Kamis, 17 Oktober 2019

 Headline
MALUT POST / AKADEMIKA / Perilaku Agresivitas

Perilaku Agresivitas

Diposting pada 17/04/2019, 13:42 WIT


Syaiful Bahry, S.Psi., M.A
Dosen Psikologi, Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UMMU

 

Topik yang dibahas pada edisi kali ini mengenai Perilaku Agresivitas  oleh Syaiful Bahry, S.Psi., M.A. Ini merupakan bagian dari  mata kuliah Psikologi Sosial, untuk Mahasiswa Semester II, Ilmu Komunikasi UMMU. Berikut sajian materi oleh yang bersangkutan.


Tindak kekerasan sering terjadi di Indonesia, baik kekerasan antarindividu,  kelompok maupun antar komunitas.

Konflik di Ambon, Poso, Sambas, Ternate, dan beberapa daerah lain di Indonesia, merupakan pengalaman pahit bangsa ini karena telah gagal mengelola perbedaan itu. Masalah yang terus berulang hampir setiap lima tahun adalah peningkatan agresivitas massa, terutama saat jelang Pemilu. Kerusuhan massa di berbagai wilayah pun terjadi silih berganti. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar tentang penyebab massa sedemikian mudah bertindak beringas. Oleh karena itu, penelitian mendalam dan komprehensif menyangkut agresivitas massa menjadi sangat mendesak untuk dilakukan.

Selain memahami dan mencari solusi yang tepat bagi permasalahan tersebut, hal itu dilakukan juga untuk menghindari saling tuding dan saling menyalahkan seperti yang terjadi belakangan ini.Bhinneka Tunggal Ika tampaknya masih dianggap sebagai slogan, tetapi belum menjadi kearifan sosial yang dapat memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa. Padahal perbedaan bila dapat dikelola dengan baik, semestinya melahirkan energibaru yang luar biasa (Komaruddin Hidayat, 2016)
Pengertian Agresi

    Agresi (aggression) merupakan suatu perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang atau lebih, padahal orang tersebut tak ingin disakiti, baik secara fisik maupun psikologis. Dengan kata lain, agresi merupakan tingkah laku individu yang dimaksudkan untuk melukai atau mencelakakan individu yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Brigham, 1991). Perilaku agresi juga dapat dipandang sebagai respons untuk mencari pengurangan ketegangan dan frustrasi melalui perilaku yang banyak menuntut, memaksa, dan menguasai orang lain. Hal ini berarti perilaku melukai orang lain karena kecelakaan atau ketidaksengajaan tidak dapat dikategorikan sebagai agresivitas, tetapi apabila bertujuan melukai orang lain dan berusaha untuk melakukan hal tersebut dengan sengaja, walaupun usahanya tidak berhasil, tetap disebut sebagai agresivitas.

    Menurut Myers (2002), agresi merupakan perilaku fisik maupun verbal yang disengaja maupun tidak disengaja, tetapi memiliki maksud untuk menyakiti, menghancurkan atau merugikan orang lain. Atau untuk melukai objek yang menjadi sasaran agresi. Agresi menurut Taylor, Peplau, dan Sears (2009) adalah setiap tindakan yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai orang lain. Dengan demikian, agresi adalah suatu perilaku yang diwujudkan dalam berbagai bentuk yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai mahluk hidup lain, sementara yang bersangkutan terdorong untuk menghindari perlakuan tersebut.

Agresi sering dikaitkan dengan istilah antisosial dan kekerasan. Antisosial sendiri sering digunakan oleh para peneliti dengan pengertian yang beragam, tetapi intinya adalah perilaku yang merusak hubungan antarpribadi atau yang secara sosial tidak dapat diterima. Antisosial pada kenyataannya tidak selalu berupa agresi. Meludah di sembarangan tempat dan menyontek pada saat ujian berlangsung adalah perilaku antisosial. Tetapi tidak termasuk tindakan agresif. Sementara itu, kekerasan (violence) adalah agresi yang tujuannya benar-benar untuk menyakiti orang lain sampai terluka atau mati. Misalnya, anak kecil yang sedang memperebutkan mainan kemudian salah satunya mendorong temannya hingga terjatuh. Itu adalah tindakan agresi, tetapi belum termasuk dalam kategori kekerasan karena tindakan tersebut tidak dimaksudkan untuk melukai orang lain.

Berbeda dengan kasus ketika seseorang dengan sengaja menggigit, memukul, menikam, atau menembak orang lain. Atau seperti yang sering terjadi pada tawuran antar pelajar, antarkampung yang menimbulkan korban, baik korban luka maupun korban meninggal dunia. Tawuran sudah pasti merupakan tindakan kekerasan. Dengan demikian kekerasan pastilah agresi tetapi agresi belum tentu kekerasan (Baumeister & Bushman, 2008).

    Bush dan Perry (1992) membedakan agresivitas menjadi empat, yaitu agresi fisik, agresi verbal, kemarahan dan permusuhan. Setiap bentuk agresi mewakili ranah yang berbeda. Agresi fisik dan agresi verbal mewakili komponen motorik dalam agresivitas, sedangkan kemarahan dan permusuhan mewakili komponen kognitif dan afektif dalam agresivitas. Agresi fisik (Physical Agression) merupakan bentuk perilaku agresif yang dilakukan dengan cara menyerang fisik dengan tujuan melukai atau membahayakan orang lain. Perilaku agresif ini kasatmata karena ditandai dengan terjadinya kontak fisik antara agresor dan korbannya. Agresi verbal (verbal agression), adalah agresivitas yang dilakukan dengan kata-kata. Seperti umpatan, hinaan, sindiran, fitnah, sarkasme dan ucapan kata kotor dan kasar. Penyerangan dengan kata-kata, meski sering dilakukan di tengah masyarakat, kerap di salah pahami sebagai bukan bentuk agresivitas. Padahal, sebagai suatu bentuk “penyerangan” verbal kepada orang lain yang tidak ingin menerima kata-kata menyakitkan.

