikap kritis. Banyak ahli psikologi menyatakan bahwa tahun-tahun prasekolah merupakan tahapan penting. Pada usia ini diletakkan struktur perilaku yang kompleks yang  berpengaruh bagi  perkembangan sikap  anak  pada  masa selanjutnya. Misalnya penggunaan tangan kanan atau kiri, dengan latihan yang diberikan orangtua atau guru anak dapat menggunakan tangan kanan lebih baik daripada tangan kirinya. Kedua, perubahan cenderung  terjadi apabila  orang-orang  di sekitar anak memberlakukan anak dengan baik dan mendorong anak lebih bebas mengekspresikan dirinya. Sikap ini akan mendorong anak tumbuh dan berkembang. Ketiga ada  motivasi yang  kuat  dari diri individu  yang  ingin mengalami perubahan. Misalnya anak yang malas berbicara tidak akan menjadi anak yang terbuka di masa yang akan datang.

2. Peran  kematangan dan belajar
Perkembangan dapat dipengaruhi oleh kematangan dan belajar. Kematangan adalah  terbukanya karateristik yang secara potensial sudah ada pada  individu yang berasal dari warisan genetik individu, misalnya dalam fungsi yang telah diwariskan yang disebut phylogenetik  (merangkak,  duduk,  dan berjalan). Belajar adalah  perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha.  Melalui belajar ini anak-anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber  yang diwariskan (phylogenetik).

3. Mengikuti Pola  Tertentu  yang  Dapat Diramalkan
Perkembangan mengikuti pola tertentu yang dapat diramalkan. Misalnya perkembangan motorik akan mengikuti hukum arah perkembangan (cephalocaudal) yaitu perkembangan yang menyebar ke seluruh tubuh dari kepala ke kaki, ini berarti kemajuan dalam struktur dan fungsi pertama-tama terjadi di bagian kepala kemudian badan dan terakhir kaki. Hukum yang kedua perkembangan menyebar keluar dari titik poros sentral tubuh ke anggota-anggota tubuh (proximodistal). Contohnya kemampuan jari-jemari seorang  anak  akan  didahului oleh keterampilan  lengan terlebih dahulu.

4. Semua individu berbeda
Tiap individu berbeda perkembangannya meskipun pada anak kembar. Anak-anak penakut tidak sama reaksinya dengan anak-anak agresif terhadap satu tahap perkembangan. Oleh sebab itu perkembangan  pada  tiap manusia berbeda-beda sehingga terbentuk individualitas. Walaupun  pola perkembangan sama  bagi semua  anak,  setiap anak akan mengikuti pola yang dapat diramalkan dengan cara dan kecepatannya sendiri yang dalam istilah para ibu yang disebut daya tangkap. Beberapa anak berkembang  dengan  lancar, bertahap langkah demi langkah, sedangkan  lain bergerak dengan kecepatan yang melonjak, dan pada anak lain terjadi penyimpangan. Perbedaan ini disebabkan karena setiap orang memiliki unsur biologis dan genetik yang berbeda. Kemudian faktor lingkungan juga turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan seorang anak. Perbedaan perkembangan pada tiap individu mengindikasikan pada  guru, orang tua, atau pengasuh untuk menyadari  perbedaan tiap anak yang diasuhnya  sehingga  kemampuan yang diharapkan dari tiap anak seharusnya juga berbeda.

5. Setiap Perkembangan Mempunyai Perilaku Karateristik
Karateristik tertentu dalam perkembangan juga dapat diramalkan, ini berlaku baik untuk perkembangan fisik maupun mental.  Semua anak mengikuti pola perkembangan yang sama dari satu tahap menuju tahap  berikutnya. Bayi berdiri sebelum dapat  berjalan. Menggambar lingkaran sebelum dapat menggambar segi empat. Pola perkembangan ini tidak akan berubah sekalipun terdapat variasi individu dalam kecepatan per-kembangan.

6. Setiap Tahap  Perkembangan Mempunyai Risiko
Setiap tahap  perkembangan mempunyai risiko. Beberapa hal yang dapat  menyebabkannya antara  lain dari lingkungan anak itu sendiri. Bahaya ini dapat mengakibatkan terganggunya penyesuaian fisik, psikologis, dan sosial. Sehingga pola perkembangan anak tidak menaik tapi datar artinya tidak ada peningkatan perkembangan. Pada saat itu dapat dikatakan bahwa anak sedang mengalami gangguan penyesuaian yang buruk atau ketidakmatangan.

7. Perkembangan dibantu rangsangan
Perkembangan akan berjalan sebagaimana mestinya jika ada bantuan berbentuk stimulus dari lingkungan sekitarnya. Misalnya, semakin rajin orang tua berbicara dengan anaknya semakin cepat anak-anak belajar berbicara.

8. Perkembangan Dipengaruhi Perubahan Budaya
Kebudayaan mempengaruhi perkembangan sikap dan fisik anak. Anak yang hidup dalam budaya yang membedakan sikap dan per- mainan yang pantas terhadap untuk anak laki-laki dan perempuan akan berpengaruh terhadap perkembangan. Anak perempuan akan memilih mainan yang lebih sedikit membutuhkan kemampuan fisik, sehingga pertumbuhan fisiknya tidak sekuat fisik anak laki-laki. Anak laki-laki dituntut untuk tidak cengeng seperti anak perempuan, sehingga anak laki-laki menjadi lebih tegar dan pemberani dibandingkan anak perempuan.

9. Harapan  sosial pada  setiap tahap  perkembangan
Orang tua dan masyarakat memiliki harapan tertentu pada tiap tahap  perkembangan anak.  Jika tahap  itu tercapai  maka orang tua atau masyarakat akan berbahagia. Misalnya anak usia 1 (satu) tahun sudah  pandai  berjalan,  jika sampai  usia tersebut anak belum bisa berjalan, maka akan membuat  gelisah orang-orang di sekitarnya.


Tahap-tahap Perkembangan

Tahap perkembangan individu berbeda-beda menurut dasar atau pandangan yang digunakan dalam melihat perkembangan individu. Tahap Perkembangan individu ditinjau dari aspek perkembagan biologis, aspek perkembangan kognitif, aspek perkembangan afektif, dan aspek perkembangan didaktif menurut para ahli. Tahap-tahap tersebut sebagai berikut:

1. Aspek Perkembangan Biologis

Dalam aspek perkembangan biologis, terdapat beberapa tokoh yang membahas tentang aspek tersebut diantaranya:
a. Tahap perkembangan menurut Aristoeles
- Fase I,  0-7 tahun. Masa anak kecil atau dikenal dengan masa bermain atau masa kanak-kanak
- Fase II, 7-14 tahun. Masa anak atau masa belajar (masa sekolah dasar)
- Fase III, 14-21 tahun. Masa remaja atau pubertas, atau masa peralihan antara masa anak-anak menjadi orang dewasa


b. Tahap perkembangan menurut J. J. Rousseau
- Fase I, 0-2 tahun. Masa bayi, anak hidup dengan bebas
- Fase II, 2-12 tahun. Masa kanak-kanak, kehidupan anak tak terkendali
- Fase III, 12-15 tahun. Masa remaja, anak hidup sebagai petualang, perkembangan intelek dan pertimbangan
- Fase IV, 15-25 tahun. Masa remaja sesungguhnya, individu hidup sebagai manusia beradab; pertumbuhan kelamin, sosial, dan kata hati.

c. Tahap perkembangan menurut Stanley Hall
- Fase I, 0-4 tahun. Masa kanak-kanak yang mulai banyak belajar bergerak bebas
- Fase II, 4-8 tahun. Masa anak, sebagai manusia pemburu
- Fase III, 8-12 tahun. Masa puber atau remaja awal sebagai biadab atau liar
- Fase IV, 12/13 – Dewasa. Masa adolesen atau remaja sesungguhnya dimulai dengan masa gejolak perasaan, konflik nilai, dan berakhir sebagai manusia peradaban modern.


d. Tahap perkembangan menurut Sigmund Freud
- Fase I, 0-2 tahun. Masa bayi yang disebutnya sebagai tahap oral (oral stage). Pada masa ini, bayi akan merasa senang kalau ada rangsangan benda, makanan, dan benda lainnya pada mulut.

- Fase II, 2-4 tahun. Masa anal (anal stage), bayi akan merasa senang jika buang air besar karena rangsangan pada dubur (anal).

- Fase III, 4-6 tahun. Masa falik (phalic stage), anak akan merasa senang bila ada rangsangan atau sentuhan pada daerah sensitifnya.

- Fase IV, 6-12 tahun. Masa latensi (latency stage)  dorongan seksualnya tidak nampak sebab tersembunyi dalam berbagai aktivitas dan hubungan sosial.