Kemarahan (anger), suatu bentuk agresi tidak langsung (indirect aggression) yang berupa perasaan benci kepada orang lain maupun sesuatu hal karena seseorang tidak dapat mencapai tujuannya. Permusuhan (hostility), salah satu komponen kognitif dalam agresivitas yang terdiri atas keinginan untuk menyakiti dan melawan ketidakadilan. Tindakan ini mengeskpresikan kebencian, permusuhan dan antagonisme, ataupun kemarahan yang sangat dalam kepada pihak lain. Permusuhan adalah suatu bentuk agresi yang tergolong ke dalam agresi (agresi yang tidak terlihat) yang mencakup kebencian (cemburu dan iri terhadap orang lain) dan kecurigaan (ketidakpercayaan dan kekhawatiran).    


Teori-Teori Agresivitas
     Pada bagian ini, akan dibahas secara singkat tiga teori agresivitas, yaitu teori bawaan, teori frustrasi-agresi, dan teori pembelajaran sosial. Teori bawaan; menurut teori ini, agresivitas merupakan insting mahluk hidup. Teori ini terbagi kedalam tiga kelompok, yaitu kelompok teori psikoanalisis, teori etologi, dan teori sosiobiologi. Pada teori psikoanalisis, agresi dinyatakan memiliki akar bawaan, berupa naluri atau insting.Menurut Sigmund Freud (penggagas teori ini), agresi adalah satu dari dua naluri dasar manusia. Naluri agresi atau thanatos, yang sering pula disebut sebagai insting kematian, merupakan pasangan dari naluri seksual atau eros, yang sering pula disebut sebagai naluri hidup. Jika naluri seksual diperlukan untuk melanjutkan keturunan, naluri agresi merupakan insting untuk mempertahankan jenis. Dalam tradisi psikoanalisis, kedua naluri ini berada pada tataran ketidaksadaran atau Id.Penulis sering meberi contoh pada mahasiswa bahwa naluri kematian (thanatos) seperti berkendaraan roda dua tanpa menggunakan helm. Kita ketahui bersama bahwa tidak menggunakan helm dapat berbahaya jika terjadi kecelakaan, tetapi kita tidak sadar untuk menggunakan helm, secara tidak langsung kita sedang melaksanakan naluri kematian. Teori etologi; seperti teori psikoanalisis, teori ini juga menekan basis agresi dari sisi genetisnya. Agresivitas pada persepktif ini dipandang sebagai perilaku naluriah yang memiliki nilai pertahanan hidup organisme. Perkelahian diantara anggota spesies bukanlah suatu kejahatan karena fungsi perkelahian tersebut melainkan untuk mempertahankan kehidupan salah satu spesies terhadap gangguan atau ancaman dari spesies lain. Teori sosiobiologi; teori ini meyakini bahwa perilaku agresif berkembang karena adanya kompetisi sosial, yaitu kompetisi yang terjadi karena sumber daya yang terbatas. Dalam perspektif ini, manusia bertindak agresif ketika sumber daya yang penting itu terbatas, ketika mengalami ketidaknyamanan, ketika system sosial tidak berjalan dengan baik, dan ketika ada ancaman dari pihak luar (Dunkin, 1995).

     Teori frustrasi-agresi; berbeda dengan teori sebelumnya, teori ini dikembangkan dan dikoreksi oleh Berkowitz menurut teori ini agresivitas itu lebih ditentukan oleh kondisi-kondisi eksternal, yang kemudian dikenal dengan istilah frustrasi. Frustrasi nantinya akan menimbulkan motivasi yang kuat untuk bertindak agresif. Misalnya, sopir angkot yang mengemudikan mobilnya secara tergesa-gesa untuk mengejar setoran akan merasa frustrasi jika jalanan macet, terlebih jika ada pengendara lain yang tiba-tiba memotong jalurnya. Kemarahan sopir angkot ini dapat berubah menjadi tindakan agresif jika intensitasnya sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Teori pembelajaran sosial; Teori ini dipelopori oleh Albert Bandura. Dalam teori ini, agresivitas dapat dipelajari melalui dua cara, yaitu pembelajaran instrumental dan observasional. Pembelajaran instrumental terjadi jika suatu perilaku diberi penguat atau hadiah (reward), perilaku tersebut cenderung akan diulang pada waktu yang lain. Sementara itu pembelajaran observasional terjadi jika seseorang mempelajari perilaku baru melalui observasi atau pengamatan kepada orang lain yang disebut model (Bandura & Walters, 1959). Teori ini berevolusi dari operant conditioning. Perilaku kita dapat terbentuk hanya dengan mengamati perilaku orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung (lewat media visual). Misalnya, pada media televisi, film berada dengan kekerasan, video games terdapat  tontonan smack down yang berbahaya bagi anak-anak, setelah menonton tayangan tersebut anak-anak terpengaruh untuk mengikuti model smack down tersebut sehingga terbawa-bawa pada perkelahian. Demikian ulasan tentang agresivitas, Semoga ulasan yang singkat ini bermanfaat dan menjadi bahan pembelajaran bersama. (tr-04)
    

Share

E-Paper

Berita Populer

Dahlan Iskan