- Fase V, 12 tahun-Dewasa. Masa genital (genital stage) merupakan kematangan kehidupan seksual. Individu pada masa ini siap untuk melahirkan dan melaksanakan fungsi-fungsi sebagai ayah dan ibu (menjadi orang tua).

e. Tahap perkembangan menurut Erikson
- Fase I, 0-1 tahun. Masa bayi yang ditandai dengan rasa kepercayaan dan ketidakpercayaan terutama pada orangtuanya (trust-mistrust)
- Fase II, 1-3 tahun. Masa kanak-kanak ditandai oleh adanya otonomi di satu pihak dan rasa malu di lain pihak (autonomy-shame)
- Fase III, 3-6 tahun. Masa prasekolah yang ditandai dengan rasa inisiatif dan rasa bersalah (initiative-guilt)
- Fase IV, 6-12 tahun. Masa sekolah ytang ditandai dengan kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan rasa rendah diri (industry-inferiority)
- Fase V, 12-18 tahun. Masa remaja yang ditandai dengan integritas diri dan kebingungan (identity-identity confusion)


2. Aspek Perkembangan Kognitif
Teori perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Piaget adalah sebuah teori yang sangat populer. Piaget membagi tahap perkembangan menjadi empat tahap. Uraian tahap perkembangan kognitif sebagai berikut:

a. Sensorimotor
Pada tahap ini yaitu di usia 0-2 tahun. Tahap ini ditandai dengan seorang individu yang berinteraksi dengan lingkungannya melalui alat indera dan melalui gerakan. Pada tahap ini, secara berangsur-angsur anak mulai mampu mempresentasikan realita melalui simbol-simbol yang diperlihatkannya dan menemukan cara untuk memenuhi keinginannya.

b. Praoperasional
Tahap ini dimulai dari usia 2-7 tahun. Pada tahap ini disebut dengan tahap intuitif dimana terjadinya perkembangan fungsi simbol, bahasa, pemecahan masalah yang bersifat fisik serta kemampuan mengategorisasikan.

c. Operasional Konkret
Tahap ini dimulai dari usia 7-11 tahun. Pada usia ini proses berpikir anak masih dalam bentuk konkret, belum bisa berpikir abstrak. Dengan demikian, pada masa ini anak dalam menyelesaikan masalah cenderung menggunakan logika-logika yang bersifat konkret atau bersifat fisik.

d. Operasional Formal
Tahap ini dimulai pada usia 11 tahun ke atas. Proses berpikir pada masa usia ini perlahan sudah mulai abstrak, penalaran yang kompleks sudah mulai digunakan, dan sudah dapat menguji satu hipotesis dalam mentalnya.

3. Aspek Perkembangan Afektif
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, afektif berkaitan dengan rasa takut, cinta, mempengaruhi keadaan perasaan dan emosi, mempunyai gaya atau makna menunjukkan perasaan (tentang tata gaya bahasa atau makna).

Individu dalam merespons sesuatu lebih banyak diarahkan oleh penalaran dan pertimbangan yang objektif. Akan tetapi pada saat-saat tertentu di dalam kehidupan individu, dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi pemikiran dalam tingkah lakunya. Perasaan-perasaan yang menyertai perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif terkadang kuat, terkadang lemah, terkadang tidak jelas atau samar-samar.

4. Aspek Perkembangan didaktif
Fase perkembangan didaktif merupakan pembagian fase-fase perkembangan dari materi dan cara bagaimana mendidik anak pada masa-masa tertentu. Johann Amos Comenius, ia membagi fase perkembangan berdasarkan tingkat sekolah yang diduduki anak sesuai usia dan bahasa yang dipelajarinya, di antaranya:

a. 0-6 tahun: Sekolah ibu., merupakan masa mengembangkan alat-alat indra dan memperoleh pengetahuan dasar asuhan ibunya di lingkungan rumah tangga.

b. 6-12 tahun: Sekolah bahasa ibu, merupakan masa anak mengembangkan daya ingatannya di bawah pendidikan sekolah dasar

c. 12-18 tahun: Sekolah bahasa latin, merupakan masa mengembangkan daya pikirnya di bawah pendidikan sekolah menengah dan remaja mulai mempelajari bahasa kebudayaan.

d. 18-24 tahun: Sekolah Tinggi (akademi) dan pengembaraan, merupakan masa mengembangkan kemauannya dan memilih suatu lapangan hidup yang berlangsung di bawah perguruan tinggi.
Sedangkan menurut Roseau fase perkembangan seseorang melalui 4 tahap :

a. Tahap I usia 0,0 – 2,0 tahun disebut usia asuhan. Pada masa ini masih seorang anak membutuhkan bantuan dan bimbingan.

b. Tahap II usia 2,0 – 12,0 tahun, disebut masa pendidikan jasmani dan alat-alat indera.
c. Tahap III usia 12,0 – 15,0, pada masa ini seorang anak / remaja mempelajari pengetahuan yang diperoleh dan diolah dalam pikirannya.

d. Tahap IV usia 15,0 – 20,0, ini adalah masa yang sangat penting bagi remaja akan pendidikan dan pembentukan wataknya, sehingga tingkah lakunya terbentuk.

Demikian ulasan singkat terkait topik pada edisi kali ini. Semoga bermanfaat dan menjadi pembelajaran bersama. (tr-04/nty)

 

Share

E-Paper

Dahlan Iskan